Nihil Listrik, Guru Sulap Alam Jadi Bahan Ajar

    Muhammad Syahrul Ramadhan - 25 November 2019 11:11 WIB
    Nihil Listrik, Guru Sulap Alam Jadi Bahan Ajar
    Wanti Sila Sakti, Guru di SDN 34 Borang Kabupaten Sanggau, Kapuas, Kalimantan Barat. Foto: Dok. Pribadi
    Jakarta:  Lepas subuh setiap paginya, Wanti Sila Sakti, 35 tahun sudah memacu roda duanya.  Menempuh 40 kilometer perjalanan tanpa aspal, masih dilanjut menyambung sampan, menyebrangi sungai Sekayam, anak sungai Kapuas menuju tempat pengabdiannya di SDN 34 Borang Kabupaten Sanggau, Kapuas, Kalimantan Barat. 

    Beruntung jika didukung cuaca cerah saja, namun jika hujan turun pun Wanti pantang bolos, perjalanan yang tak ringan itu pun tetap dijalaninya.  Semua dilakukannya demi mencerdaskan anak-anak bangsa di Sanggau.

    Namun Wanti yang hanya manusia biasa itu mengaku, sempat patah semangat, mengeluh ketika awal Surat Keputusan (SK) penugasan ke SDN 34 Borang turun.  Sulitnya akses menuju tempatnya mengajar membuat semangatnya menciut, tak tahan.

    Belum lagi tuntutan jam masuk kelas di pukul 07.00 WIB membuatnya harus berkejaran dengan waktu dan jadwal berangkat sampan setiap harinya. “Naik motor kalau bagus-bagusnya enggak hujan dari malam. Susahnya ketika hujan,” ucap Wanti kepada Medcom.id, Minggu, 24 November 2019.

    Bukan hanya sekali, ia terpaksa menginap di rumah-rumah warga  berbilang-bilang kali ketimbang harus pulang malam setelah memberi pelajaran tambahan.  “Sempat awal-awal menginap di kampung, bahkan sempat menumpang d Pondok Bersalin Desa (Polindes),” ujarnya.

    Saat akan menyebrang, Wanti selalu ditunggu murid-muridnya untuk bersama-sama naik sampan. Meski begitu ia juga pernah ketinggalan sampan, karena akses jalan sedang jelek.

    Wanti pun terpaksa memilih jalan hutan yang hanya bisa ditempuh dengan jalan kaki untuk dapat tetap ke sekolah.  “Pernah telat, akhirnya ditinggal (sampan). Ada jalan hutan, sekitar satu kilometer sampai.  Sampai dekat sekolah ada jalan turun yang curam, baru teriak-teriak panggil murid, untuk jemput perahu, tetap pakai perahu,” tuturnya.

    “Itu kadang anak-anak mendayung, saya ikut-ikutan mendayung, tetapi anak-anak menegur, biar saya saja agar enak kemudinya,” imbuh Wanti.

    Nihil Listrik, Guru Sulap Alam Jadi Bahan Ajar
    Wanti Sila Sakti bersama muridnya di SDN 34 Borang Kabupaten Sanggau, Kapuas, Kalimantan Barat. Foto: Dok. Pribadi

    Lebih lagi lulusan PGSD Universitas Tanjungpura, Pontianak ini juga pernah harus berangkat berbarengan dengan pekerja pabrik kayu menumpang tronton agar bisa menyeberang ke sekolah yang jarak tempuhnya lebih jauh. Sehinga baru bisa berangkat pukul 10.30 WIB.

    Meski dengan kondisi seperti itu Wanti yang sekarang menjadi guru kelas IV ini tetap mendapatkan dukungan keluarga.  Sempat diminta sang suami untuk pindah bekerja, namun ia tetap bersikukuh, karena menurutnya masih ada pekerjaan rumah yang harus diselesaikan agar anak didiknya menjadi lebih cerdas.

    “Saya berpikir apa yang sudah saya berikan untuk daerah tersebut belum maksimal. Belum memberikan kontribusi walaupun ada orang bilang bukan dari daerah situ kok mati-matian. Saya coba kasih pengertian ke suami,” terang perempuan 35 tahun ini.

    Selain keterbatasan akses ke sekolah, Wanti juga mengalami keterbatasan akses internet karena tidak ada sumber listrik di tempatnya mengajar untuk mencari bahan-bahan pembelajaran. Itu sempat membuatnya terpaku mengajar dengan cara konvensional, mengacu hanya pada buku.

    Namun akhirnya ia tergerak untuk membuat perubahan, dengan metode pengajaran yang berbeda yang didapatnya dari program Guru Belajar.  “2015 kenal pak Usman (Ketua Guru Belajar), lalu 2016 ikut kelas guru belajar sehingga terinspirasi, tidak melulu kegiatan pembelajaran perlu bantuan teknologi. Tapi bisa dari alam, metode ini sangat menarik mengingat selama ini cara mengajar kami konvensional, sekarang terbuka coba berbagai macam metode memanfaatkan alam,” ujar Wanti.

    Salah satu media belajar yang kerap ia gunakan adalah akar rumput saat akan mengajarkan bilangan besar.  Ia menggunakan akar rumput dengan ruas-ruasnya untuk meghitung pembanding pecahan.

    Selain itu, ia juga sering mengajak muridnya ke hutan di sekitar sekolah untuk mengajarkan tentang materi perkembangan makhluk hidup.  “Bawa anak-anak menganalisis pakis dan anggrek saya ajak melihat pertumbuhannya. Saya bawa artikel dari rumah untuk perbandingan keadaan di hutan dan di kota.  Beberapa artikel ciri khusus pertumbuhan profil, cerita tanaman anggrek diburu, di sini masih terjaga dan melestarikan,” terangnya.

    Ia pun menuturkan, di tengah keterbatasannya kerap kali ia menemukan hal penting bahwa kesuksesan belajar tak melulu bertumpu pada kelengkapan fasilitas belajar maupun media pembelajaran yang canggih.  Memiliki tekad dan semangat untuk menyelesaikan masalah yang ada mengajar baginya jauh lebih penting.

    Hal tersebut, kata Wanti, akan membuat anak-anak suka sekolah, rindu bersekolah.  “Karena pengalaman saya sendiri, Pendidikan itu untuk menyukseskan.  Patokannya bukan hanya itu (kelengkapan sarana prasarana dan media pembelajaran) tetapi dari diri sendiri punya tekad semangat.  Bahwa dalam kondisi apapun kita harus bisa menyelesaikan tugas kita, insya allah punya penyelesaianan masalah yang ada," terangnya.

    Menurut Wanti, kehadiran guru di daerah terpencil sangat diharapkan.  "Jadi ada hal yang membuat kita rindu kembali ke sana, anak-anak memang membutuhkan. Harus kita bangun, membangun hubungan dengan mereka supaya yang mereka butuhkan bisa kita penuhi,” tutup Wanti.



    (CEU)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    HOT ISSUE

    MORE
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id