Digawangi Milenial, Gerakan Literasi Berdaya Tular Tinggi

    Intan Yunelia - 14 Januari 2020 21:05 WIB
    Digawangi Milenial, Gerakan Literasi Berdaya Tular Tinggi
    Salah satu gerakan literasi yang digawangi anak muda, dengan membuat perpustakaan mini di Puskesmas. Foto: Istimewa
    Jakarta:  Inisitif sejumlah anak muda dalam aksi gerakan literasi diyakini dapat menjadi mesin penggerak literasi secara nasional.  Tidak hanya itu, efektivitas gerakan literasi yang dimotori milenial itu diyakini memiliki efek menular yang tinggi.

    Gerakan-gerakan sosial yang dilakukan kaum muda dipercaya mampu memberi pengaruh tidak hanya untuk masyarakat sebayanya, melainkan juga untuk orang-orang yang berusia di atasnya. Termasuk untuk urusan literasi, banyaknya gerakan literasi yang dilakukan oleh anak-anak muda memiliki efek domino yang luas.

    “Itu membanggakan, membahagiakan, membangkitkan optimisme bahwa tidak hanya menggerakan kepada sesama anak muda, tetapi juga orang tua,” kata Pegiat Literasi, Maman Suherman, dalam siaran pers yang diterima di Jakarta, Selasa, 14 Januari 2019.

    Pria yang akrab disapa Kang Maman ini tidak menampik, banyak gerakan literasi yang digawangi anak muda saat ini masih dalam skala kecil.  Namun ia meyakini, bukan berarti gerakan tersebut tidak berpengaruh.

    Baginya, penyebaran virus literasi justru ada pada kolaborasi yang menjadi kuncinya.  Kemampuan berkolaborasi inilah yang banyak dimiliki oleh milenial.

    “Anak muda tahu bagaimana cara membuat yang kecil menjadi besar dengan cara berkolaborasi. Kata kunci di era disrupsi ini adalah kolaborasi. Kalau mereka mampu berkomunikasi dengan baik, mampu berkolaborasi, tetap mampu berpikir kritis, gerakan ini bakal menjadi besar,” tutur Maman. 

    Ia pun mengingatkan, tingkat literasi tidak melulu hanya mengarah pada persoalan baca dan tulis.  Lebih dari itu, kata kunci dari keliterasian itu justru ada pada bagaimana mengajak orang untuk bergerak bersama dan saling memberdayakan. 

    Menyasar Puskesmas

    Michelle Setiawan, salah satu pegiat literasi menjadi salah satu anak muda yang mencoba memupuk gerakan literasi dengan cara yang cukup unik.  Biasanya gerakan literasi menyasar tempat-tempat seperti sekolah, namun pelajar berusia 16 tahun justru memilih Puskesmas sebagai wadah untuk ia menyalurkan buku-buku yang hendak diberikannya.

    Ia mulai melakukan gerakan literasi sejak setahun lalu.  Aksi sosial yang dilakukannya ini tak lain berangkat dari keprihatinannya terhadapa kondisi Indeks Literasi Indonesia yang masih rendah. “Saya tahu, indeks baca Indonesia itu enggak tinggi. Padahal aku pikir, orang harus banyak baca buku untuk meyelesaikan masalahnya,” kata Michelle.

    Kondisi literasi di Indonesia memang memprihatinkan, Berdasarkan Survei World Culture Index pada tahun 2018 kemarin, tingkat literasi dan membaca Indonesia hanya berada di posisi buncit, ranking 60 dari 61 negara. 

    Di sisi lain, ia menyadari kesukaan membaca dapat memberikan pola pikir yang lebih baik bagi tiap orang, sehingga memiliki opsi lebih banyak untuk menyelesaikan beragam masalah. Michelle sendiri termasuk orang yang hobi membaca.

