Profesor Uut Ingin Peneliti Perempuan Lebih Berani Unjuk Gigi

    Ilham Pratama Putra - 21 April 2021 18:11 WIB
    Profesor Uut Ingin Peneliti Perempuan Lebih Berani Unjuk Gigi
    Guru besar dari Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan UGM, Adi Utarini. Foto: Dok. Pribadi



    Jakarta:  Guru besar dari Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada (UGM), Adi Utarini mengungkapkan ada perasaan yang kerap menghantui para peneliti perempuan. Menurutnya rasa tersebut harus dihilangkan guna memajukan eksistensi penelilti perempuan.

    "Kita sendiri perempuan suka ada rasa, mbok sing lanang wae (menyerahkan tugasnya ke laki-laki saja). Saya masih ada rasa gitu. Kadang banyak ditawari kesempatan begitu, itu kadang-kadang di hati kecil begitu (menyerahkan ke laki-laki)," kata profesor yang akrab disapa Uut ini kepada Medcom.id, Rabu, 21 April 2021.






    Uut mengakui, jika perempuan masih minim dalam bersuara, padahal ruang tersebut kini telah terbuka lebar. Tingkat diskriminasi gender pun telah turun dari masa ke masa.

    "Saya merasa perempuan masih kurang menyuarakan suaranya. Masih dalam berbagai forum-forum itu kita melihat diskusi menyampaikan pendapat, perempuan masih kurang terbuka dan kurang berani menyampaikan pemikirannya," jelasnya.

    Pun ketika bersuara, perempuan masih kurang percaya diri atas buah pemikirannya. Lebih lanjut dia meminta perempuan utamanya peneliti lebih berani lagi mengambil peran dan bersuara.

    "Nah beruntung juga ya pandemi itu menjadikan akses perempuan terhadap sumber informasi pengetahuan itu jadi bertambah. Semoga ini nanti bisa mendongkrak perempuan untuk berkiprah di penelitian dan bersuara,"  sambung dia.

    Baca juga:  Jalani Peran Istri, Ibu, dan Peneliti di Eijkman Sekaligus

    Uut yang dinobatkan sebagai salah satu dari 10 ilmuan berpengaruh di dunia tahun 2020 itu pun memberikan saran bagi perempuan dalam dunia penelitian. Sikap profesional harus dibangun agar taring perempuan di dunia penelitian lebih mentereng lagi. 

    "Mereka harus profesional dalam berbicara, profesional dalam menghadapi tantangan dari kolega, baik laki atau perempuan, termasuk mengatasi sifat alami perempuan," jelasnya.

    Bagi dia, peneliti yang sukses bukan hanya pandai ilmu penelitian. "Tapi juga perlu mengembangkan profesionalisme, cara komunikasi, interaksi dan perempuan juga perlu masuk dalam ranah kebijakan penelitan, sehingga kita bisa memengaruhi penelitiannya sendiri dan memengaruhi lingkungan yang lebih besar," tutup dia.


    (CEU)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id