Hardiknas 2021, PGRI: Momen Introspeksi Situasi Pendidikan di Indonesia

    Arga sumantri - 02 Mei 2021 13:39 WIB
    Hardiknas 2021, PGRI: Momen Introspeksi Situasi Pendidikan di Indonesia
    Ketua Umum PGRI Unifah Rosyidi. Foto: Medcom.id/Muhammad Syahrul Ramadhan.



    Jakarta: Ketua Umum Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Unifah Rosyidi mengajak peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2021 sebagai momentum melakukan koreksi terkait situasi pendidikan di Indonesia. Sejauh mana arah pendidikan di Tanah Air sesuai dengan cita-cita bapak pendidikan nasional, Ki Hajar Dewantara.

    "Introspeksi ini penting untuk melihat kembali dasar-dasar pendidikan yang ditanamkan Bapak Pendidikan Nasional itu," kata Unifah melalui keterangan tertulis, Minggu, 2 Mei 2021.






    Menyambut Hardiknas tahun ini, PGRI juga mengajak semua pihak meluruskan biduk pendidikan agar kembali sesuai arah yang telah ditunjukkan Ki Hajar Dewantara. Ki Hadjar, kata dia, sudah mengajarkan orientasi bangsa yang sangat jelas dan futuristik, melihat jauh ke depan. 

    "Tapi kita terlanjur mengabaikan bahkan melupakan nasihat bijak pendiri bangsa, sehingga pendidikan kita mengalami kemunduran," ujarnya.

    Baca: Sambut Hardiknas, Jokowi Pacu Semangat Belajar Peserta Didik

    Menurut Unifah, pendidikan di Indonesia masih terlalu sibuk membahas masalah administratif pendidikan, mulai dari kurikulum, penggunaan anggaran, sistem evaluasi dan kelulusan, dana bantuan sekolah, dan berbagai persoalan lainnya. Pendidikan dikerdilkan menjadi sekadar akademis atau intelektualitas semata. 

    "Sementara rohnya pendidikan, hakikat pendidikan kita lupakan. Persoalan besar yang kita hadapi sekarang adalah hilangnya makna atau roh pendidikan dalam kehidupan berbangsa," ungkapnya.

    Unifah mengatakan, menyalahkan guru dalam kondisi seperti ini juga sangat keliru. Guru sejak awal 'dijebak' dalam persoalan administratif, serta dikejar target kurikulum yang sangat menguras tenaga. 

    Ia mencontohkan, guru harus membuat rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP), menentukan kriteria ketuntasan minimal (KKM) dan melakukan analisis hasil ulangan (AHU) yang membutuhkan konsentrasi tinggi. Belum lagi menyusun silabus, membedah kisi-kisi soal ujian tengah semester (UAS) serta 'seabreg' hal lain yang sangat administratif, menyita waktu dan menguras tenaga. 

    "Di sisi lain kesejahteraan guru dan peningkatan mutu guru melalui pelatihan periodik yang menjadi tanggung jawab pemerintah dan pemerintah daerah, masih kurang diperhatikan secara serius," ujarnya.

    (AGA)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id