Kapal Perang Canggih ITS, Bisa Menyelam dan 'Melayang'

    Ilham Pratama Putra - 25 Februari 2020 10:11 WIB
    Kapal Perang Canggih ITS, Bisa Menyelam dan 'Melayang'
    Kapal perang The Croc karya dosen Teknik Kelautan ITS, Wisnu Wardhana. Foto: ITS/Dok. Humas
    Jakarta:  Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Surabaya bakal merampungkan pembuatan kapal perang canggih bernama The Croc pada tahun ini. The Croc merupakan kapal perang canggih yang dapat berubah menjadi tiga mode sekaligus.

    Tiga mode tersebut adalah kapal selam, kapal hidrofoil, dan kapal biasa pada umumnya. Kapal perang ini sejatinya telah dirancang sejak 2011 lalu.

    Perancang The Croc, Wisnu Wardhana menyebutkan, proses pembuatan kapal tersebut sudah mencapai 90 persen.  Kapal yang dilengkapi dengan dua mesin 350 tenaga kuda itu memiliki ukuran cukup ramping.

    "Panjangnya 12 meter dan lebarnya hanya tiga meter," kata Wisnu dikutip dari laman ITS, Kamis, 20 Februari 2020.

    Dengan kemampuan berubah dalam tiga mode, kapal ini menjadi spesial.  Sebab, kata Wisnu rancangannya merupakan yang tercanggih sepanjang masa.

    “Tentu hal tersebut sukses menjadi temuan baru pada dunia perkapalan internasional,” ujar dosen Teknik Kelautan itu.

    Untuk mode kapal hidrofoil sendiri, Wisnu menyebut kapal akan memiliki bagian seperti sayap yang dipasangkan pada penyangga di bawah lambung kapal. Ketika kapal meningkatkan kecepatannya, kapal hidrofoil dapat menimbulkan gaya angkat yang menjadikan lambungnya terangkat dan keluar dari air.

    “Sehingga kapal terlihat seperti melayang,” imbuhnya.

    Berbahan dari aluminium, papar Wisnu, kapal tersebut telah dirancang memiliki bobot yang cukup ringan. Agar kapal bisa melayang.

    "Sedangkan sayapnya sendiri terbuat dari baja karbon," tambah Wisnu.

    Ketika digunakan sebagai kapal selam, air dimasukkan ke dalam kapal untuk menurunkan posisi kapal tersebut. “Kedalamannya pun bisa mencapai sepuluh meter,” ungkapnya.

    Ketika menyelam, lanjut Wisnu, kecepatan kapal bisa mencapai 15 knot. Sedangkan dalam mode hidrofoil, kecepatannya bisa mencapai 35 sampai 45 knot.

    Wisnu mengungkapkan, bahwa kapal ini cocok digunakan sebagai kapal pengintai.  Kapal model ini bisa dipakai untuk menangkap para pencuri ikan di perairan Indonesia.

    Alasannya, kata Wisnu, kapal pencuri ikan tidak akan mengetahui kedatangan dari kapal perang ini ketika dalam mode selam. Sehingga pencuri ikan tersebut tidak akan kabur ketika The Croc ini datang.

    Dalam proses pembuatannya, Wisnu juga bekerja sama dengan Tentara Nasional Indonesia – Angkatan Laut (TNI-AL), Kementerian Riset dan Teknologi (Kemenristek), dan beberapa pihak lainnya. Harapannya, kapal perang buatan dalam negeri ini bisa membantu dalam menjaga pertahanan dan keamanan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

    "Seperti adanya penyeludupan atau pencurian yang kerap terjadi di perairan Indonesia," pungkas Wisnu.



    (CEU)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    HOT ISSUE

    MORE
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id