Berawal dari Ide Celetukan, Alumnus ITB Kini Jadi Bos eFishery

    Citra Larasati - 07 Agustus 2020 15:24 WIB
    Berawal dari Ide Celetukan, Alumnus ITB Kini Jadi Bos eFishery
    Foto: Dok. ITB
    Jakarta:  CEO eFishery, Gibran Huzaifah Amsi El Farizy, telah melalui perjuangan panjang untuk membangun usaha yang dirintisnya sejak kuliah.  Usaha yang telah mengantarnya meraih Forbes 30 Under 30 Asia: Industry, Manufacturing, and Energy ini ternyata berawal dari sebuah ide celetukan. 

    “Perjuangan Saya dimulai di ITB. Dari SMA saya, tidak ada yang masuk ke ITB. Tentunya ini membuat saya harus berjuang sendiri dengan segala keterbatasan Saya terutama keterbatasan ekonomi,” ujar kata Gibran, alumnus Biologi Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati (SITH) Institut Teknologi Bandung (ITB), dikutip dari laman ITB, Jumat, 7 Agustus 2020.

    Selama kuliah, berbagai pengalaman telah dilalui oleh Gibran. Saat menjadi ketua ospek jurusan, ia belajar tentang manajemen organisasi dan banyak hal lainnya.

    Namun di tengah kesibukannya, ia juga pernah mendapat Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 1,6 saat semester empat. Di situ, ia mulai menyadari bahwa sebagai seorang biologis, ia biasa-biasa saja.

    “Jadi Saya mulai berpikir, kalau Saya ingin menjadi seseorang yang great, Saya harus menjadi great pada bidang yang saya bisa, yaitu entrepreneurship,” celetuknya kala itu.

    Saat semester enam, Gibran mengambil mata kuliah Akuakultur. Saat itu ia mulai mengenal catfish dan peluang ke depannya.

    Berbekal motivasi tersebut, akhirnya Gibran mencari kolam dan mulai menebar ikan. Ia berhasil melakukan panen sebanyak 130 kilogram. Namun, ia cukup kesulitan untuk menjualnya. Akhirnya ikan tersebut dijual ke tengkulak dengan keuntungan seribu per kilo, dengan waktu panen dua bulan sekali (65 ribu sebulan).

    “Saya merasa keuntungan ini kecil, lalu Saya pikirkan bagaimana Saya bisa create pasar sendiri. Akhirnya saya buat suatu usaha, dengan menggunakan ikan hasil panen yang di-fillet. Namanya adalah Dorri," terang Gibran.

    Outlet pertama Dorri berada di Tubagus Ismail dengan menu fish and chips. Kurang laku, namun Gibran tidak menyerah dan mencoba membuat di Gelap Nyawang, Parahyangan, serta beberapa tempat lain hinga total lima outlet.

    Dari situ, keuntungan mulai didapat. Setelah itu, Gibran membuat merek tambahan, yaitu Le’box (lele in the box). Usaha ini kemudian bertumbuh terus, dan akhirnya ketika Gibran lulus, usaha yang dikembangkannya sudah memiliki lima outlet dan 76 kolam ikan untuk budidaya.

    "Walau begitu, Saya tetap lulus dengan baik, dengan IPK 3,21. Saya berhasil mencapai target yang diberikan oleh orang tua,” ujar Gibran.

    Baca juga:  Tak Punya Gawai, Rusli Terpaksa Belajar Daring di Sekolah

    Setelah lulus, Gibran mulai belajar banyak dari pembudidaya ikan besar. Salah satu permasalahan dalam budidaya ikan di ribuan kolam adalah pakan.

    Saat itu ia mulai terpikirkan ide dari obrolan sederhana tentang kontrol pakan dengan handphone. “Saya merasa ini peluang, di mana teknologi serupa belum ada di Indonesia. Akhirnya Saya coba membuat aplikasi untuk mengontrol pakan ikan, karena masalah pembudidaya adalah pakan yang bisa menyebabkan kandungan amonia berlebih sehingga air menjadi rusak dan ikan mati,” ujarnya.

    Dari situ, perjalanan eFishery dimulai. Gibran mulai menyewa garasi dan merekrut anak SMK untuk menghasilkan prototipe eFishery. Awalnya, perintah untuk memberi pakan ikan dilakukan melalui SMS dan dibalas melalui fitur Auto Reporting.

    Konsep ini yang ditawarkan kepada para pembudidaya. Akhirnya, bisnis ini berjalan.  Sekarang, sistem eFishery adalah smart feeding machine (pemberi alat makan otomatis) yang terhubung ke detektor nafsu makan ikan dan juga mobile-first cloud dashboard.

    Nafsu makan ikan dideteksi dari perilaku ikan serta sensor suara saat ikan makan. Aplikasi eFishery juga telah ada sejak tahun 2015 yang mengandung informasi mengenai jenis ikan, jumlah ikan mati, dan hasil panen.

    Dari data tersebut, eFishery bisa melakukan perhitungan secara terstruktur. Sekarang, eFishery sudah ada di 24 provinsi dan 180 kota di Indonesia.

    Di luar Indonesia, eFishery juga sudah running pilot di Thailand, Bangladesh, Vietnam, India, serta Singapura. “Autofeeder sebenarnya menjadi starting point untuk mendapatkan data. Dari data tersebut kita tahu pembudidaya yang bagus, lalu risiko eksternal seperti cuaca juga bisa dipertimbangkan. Kemudian kita hubungkan ke perbankan agar bisa diberikan pinjaman. Program ini disebut eFishery Kabayan (Kasih, Bayar Nanti). Bahasa keren dari paylater,” ujar Gibran.

    Melalui eFishery, Gibran telah memenangkan banyak penghargaan. Mulai dari Get in the Ring pada tahun 2014 di Rotterdam, kemudian Gibran meraih Forbes 30 Under 30 Asia: Industry, Manufacturing, and Energy, serta mendapatkan Ganesa Widya Jasa Utama tahun 2017.

    “Yang lebih membahagiakan adalah bukan hanya pembudidaya saja, namun keluarganya juga terbantu," kata Gibran.

    Kemudian ia menceritakan, tentang salah satu pembudidaya. Berkat bantuan eFishery ekonominya meningkat dan bisa menyekolahkan anaknya ke SBM ITB. Anak tersebut akhirnya dapat membantu mengelola usaha ayahnya secara profesional.

    "eFishery tidak hanya memberi impact personal, tetapi ke generasi masa depan, dan dampak ke masyarakat menjadi lebih luas. Semuanya memang dari ide celetukan, dari nol, tapi sekarang telah tersebar luas di mana-mana,” tambah Gibran.


    (CEU)


    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id