PGRI Ungkap Penyebab Lambatnya Transformasi Guru

    Ilham Pratama Putra - 15 November 2021 20:38 WIB
    PGRI Ungkap Penyebab Lambatnya Transformasi Guru
    Dewan Pembina Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Dudung Koswara. Foto: Medcom.id/Ilham Pratama Putra.



    Jakarta: Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek) telah meluncurkan program Guru Penggerak. Program ini diharapkan mampu mendorong transformasi dunia pendidikan melalui guru-guru berkualitas yang berjiwa pemimpin.

    Guru diyakini menjadi kunci untuk melakukan perubahan. Guru Penggerak pun diharapkan mampu menyebarkan praktik baik yang dapat memajukan dunia pendidikan.

     



    Namun, ada beberapa hal yang membuat transformasi dunia pendidikan menjadi terhambat. Dewan Pembina Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Dudung Koswara mengungkapkan beberapa kondisi yang membuat transformasi guru menjadi tertunda.

    "Pertama, kesejahteraan guru. Mana mungkin guru dengan gaji di bawah Rp500 ribu bisa membawa transformasi, sementara dia punya dua sampai lima anak untuk dihidupi," kata Dudung dalam webinar Akselerasi Peningkatan Kompetensi Guru Melalui Program Guru Penggerak, Senin, 15 November 2021.  

    Kemudian, tranformasi guru juga terhambat karena guru tak mendapatkan perlindungan. Padahal, kata dia, guru menyandang satu profesi yang sangat krusial dalam membangun generasi bangsa.

    "Ada guru yang meninggal, dilukai, ini mengerikan, dalam beberapa kasus guru diadukan. Ini kan profesi guru belum terlindungi," tuturnya.

    Baca: Nadiem Targetkan 6.000 Guru Penggerak Hingga Akhir Tahun

    Selain itu, belum adanya kejelasan terhadap jenjang karier guru. Bahkan, guru-guru yang berprestasi malah ditempatkan di daerah yang bermasalah.

    "Kalau struktural kan harusnya jadi meningkat terus. Bukan sudah jadi kepala sekolah terus dijadikan guru lagi terus dipindahkan ketempat yang tidak mendukung dia," sebutnya.

    Selain itu adapula intimidasi terhadap guru oleh kepala daerah. Diskriminasi dari kepala daerah yang berbau politis itu juga dinilai menghambat karir guru.

    "Ada saja oknum kepala daerah yang menjadi raja kecil yang bisa mengintervensi eksistensi guru karena tidak mendukungnya secara politik. Guru hebat bisa terjerembab karena tidak mendukung politik, ada guru yang tidak bagus tapi kariernya baik karena mendukung politik," tuturnya.


    (AGA)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id