comscore

Cerita Sri Mulyani yang Tidak Pernah Juara Kelas Sejak SD

Citra Larasati - 12 April 2022 14:04 WIB
Cerita Sri Mulyani yang Tidak Pernah Juara Kelas Sejak SD
Menteri Keuangan, Sri Mulyani. Foto: Dok. Zoom
Jakarta:  Berbagai tantangan, hambatan, dan bahkan kegagalan pasti dihadapi dalam jalan menuju impian. Salah satu kunci mengatasinya adalah dengan membentuk resiliensi yang dimulai dari formasi awal kehidupan seseorang.

Hal ini disampaikan Menteri Keuangan, Sri Mulyani saat membagikan pengalamannya dalam sesi Webinar Program Mentoring Future Star Corps bertajuk “Fall Seven, Rise Eight: Membangun Ketangguhan Mental Agar Konsisten Berprestasi" yang digelar Almamater Center Ikatan Alumni Universitas Indonesia (ILUNI UI) melalui Zoom, dikutip dari keterangan tertulis, Selasa, 12 April 2022.
Dalam sesi Mentoring Future Star Corps, Sri Mulyani bercerita, dukungan keluarga menjadi modal penting yang membentuk pola pikirnya saat ini.

“Di sekolah kita kompetitif. Kakak saya juara, tapi saya dari SD tidak pernah juara kelas. Pada saat itu saya mungkin bisa jadi orang paling minder. Orang tua saya sangat memahami anak yang belum juara itu bukan anak yang gagal. Itu masa-masa kritikal dalam formasi kita. Jadi saya tetap merasa oke-oke aja meski enggak juara kelas,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Sri Mulyani menerangkan, sikap pertama dalam menghadapi kegagalan menjadi sangat penting. Merasa kecewa dan sedih itu wajar. Namun, jangan sampai menyiksa diri dengan berlarut-larut dan membodoh-bodohi diri sendiri. 

Menurutnya lagi, dalam hidup ada hal-hal yang bisa kita kontrol dan ada yang tak bisa kita kontrol. “Kalau bisa dikontrol, kita berbuat yang terbaik, mikir, minta advice sama orang lain,” kata Sri Mulyani.

Sri Mulyani pun berkata, ada kalanya kegagalan menjadi suatu keberkahan. “Kadang kegagalan itu menjadi blessing. Perspektif memberikan wisdom. Yang tadinya kita anggap gagal, memalukan, ternyata itu adalah jalan keluar,” ucapnya.

Profesional Coach, Co-Founder Kubik Coaching Ferlita Sari menjelaskan, untuk dapat bangkit dari keterpurukan harus menyadari bahwa kegagalan bisa dialami siapa saja.  Ada tiga cara pandang tidak sehat yang membuat kita jadi sulit untuk bangkit.

Pertama bagaimana kita memandang diri kita, kedua bagaimana memandang orang lain, ketiga bagaimana memandang dunia.  Dia pun membagikan empat pola pikir yang dimiliki oleh orang yang memiliki resiliensi. Menurut Ferlita, orang yang memiliki resiliensi meyakini kesulitan bisa menimpa siapa saja.

Selain itu, mereka juga meyakini, di dunia tidak ada yang abadi, termasuk kegagalan dan kesulitan hidup. Mereka juga fokus pada apa saja yang bisa diubah. Lalu, mereka percaya bahwa dukungan selalu ada. Jika tidak melalui keluarga, ada teman, atau bahkan bisa mencari melalui dukungan profesional.

“Modal resilient sudah diberikan Tuhan kepada kita. Pada saat masih kecil, jatuh ya bangun lagi, enggak ada masalah. Jatuh dua kali, bangun tiga kali. Jatuh tujuh kali, bangun delapan kali,” tutur Ferlita.  

Sementara itu, Ketua Umum ILUNI UI Andre Rahadian mengatakan, generasi muda sebagai pemimpin bangsa pada 2045 harus memiliki resiliensi. Hal ini disebabkan begitu banyaknya tantangan yang dihadapi dengan adanya kondisi Volatility, Uncertainty, Complexity, dan Ambiguity (VUCA) akibat pandemi. 

Untuk itu, sebagai bagian dari kaderisasi Almamater Center ILUNI UI, Future Star Corps kembali diadakan. Future Star Corps merupakan program seminar, coaching, dan mentoring yang dilaksanakan oleh Departemen Alumni Mentorship di bawah Almamater Center ILUNI UI untuk mahasiswa tingkat akhir dan alumni muda.

Kegiatan ini menurut Andre juga menjadi upaya untuk membangun semangat mentorship dan dialog dari alumni muda dan senior.  “FSC ini memberi soft skills karena kita melihat EQ menjadi sangat penting. Emosional, ketangguhan, dan ketahanan mental jadi berperan dalam menentukan sukses atau tidak dalam menghadapi tantangan-tantangan yang ada,” ujarnya. 

Menambahkan Andre, Ketua Departemen Alumni Mentorship Almamater Center Hesti Nur Lestari menjelaskan, tema resiliensi dipilih dalam kegiatan kali ini karena sejalan dengan adanya peringatan Hari Kartini. Sosok Kartini dipandang sebagai sosok yang memiliki semangat untuk bangkit kembali walau menghadapi tantangan, serta selalu melihat peluang yang ada untuk meraih impian.

“Ini tahun terakhir FSC di tahun ketiga ILUNI. Kita ingin meninggalkan kesan bahwa berjuang meraih impian itu banyak hambatannya. Tapi yang penting bagaimana kita konsisten menghadapi setiap tantangan. Kalau jatuh bangkit lagi, kalau jatuh tujuh kali, bangkit delapan kali,” tutupnya. 

Baca juga: Resmi, Ini Jadwal Pendaftaran SIMAK UI 2022: S1 Reguler, Kelas Internasional, Paralel, dan Vokasi

Dalam acara tersebut, diselenggarakan juga kegiatan coaching bersama para fasilitator dan coach dari Tribe Points of You Indonesia. Pada sesi coaching intensif selama dua jam, peserta mendapatkan kesempatan untuk mengeksplorasi diri lebih dalam dan menemukan  insight yang dapat membangun semangat diri. 


(CEU)

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

 

 

 

Komentar

LOADING
Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

  1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
  2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
  3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
  4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

Anda Selesai.

Powered by Medcom.id