comscore

Survei: Guru Siap Implementasikan Kurikulum Merdeka, Sebatas Penuhi Kewajiban

Medcom - 30 Juni 2022 13:27 WIB
Survei: Guru Siap Implementasikan Kurikulum Merdeka, Sebatas Penuhi Kewajiban
Founder Gerakan Sekolah Menyenangkan, Muhammad Rizal. Foto: Zoom
Jakarta:  Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM) melakukan survei kepada 550 koresponden yang terdiri dari 436 guru GSM dan 114 guru non-GSM tentang kesiapan guru dalam mengimplementasikan Kurikulum Merdeka. Sebanyak 76 persen atau 413 guru menyatakan siap, namun 50 persen di antaranya menyatakan siap karena menjalankan kewajiban dari pemerintah.

Sementara sisanya menyatakan siap karena fasilitas sarana dan prasarana di sekolahnya memadai.  Hal ini terungkap dari hasil survei bertema "Mengulik Tanggapan Guru dalam Implementasi Kurikulum Merdeka (IKM)" yang digelar GSM.  Hasil survei ini dipaparkan dalam webinar yang digelar Kamis, 30 Juni 2022.
Founder GSM, Muhammad Nur Rizal menjelaskan, dalam survei tersebut ditemukan hasil, sebanyak 24 persen guru menyatakan belum siap mengimplementasikan Kurikulum Merdeka.  Kemudian 76 persen guru lainnya menyatakan siap menghadapi Kurikulum Merdeka. 

Namun sayangnya, sebagian kesiapan para guru ini hanya sebatas dilandaskan pada sifat loyal pada otoritas Kementerian Pendidikan Kebudayaan Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek). Guru menganggap bahwa Kurikulum Merdeka adalah sebatas kewajiban yang harus dilaksanakan. 

"Karena (guru) menganggap ini kewajiban, loyal pada otoritas kementerian dan harus dilakukan. Berhasil atau tidak, itu lain lagi. Ada harapan bahwa IKM bisa meningkatkan pembelajaran," tegas Rizal.

Sedangkan untuk ketidaksiapan guru dalam melaksanakan Kurikulum Merdeka dipengaruhi oleh beragam faktor. Yaitu para guru yang belum mengetahui strategi mengajar yang tepat, lalu belum menguasai keterampilan mengajar yang dibutuhkan.

Kemudian keterbatasan mendapatkan referensi ajar, seperti internet maupun kendala tidak terbiasa mengakses itnernet. Terakhir, administrasi yang rumit, artinya Kurikulum Merdeka harus diikuti oleh model administrasi yang tidak rumit.

Menanggapi hal ini, kata Rizal, GSM sigap melakukan sinergisitas dengan menyediakan pelatihan perubahan pola pikir.  Selain itu GSM juga menyediakan capacity building dan melakukan pendampingan untuk membangun kultur di dalam mengajar. 

"Pada prinsipnya kami mendukung Kurikulum Merdeka, karena ini sebenarnya senada dengan visi misi GSM mendidik dan memanusiakan manusia dalam proses belajar," pungkasnya. (Arbida Nila)

Baca juga:  Mengintip Sekolah Penggerak SMA Plus Budi Utomo: Polisi Anti-bullying Hingga Kunci Karier

(CEU)

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

 

 

 

Komentar

LOADING
Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

  1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
  2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
  3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
  4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

Anda Selesai.

Powered by Medcom.id