MAGHRIB 17:47

    Untuk Jakarta dan sekitarnya

    IMSAK 04:25
    SUBUH 04:35
    DZUHUR 11:53
    ASHAR 15:14
    ISYA 19:00

    Download Jadwal Imsakiyah

    Praktik Politik Uang di DKI Masih Tinggi

    Fachri Audhia Hafiez - 11 Februari 2019 20:28 WIB
    Praktik Politik Uang di DKI Masih Tinggi
    Direktur Riset Charta Politika Muslimin. Medcom.id/Fachri Audhia Hafiez
    Jakarta: Survei terbaru Charta Politika Indonesia menyebutkan mayoritas warga DKI Jakarta masih memaklumi adanya politik uang. Hal ini terbukti dari tingginya angka politik uang di dua daerah pemilihan (dapil) DKI Jakarta.

    "Sebanyak 58,2 persen responden di wilayah dapil DKI Jakarta 1 memaklumi adanya politik uang. Kemudian 31,3 persen tidak dapat memaklumi dan tidak tahu atau tidak menjawab sebanyak 10,5 persen," kata Direktur Riset Charta Politika Indonesia, Muslimin di kawasan Kebayoran, Jakarta Selatan, Senin, 11 Februari 2019.
    Kondisi ini juga terjadi di dapil DKI Jakarta 2. Sebanyak 47,0 persen warga memaklumi, sementara 41,0 tidak dapat memaklum dan sisanya tidak bisa menjawab atau tidak tahu.

    Beda halnya dengan dapil DKI Jakarta 3 yang justru tertinggi menolak politik uang dengan perolehan angka 47,6 persen. Sementara 42,6 persen memaklumi, sisanya sebanyak 9,8 persen tidak tahu atau tidak menjawab.

    Dalam survei juga terungkap warga DKI menyukai beberapa suvenir atau hadiah dari para caleg. Sembako dan kaos menempati urutan tertinggi di ketiga dapil.

    "Dapil DKI 1 sembako 30,7 persen, disusul dapil DKI 2 36,0 persen dan dapil DKI 3 40,8 persen. Kaos menempati urutan kedua semuanya dari dapil DKI 1 sampai 3, masing-masing 23,7 persen, 14,5 persen dan 19,6 persen," ujar Muslimin.

    Selain sembako dan kaos, tercatat hadiah lain yang menjadi favorit warga ialah kalender, mukena, gelas, payung, topi, pin dan stiker.

    Muslimin mengatakan kondisi ini terjadi akibat rendahnya pendidikan politik. Sehingga menerima berbagai barang yang dianggap sebagai hadiah tanpa memikirkan ada maksud dibalik pemberian tersebut.

    Dia juga menganggap, parpol belum belajar bagaimana memperlakukan warga ketika berkampanye. Sehingga cara yang terpikirkan ialah memberikan sebuah barang guna mendulang suara.

    "Pendidikan politik terhadap publik memang masih sangat rendah. Terutama parpol dan caleg itu sendiri," jelas Muslimin.



    (SCI)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id