    Jika libur sekolah, ia bahkan bisa menghabiskan 10 buku untuk dibaca hanya dalam waktu sebulan.  “Kalau aku sedang sekolah, paling cuma empat buku, tapi kalau ketika libur bisa sampai 10 buku,” imbuhnya. 

    Michelle membuat perpustakaan mini di Puskesmas dari hasil keringatnya sendiri.  Uang untuk membeli buku dan raknya ia dapatkan dari bekerja sampingan dari membuat konten di media sosial.

    Saat ini, sudah beberapa puskesmas di Jakarta Selatan yang mendapat sumbangan buku dari Michelle. Di antaranya adalah Puskesmas Pulo dan Puskesmas Kebayoran Baru.  Michelle berharap bisa memberi sumbangan buku ke seluruh Puskesmas yang ada di Jakarta.

    “Sekarang kami masih cari-cari Puskesmas yang lain,” ungkapnya

    Pemilihan tempat yang cukup unik didasarkan pada pengalamannya.  Ia mengungkapkan, saat menunggu berobat di rumah sakit kerap membuatnya cukup panik.

    Membaca buku, kata Michelle, bisa mengalihkan ketakutan tersebut.  Beranjak dari pengalaman itu, ia berharap anak-anak kecil yang berobat ke Puskesmas juga bisa merasakan ketenangan sebelum berobat dengan dibacakan buku oleh orang tuanya.

    “Puskemas kan banyak anak-anak kecil. Ibu dan ayahnya bisa cerita ke anak-anak kecil. Itu juga bisa jadi family bonding,” ujarnya lagi. 

    Hotel Prodeo

    Pemilihan tempat yang cukup unik untuk menjalankan aksi literasi dilakukan pula oleh Mila Muzakkar.  Berbeda dengan Michelle, Mila memilih membuat Generasi Literat dengan menyasar peningkatan literasi untuk anak-anak yang masih mendekam di penjara. 

    Tidak sekadar memberi bahan bacaan kepada anak-anak yang ada di hotel prodeo, Mila bersama para relawan lainnya di Generasi Literat mengajak anak-anak tersebut memahami apa yang tertuang dalam bacaan mereka dengan cara yang kreatif.

    Gerakan ini ia namakan sebagai Gerakan Literasi Damai.  Diharapkan dengan memahami bacaan, anak-anak tersebut dapat mengambil nilai positif yang bisa memberdayakan dan membentuk kepribadian yang lebih baik.

    Untuk tujuan itulah, Mila sangat selektif dalam memberikan bacaan bagi anak-anak. “Baca buku dengan cara santai, tiduran oke, selonjoran oke. Kita juga sediakan camilan.  Suasana yang kita bangun proses belajar yang menyenangkan,” ujarnya. 

    Dalam mengusung Gerakan Literasi Damai, Generasi Literasi yang sudah ia bangun sejak tahun 2017 itu bahkan membuat kurikulum untuk jangka waktu tiga bulan. Tujuannya agar nilai-nilai kebangsaan yang hendak ditanamkan bisa benar-benar meresap kepada peserta.

    "Gerakan Literasi Damai sudah mencapai empat angkatan," sebutnya.

    Peneliti Center for Indonesia Policy Studies (CIPS), Nadia Fairuza Azzahra mengatakan, orang-orang yang rajin membaca dan pada akhirnya membuat gerakan biasanya memiliki lingkungan yang memang gemar membaca. Dari lingkungan tersebut, ia menjadi mengetahui bagaimana menyenangkannya membaca buku. 

    “Orang-orang itu sudah memiliki akses untuk bisa membaca berbagai macam bacaan dari kecil. Dia sudah mengetahui bagaimana menyenangkannya membaca buku,” ucapnya.

    Ia pun mengapresiasi anak-anak muda yang memang gemar membaca dan akhirnya membuat gerakan literasi. Kemudian gerakan tersebut bisa mendistribusikan bahan bacaan untuk orang-orang yang memang belum memiliki akses baca yang mumpuni.



    (CEU)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    HOT ISSUE

    MORE
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id