SMK Model PGRI I Mejayan Olah Porang Jadi Panganan Bernilai Jual

    Citra Larasati - 04 Mei 2021 20:24 WIB
    SMK Model PGRI I Mejayan Olah Porang Jadi Panganan Bernilai Jual
    Siswi SMK Model PGRI I Mejayan mengolah umbi porang menjadi panganan bernilai ekonomi. Foto: Dok. SMK I Mejayan



    Jakarta:  Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Model PGRI 1 Mejayan, Jawa Timur tengah mengembangkan umbi porang menjadi bahan pangan olahan bernilai ekonomi tinggi. Tidak hanya itu, umbi porang ini juga memiliki peluang besar untuk diekspor.

    Porang atau juga dikenal dengan iles-iles mudah dijumpai di hutan dan tumbuh secara liar.  Umbi porang banyak mengandung glucomannan berbentuk tepung. Glucomannan merupakan serat alami yang larut dalam air dan biasa digunakan sebagai aditif makanan, emulsifier, dan pengental.  Bahkan dapat digunakan sebagai bahan pembuatan lem ramah lingkungan dan pembuatan komponen pesawat terbang.






    Catatan Badan Karantina Pertanian menyebutkan, ekspor porang pada 2018 mencapai 254 ton, dengan nilai ekspor mencapai Rp11,31 miliar,  Sejumlah negara sangat meminati porang, seperti Jepang, Tiongkok, Vietnam, Australia, dan lain sebagainya.

    "Porang memiliki nilai strategis untuk dikembangkan, karena punya peluang yang cukup besar untuk diekspor," kata Kepala Sekolah SMK Model PGRI 1 Mejayan, Sampun Hadam dalam siaran persnya, Selasa, 4 Mei 2021.

    Dalam pengembangannya nanti, pihaknya akan memberdayakan model Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) porang. Ketika nanti sudah muncul berbagai lapak beragam jenis makanan olahan porang, selanjutnya akan dikembangkan lagi menjadi rumah produksi.

    “Rumah produksi ini dikembangkan oleh SMK, tapi bahan bakunya dari petani,” ujar Sampun.

    Baca juga:  Kisah Elum, Perempuan Asal Sumbar yang Lolos ke Final MTQ Internasional

    Menurut Sampun, bahan baku porang mentah tersebut nanti akan diolah di rumah produksi.  Baru setelah itu hasilnya diserahkan kepada petani, untuk mendorong munculnya UMKM baru dari produk porang ini.

    Sampun menegaskan, bahwa petani sebagai pihak yang menanam, sedangkan siswa SMK Model PGRI I Mejayan yang akan mengolah dalam UMKM. "UMKM ini diharapkan jadi UMKM milenial. Makanya rumah produksi ini kita kemas dengan bagus, pakai standar ekspor,” terang dia.

    Menurut Sampun, dulu tanaman porang tidak menjadi pilihan bagi petani untuk dibudidayakan. Namun, saat ini umbi tanaman dengan nama latin Amorphophallus muelleri banyak dicari karena miliki nilai ekonomi yang cukup tinggi.

    Para siswa diajang untuk mengolah umbi porang menjadi berbagai macam produk seperti berbagai macam produk seperti bakso, tahu, dan lain sebagainya. 

    Lebih jauh, Sampun meyakini peluang produk yang berbahan baku porang memiliki potensi ekspor. Tiongkok dan Jepang merupakan dua negara yang berpotensi menjadi pasar produk olahan porang.

    "Saat ini, hasil olahan kita baru ada dua jenis yaitu dalam bentuk chip kering dan bentuk makanan. Makanan itu yang saat ini kita persiapkan ekspor dalam bentuk nabati yaitu bahan untuk membuat bakso atau bahan pengganti daging hewan (daging nabati)," tutup Sampun.

    Dalam sejumlah kesempatan, Direktur Jenderal Pendidikan Vokasi, Kemendikbudristek, Wikan Sakarinto menguatkan pernyataannya tentang kreativitas siswa-siswi SMK yang kini didukung kurikulum baru. Kurikulum yang baru ini lebih menekankan aspek terapan dan pembelajaran berbasis penelitian atau proyek.

    “Kreativitas itu nantinya adalah kunci penting menuju kesuksesan berwirausaha,” sebut Wikan.

    (CEU)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id