Dikunjungi Direktur SD, Guru Nuri Ceritakan Kunjungan Nadiem yang Serba Rahasia

    Citra Larasati - 16 September 2021 15:42 WIB
    Dikunjungi Direktur SD, Guru Nuri Ceritakan Kunjungan Nadiem yang Serba Rahasia
    Guru Nuri dengan Direktur SD Kemendikbudristek, Sri Wahyuningsih. Foto: Dok. Kemendikbudristek



    Jakarta:  Guru SDN Jetisharjo, Sleman, Yogyakarta, Khoiry Nuria Widyaningrum sungguh beruntung. Rumah calon Guru Penggerak ini dipilih menjadi tempat menginap Mendikbudristek Nadiem Makarim pada Senin malam, 13 September 2021.

    Keesokan harinya, Nuri juga mendapat kunjungan Direktur Sekolah Dasar, Kemendikbudristek, Sri Wahyuningsih.  Dalam kunjungan tersebut, ia bercerita kisah di balik kedatangan Menteri Nadiem yang serba mendadak dan penuh rahasia. 

     



    Hari sudah beranjak sore, tapi diskusi di rumah Nuri, terus menghangat.  Nuri bersama beberapa rekannya yang tergabung dalam komunitas Gerakan Sekolah Menyenangkan mendiskusikan banyak isu pendidikan dengan Sri.

    Mereka membahas berbagai hal, mulai dari Program Sekolah Penggerak, Asesmen Nasional Berbasis Komputer (ANBK) hingga soal kemampuan para guru dalam memanfaatkan teknologi informasi untuk pembelajaran.

    ”Saya sengaja datang ke rumah Bu Nuri untuk berdiskusi, dan menyampaikan terima kasih karena sudah bersedia menerima Mas Menteri menginap di sini. Saya beruntung karena ternyata Bu Nuri sedang kumpul bersama teman-teman komunitas guru yang hebat-hebat. Diskusi jadi sangat menarik,” tutur Sri dikutip dari laman DITPSD Kemendikbudristek, Kamis, 16 September 2021.

    Baca juga:  6 Fakta Menarik Guru Nuri yang Rumahnya Jadi Tempat Nadiem Menginap

    Ya, salah satu topik hangat dalam diskusi itu adalah kedatangan  Nadiem ke rumah Nuri yang tak disangka-sangka. Ini menjadi kejutan manis untuk Nuri dan suami, serta kedua orang tuanya.

    ”Saya seperti kena prank,” ujar Nuri mengawali cerita.

    Pagi hari sebelum kedatangan Nadiem, dua orang dari Kemendikbudristek datang melakukan survei ke rumah Nuri. Mereka sama sekali tidak menyampaikan bahwa Nadiem akan datang menginap di rumahnya.
     
     

    Dua orang ini menyampaikan akan ada monitoring dan evaluasi (monev) Program Guru Penggerak. Tapi metodenya berbeda, tidak dengan mengisi instrumen di kertas. Mereka akan menginap di rumah Nuri dan melakukan wawancara secara mendalam.

    ”Tentu saya dan keluarga menyambut baik. Saya berpikir ini monev hebat sekali, orang kementerian sampai menginap di rumah calon guru penggerak,” tutur Nuri.

    Ia beserta suami dan ibu bapaknya segera menyiapkan kamar untuk dua orang tamu yang berjanji akan kembali pada sore hari.  Selepas magrib, sedan hitam datang. Nuri segera menyambut dua orang yang tadi pagi berkunjung itu.

    Tapi di dalam mobil masih ada satu orang lagi. Dalam hati Nuri mulai timbul rasa heran. Hari yang sudah mulai gelap membuat pandangan tak begitu jelas.

    Setelah turun, barulah tampak bahwa yang datang adalah Menteri Nadiem. Ia turun membawa koper. ”Loh, mas menteri mau menginap juga,” tanya Nuri. Perasaannya campur aduk antara gembira, kaget sekaligus bingung.

    ”Iya, memang saya yang punya rencana menginap di sini,” jawab Nadiem sambil tertawa.

