comscore

Kisah Sukamdi, Buruh Serabutan yang 2 Putrinya Raih Beasiswa di UNY

Citra Larasati - 17 Mei 2022 14:32 WIB
Kisah Sukamdi, Buruh Serabutan yang 2 Putrinya Raih Beasiswa di UNY
Sukamdi (kanan) dengan kedua anaknya (tengah) yang kuliah gratis di UNY. FotoL Dok. UNY
Jakarta:  Rumah bercat biru di depan Candi Morangan itu terlihat asri dengan rerimbunan pohon di sekitarnya. Di rumah itu lah pasangan suami istri Sukamdi dan Wijirah tinggal.

Sukamdi berprofesi sebagai buruh serabutan dengan penghasilan tidak menentu, sedangkan Wijirah seorang ibu rumah tangga. Namun pasangan ini bukan orang tua biasa, karena kedua putrinya berhasil kuliah di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) tanpa mengeluarkan biaya sepeserpun.
Anak pertama Sukamdi adalah Mutiara Pesona Bil Jannah yang menempuh pendidikan di prodi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan Fakultas Ilmu Sosial angkatan 2019. Sedangkan anak keduanya Widya Happy Hakiki juga menempuh pendidikan di prodi yang sama angkatan 2021.

Sukamdi mengatakan, pada awalnya dia terkejut saat anak sulungnya mengatakan keinginannya untuk kuliah.  Karena tidak mengira bahwa Tia, panggilan akrab Mutiara, ingin melanjutkan pendidikan tinggi.

Menurut Wijirah pada saat Tia mengatakan tentang keinginannya kuliah, warga Morangan Sindumartani Ngemplak Sleman itu gelisah memikirkan ketiadaan biayanya. “Saya sempat sakit memikirkan hal itu” kata Wijirah dilansir dari laman UNY, Selasa, 17 Mei 2022.

Baca juga:  Beasiswa Djarum Foundation Masih Dibuka Hingga 23 Mei 2022, Cek Persyaratannya

Namun pasangan tersebut sangat bersyukur ketika mengetahui adanya beasiswa Bidikmisi yang sangat membantu meringankan beban mereka dalam menguliahkan kedua anaknya. Sukamdi pada awalnya pesimistis Tia dan Happy dapat diterima kuliah mengingat kondisi ekonomi keluarga.

Namun keberuntungan menaungi keluarga itu karena kedua putrinya diterima kuliah di UNY di mana Mutiara mendapatkan beasiswa Bidikmisi dan Happy mendapatkan beasiswa KIP Kuliah sehingga keduanya menempuh pendidikan secara gratis.

Mutiara Pesona Bil Jannah mengungkapkan, awal mula mengetahui tentang adanya beasiswa bidikmisi adalah dari guru BK di sekolahnya. Alumni SMAN 1 Cangkringan itu diterima di UNY melalui jalur Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN).

Saat ditanya bagaimana strateginya agar diterima jalur SNMPTN, Tia menjawab bahwa dia melakukan mapping pada teman-teman sekolah tentang pilihan program studi pilihan mereka pada SNMPTN. “Pada saat itu belum ada persyaratan harus eligible untuk ikut SNMPTN” kata Tia.

Akhirnya setelah melakukan mapping, gadis kelahiran 25 Oktober 2000 itu memantapkan diri memilih prodi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan sebagai pilihannya. Mutiara saat ini aktif di Unit Kegiatan Mahasiswa Penelitian UNY dan DPM Fakultas Ilmu Sosial.

Sedangkan adiknya, Happy diterima di UNY melalui jalur SBMPTN karena tidak lolos eligible SNMPTN. Alumni SMAN 1 Ngemplak tersebut memilih jurusan yang sama dengan kakaknya karena menyukai program studi tersebut.

Agar lolos UTBK SBMPTN Happy menyusun sejumlah strategi, di antaranya belajar setelah subuh. “Saya juga mencari informasi animo prodi yang diincar agar tidak salah pilih” katanya.

Gadis kelahiran 1 Januari 2003 itu tidak mengikuti bimbingan belajar karena ketiadaan biaya, namun dia berusaha mengumpulkan soal-soal dan LKS sejak kelas 1 SMA, belajar giat serta mencari informasi soal UTBK dari internet yang sekiranya mirip dengan apa yang diujikan. Berkat ketekunannya ini Happy berhasil menjadi salah satu peserta yang lolos SBMPTN di tengah persaingan yang ketat.

Happy meraih indeks prestasi kumulatif sebesar 3,61 dan Mutiara meraih indeks prestasi kumulatif 3,51 pada saat ini. Hal ini menunjukkan salah satu upaya UNY dalam sustainable development goals pada bidang pendidikan bermutu, pengentasan kemiskinan dan kesetaraan gender. 

Sekarang ini Sukamdi dan Wijirah mencoba peruntungan dengan menanam cabai di sungai Gendol yang terletak di belakang rumahnya. Sukamdi mengatakan, setelah penambangan pasir di sungai Gendol berakhir maka tersisa sejumlah lahan yang dapat ditanami karena terbawa lumpur yang mengandung tanah.

Dari sinilah Sukamdi menanam cabai untuk menambah penghasilan keluarga. Namun apabila ada warga masyarakat yang membutuhkan tenaganya maka Sukamdi siap bekerja keras karena menanam cabai ini hanya sebagai sambilan.

Baca juga:  Pendaftaran Paragon Scholarship Program 2022 Masih Dibuka, Ini Link dan Persyaratannya

Sukamdi dan keluarganya telah memberi bukti bahwa orang miskin tidak haram untuk kuliah karena Kementerian Pendidikan Kebudayaan Riset dan Teknologi serta Kementerian Keuangan memberi dukungan dana melalui beasiswa KIP Kuliah. 

(CEU)

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

 

 

 

Komentar

LOADING
Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

  1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
  2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
  3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
  4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

Anda Selesai.

Powered by Medcom.id