Swedia, Pilihan Tepat Studi di Eropa Sambil Ajak Keluarga

    Ilham Pratama Putra - 09 Agustus 2020 10:00 WIB
    Swedia, Pilihan Tepat Studi di Eropa Sambil Ajak Keluarga
    dr. Winner Ng, mahasiswa asal Indonesia yang mengambil S2 di program studi Health Informatics, Stockholm University. Foto: Instagram Ehef
    Jakarta:  dr. Winner Ng, mahasiswa asal Indonesia yang mengambil S2 di program studi Health Informatics, Stockholm University menjatuhkan pilihan studinya ke Swedia.  Tak hanya karena alasan akademis semata, namun juga pertimbangan lain, yakni dapat dengan nyaman membawa serta keluarganya untuk hijrah ke negara di eropa utara itu.

    Memboyong istri dan dua anaknya menjadi pertimbangan emosional hubungan keluarga. Namun jauh dari itu, alasan itu pula lah yang membawa pilihannya jatuh kepada Swedia, terutama terkait jaminan kualitas hidup untuk keluarganya di negara tersebut.

    "Dua pertimbangan lain, pertama kualitas hidup, kedua jurusan health informatic ini belum ada di Indonesia. Dan Swedia, khususnya tempat saya kuliah di Stockholm University merupakan top five dari jurusan Medical Health," ujar Winner dalam Live Instagram ehef.id, Jumat 7 Agustus 2020.

    Jika bicara biaya hidup, Winner mengaku, Swedia dan Indonesia tidak jauh berbeda. Hal ini disebabkan, pendidikan dan kesehatan di negara tersebut telah ditanggung oleh pemerintah setempat.

    "Setelah Saya pelajari, ada beberapa kelebihan, yaitu pendidikan dan kesehatan untuk anak. Gampangnya untuk pendidikan dan kesehatan anak gratis di sini. Walaupun tujuan Saya ke sini studi, mereka memberikan kesempatan itu ketika Saya membawa keluarga," lanjutnya.

    Namun Winner mengingatkan, jika membawa keluarga tentu harus memiliki jaminan keuangan berupa saldo mengendap di rekening yang lebih besar. Saat membuat visa, anak dan istri juga harus memiliki tabungan sebagai jaminan hidup di Swedia.

    Winner sendiri karena menjalani studi selama dua tahun, dimintakan jaminan sebesar 8.500 Krona Swedia atau setara dengan Rp102 juta per satu tahun. Sementara isteri 3.500 Krona Swedia dan anak 2.000 Krona Swedia.

    "Nah kemudian, saat bersama suami, si suami juga harus menjamin kehidupan istri dan anaknya. Ya sebenarnya itu jaminan tabungan tidak akan habis sebanyak itu dalam satu tahun. Kalau kita bisa berhemat, belanja di supermarket yang murah dan masak sendiri," terangnya.

    Kemudian, lulusan Fakultas Kedokteran di Indonesia ini menjelaskan, jika dirinya juga cukup mudah mendapat tempat tinggal di Swedia. Selain dari pihak universitas, pemerintah setempat juga memfasilitasi para pendatang untuk mendapatkan tempat tinggal dengan sangat baik.

    "Dari universitas itu sudah ada pilihan untuk housing. Termasuk housing jika bawa keluarga. Tapi tentu tidak bisa yang langsung bagus, karena kita harus mengantre. Tapi sudah pasti dapat. Nah nanti ketika mau pindah itu bisa dengan menunggu antrean," lanjut Winner.

    Winner menjelaskan, jika hidup di Swedia tidak wajib berbahasa Swedia. Terlebih jika program studi yang dipilih, ataupun pekerjaan yang diambil bukan berhubungan dengan pelayanan publik.

    Menurutnya, bahasa bukan menjadi kendala hidup di Swedia. Meski begitu, pemerintah setempat tetap menyediakan kursus bahasa secara gratis yang tersebar di setiap kecamatan.

    Hal ini menjadi kemudahan tersendiri bagi Winner saat berkuliah. Terkait perjalanan kuliahnya Winner tak bercerita banyak.

    Dia hanya memberi gambaran seperti apa sistem perkuliahan di dua tempat ia berkuliah, yakni Stockholm University, dan Karolinska Institut.

    Baca juga:  Berawal dari Ide Celetukan, Alumnus ITB Kini Jadi Bos eFishery

    "Yang menantang itu di Indonesia saat Saya di fakultas kedokteran itu seringnya disuapin. Kalau di Swedia banyak kelompok kerja dan diskusi, jadi kita yang menentukan seberapa dalam kita mau belajar. Nah penilaian di sini menggunakan model pass atau fail. Jadi memang motivasi belajar kita untuk lulus itu ditekankan," ujarnya.

    Bagi Winner sendiri, lulus dari Fakultas Kedokteran tak melulu menjadi dokter. Bagi dia Health Informatic yang ditekuninya secara paralel ini, menjadikan keilmuan kesehatannya menjadi sangat bermanfaat.

    "Jadi kita itu butuh orang yang memiliki rekam jejak pasien sekaligus mengerti diagnosa penyakitnya. Di sini saya belajar itu, dan ini tempat terbaik," terangnya.

    Swedia, lanjut Winner, sejak awal saat bayi lahir langsung memiliki nomor sakti identitas yang bisa merekam apapun. Termasuk riwayat sakit, keuangan pendidikan dan lainnya.

    "Satu orang satu identitas dan semua rapi terkomputerisasi. Itulah yang membuat Saya menekuni ini di Swedia, di negaranya langsung yang sudah menerapkan ini," pungkasnya.


    (CEU)


    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id