comscore

Pecahkan Masalah yang Mustahil, Dosen ITS Ini Terpilih Sebagai Finalis European Inventor Award 2022

Renatha Swasty - 23 Mei 2022 09:22 WIB
Pecahkan Masalah yang Mustahil, Dosen ITS Ini Terpilih Sebagai Finalis European Inventor Award 2022
Dosen sekaligus ilmuwan dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Fahmi Mubarok. DOK ITS
Jakarta: Dosen sekaligus ilmuwan dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Fahmi Mubarok dinominasikan dalam Innovation Prize European Patent Office (EPO) di European Inventor Award 2022. Fahmi dan ahli kimia serta insinyur asal Spanyol, Nuria Espallargas, menjadi berkat temuan keduanya yang berjudul Pelapis Keramik Semprot Termal untuk Memperpanjang Umur Produk.

European Inventor Award merupakan salah satu penghargaan inovasi paling bergengsi di Eropa yang menganugerahkan penghargaan untuk empat kategori, yakni industri, riset, Usaha Kecil dan Menengah (UKM), serta negara Non-EPO. European Inventors Award dianggap sebagai penghargaan paling bergengsi kedua setelah Nobel Award di kalangan peneliti di Eropa. Finalis dan pemenang penghargaan ini nantinya dipilih oleh juri independen yang terdiri dari mantan finalis award. 
Fahmi dan Espallargas bersama-sama dinobatkan sebagai salah satu dari empat finalis dalam kategori SMEs atau UKM. Kategori tersebut ditujukan bagi penemu luar biasa di perusahaan kecil dengan jumlah karyawan kurang dari 250 dan omzet tahunan kurang dari 50 juta Euro. Pemenang penghargaan ini selanjutnya akan diumumkan dalam upacara virtual pada 21 Juni 2022.

Fahmi dan Espallargas juga masuk dalam kategori ilmuwan favorit atau Popular Prize. Di kategori ini, ilmuwan bersaing berdasarkan jumlah voting terbanyak secara online. 

“Voting ini dapat pembaca akses melalui website popular-prize.epo.org,” tutur Fahmi dalam keterangan tertulis, Senin, 23 Mei 2022. 

Fahmi yang kini aktif menjadi associate professor di Departemen Teknik Mesin ITS menjelaskan temuan mereka dirancang khusus untuk memperpanjang masa pakai komponen dan melindungi dari keausan dan paparan bahan kimia. “Inovasi ini diharapkan dapat dimanfaatkan pertama kali oleh industri mobil, rem truk atau kereta api, serta manufaktur kaca,” papar dia. 

Proyek selanjutnya akan direncanakan bersama dengan Badan Antariksa Eropa dan terfokus pada pengujian ketahanan lapisan dalam menahan abrasi dari pasir di bulan dan planet Mars. “Melalui inovasi ini, Fahmi dan Espallargas telah memecahkan masalah yang diyakini banyak orang tidak mungkin bisa dilakukan," kata Presiden EPO António Campinos saat mengumumkan finalis European Inventor Award 2022. 

Fahmi mengungkapkan ide di balik penemuan ini bermula dari studi doktoralnya yang dibimbing Espallargas. Espallargas yang saat ini menjadi profesor di Norwegian University of Science and Technology (NTNU) tertarik pada beberapa jenis pelapis keramik, terutama golongan karbida dan nitride yang memiliki bobot ringan dan ketahanan temperatur tinggi. 

Fahmi menjelaskan silikon karbida merupakan material unggul dengan kekerasan mendekati intan dan tahan terhadap temperatur tinggi. Namun, material ini tidak memiliki temperatur leleh sehingga langsung tersublimasi menjadi gas dari fasa padat. 

Akibatnya, teknik thermal spraying sulit diaplikasikan untuk membentuk silikon karbida coating. Fahmi menuturkan pelapis keramik ini sangat diminati industri. 

Namun, teknik yang tersedia mengharuskan proses dilakukan pada kondisi vakum. Hal tersebut akhirnya menjadi pemicu agar jenis pelapis keramik dapat diproses pada kondisi atmosfer dengan teknik semprot termal, di mana bahan dipanaskan hingga suhu lebih dari 2.500 derajat celcius dalam waktu singkat dan diarahkan pada benda kerja yang akan dilapisi pistol semprot termal.