    Nuri salah tingkah sampai-sampai membiarkan begitu saja Mendikbudriatek menyeret sendiri kopernya ke dalam rumah.  ”Bapak saya sampai gemetaran. Untungnya Mas Menteri Nadiem orangnya ramah. Setelah kami duduk di ruang tamu, pelan-pelan beliau mengajak kami ngobrol. Akhirnya kami terlibat dalam obrolan seru,” kata Nuri.

    Nuri benar-benar seperti kena prank. Tidak ada satu pun orang kementerian yang memberi tahu ia dan keluarga bahwa Menteri Nadiem akan datang dan menginap. Katanya dua orang petugas monev yang akan menginap, ternyata menteri yang datang. ”Ini benar-benar kejutan yang menyenangkan,” kata Nuri.

    Sri Wahyuningsih memberi penjelasan bahwa memang rencana mas menteri menginap di rumah guru sangat dirahasiakan. Bukan hanya tuan rumah yang tidak tahu, para pejabat yang mendampingi Nadiem kunjungan kerja ke Yogyakarta juga tidak tahu. ”Hanya beberapa orang terdekat saja yang tahu,” ujar Sri.
     
     

    Dalam rilisnya, Mendikbudristek menjelaskan bahwa maksud dan tujuannya menginap di rumah Nuri tak lain adalah untuk belajar dari Guru Penggerak. “Program Guru Penggerak itu adalah salah satu program terpenting Kemendikbudristek, karena program ini adalah regenerasi pemimpin-pemimpin sekolah. Kalau saya tidak lagi menjabat sebagai menteri, yang akan meneruskan transformasi pendidikan adalah para Guru Penggerak,” terang Nadiem.

    “Saya ingin merasakan langsung keseharian sebagai calon Guru Penggerak agar saya lebih memahami. Saya ingin tahu suka dan duka Ibu Nuri sebagai guru. Boleh, Ibu, saya minta izin menginap?,” ujar Nadiem.

    Duduk santai bersama Nuri dan keluarga di ruang tamu, Nadiem mengatakan bahwa dirinya menangkap ada benang merah ketika bertemu dengan para calon Guru Penggerak di berbagai daerah di Indonesia.

    “Karakter calon Guru Penggerak itu lugas dalam menyampaikan pendapat dan gagasan. Terutama, saya selalu melihat ada keresahan dalam diri guru-guru yang saya temui. Mereka semua ingin melakukan perubahan untuk meningkatkan kualitas pendidikan,” kata Nadiem.

    Nuri yang pernah mengenyam delapan tahun sebagai guru dan tiga tahun sebagai kepala sekolah di sekolah Muhammadiyah, kini memilih menjadi guru di sekolah negeri.  “Di sinilah saya menemukan bahwa benar pendidikan memang harus ditransformasi. Kenapa sekolah negeri pinggiran tempat saya mengajar tidak sebagus sekolah swasta? Kemudian saya merasa tergerak.”

    Bercerita soal alasan memilih kembali menjadi guru padahal tadinya sudah menyandang status kepala sekolah, Nuri menyinggung beban administrasi yang dialami sebagai kepala sekolah sehingga membuatnya tidak leluasa mengajar.

    “Ibu sepertinya sepakat dengan saya, bahwa administrasi pendidikan itu tidak sama dengan pembelajaran. Administrasi tidak ada hubungan langsung dengan murid dan hanya mengikuti aturan. Sementara, tugas guru yang sebenarnya adalah untuk fokus memberikan pembelajaran yang bermakna bagi murid,” imbuh Nadiem.
     
     

    Dalam kebijakan Merdeka Belajar Episode Pertama telah menyederhanakan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) menjadi satu komponen dan satu halaman saja, dari yang tadinya belasan komponen.

    Nuri langsung menambahkan, “Saya juga suka kebijakan Mas Menteri menghapus UN (Ujian Nasional). Saya senang sekali.” Pembicaraan Mendikbudristek beserta Ibu Nuri dan keluarga berlangsung hangat hingga waktunya istirahat malam.

    Sebelum memulai peninjauannya ke SD Muhammadiyah, SMP Taman Dewasa Jetis, SMA Ma’arif dan berdialog dengan kepala-kepala sekolah se-DIY, pada Selasa, 14 September 2021, Nadiem menyempatkan berolahraga bersama dan mengunjungi taman wisata yang dikelola Nuri beserta suami.

    (CEU)
    Read All




    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id