Penyemprotan termal ini dinilai jauh lebih murah dibandingkan dengan menggunakan kondisi vakum, serta mampu menjangkau objek yang lebih luas untuk dilapisi. Sebelumnya, praktik tersebut dianggap mustahil karena keramik lebih cenderung menguap ketika dipanaskan dengan suhu tinggi. 

Keterbatasan dalam penelitian sebelumnya inilah yang kemudian memotivasi Espallargas untuk menemukan solusi. Espallargas akhirnya menggandeng Fahmi pada 2010 yang tengah menyelesaikan pendidikan doktoralnya untuk merampungkan penelitian ini. 

“Saya berperan dalam meneliti bagaimana silikon karbida–keramik yang merupakan material sintetis paling keras dapat disemprotkan secara termal,” beber dia. 

Setelah berulang kali percobaan dan sempat mengalami kegagalan, momentum eureka mereka terjadi usai diskusi bersama sejumlah kolega. Fahmi akhirnya menyadari partikel silikon karbida harus dilindungi dengan sesuatu dari paparan suhu yang tinggi. 

“Selain itu, saya juga berpikir bahwa benda tersebut harus dapat mengikat silikon karbida pada saat yang sama,” jelas Fahmi.

Konsep ini, kata Fahmi, sebenarnya sudah ada di pasaran. Namun, belum ada yang menggunakan untuk keramik tanpa titik leleh. 

Fahmi dan Espallargas memutuskan menggunakan yttrium aluminium garnet. Yaitu, sejenis oksida yang tahan terhadap suhu ekstrem untuk melapisi partikel silikon karbida. 

“Pada 2012, kami berhasil menciptakan bubuk silikon karbida yang dapat disemprotkan secara termal dan menghasilkan lapisan keramik tahan lama,” ungkap Fahmi.

Setelah mengajukan hak paten pada 2012 dengan bantuan biro transfer teknologi di universitas mereka, Fahmi dan Espallargas mendirikan Seram Coatings pada 2014 untuk mengkomersialkan material komposit yang selanjutnya disebut dengan ThermaSiC. Paten itu baru diberikan pada 2018 dan dinilai penting bagi keduanya untuk mendapatkan investasi.

Sejak 2017, kata Fahmi, perusahaan telah memproduksi ThermaSic dalam jumlah terbatas dan mengujinya di lapangan dengan klien potensial. Saat ini, produk tersebut siap diindustrialisasi dan diperkirakan dapat masuk pasar produk terbesar, seperti Amerika Serikat, Jepang, dan Uni Eropa. 

Hingga saat ini, Seram Coatings telah menginvestasikan hampir 1 juta Euro untuk membangun fasilitas semprotan termal mereka sendiri yang memudahkan dalam membuat dan menguji pelapis untuk klien di lokasi, tanpa perlu menggunakan fasilitas yang disewa dari pihak ketiga. 

“Tim riset dan pengembangan kami akan terus melakukan penelitian untuk menciptakan versi baru dari ThermaSiC dan produk baru dengan tujuan memasuki pasar baru,” ujar dia.

Fahmi menyebut dalam 8-10 tahun ke depan, Seram Coatings melihat potensi untuk menjual 225.000 kilogram ThermaSiC per tahun. Hal ini berarti mencakup sekitar 2,9 persen pasar global untuk keramik bahan baku yang digunakan dalam lapisan semprot termal. 

“Saya berharap ThermaSiC dan pengembangan produk baru dari keramik ini dapat benar memberi manfaat luas bagi semua kalangan, sehingga mempercepat proses perkembangan teknologi maju di masa depan,“ tutur Fahmi.

Baca: Dosen ITS Finalis European Inventor Award 2022, Temuannya Akan Diujicobakan di  Mars
 

(REN)

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

 

 

 

Komentar

LOADING
Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

  1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
  2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
  3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
  4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

Anda Selesai.

Powered by Medcom.id