MAGHRIB 17:47

    Untuk Jakarta dan sekitarnya

    IMSAK 04:25
    SUBUH 04:35
    DZUHUR 11:53
    ASHAR 15:14
    ISYA 19:00

    Download Jadwal Imsakiyah

    Jokowi Siap Buka-bukaan Soal LRT di Debat Kedua

    Kautsar Widya Prabowo - 12 Februari 2019 22:05 WIB
    Jokowi Siap Buka-bukaan Soal LRT di Debat Kedua
    Wakil Ketua TKN-KIK Arsul Sani. Foto: Medcom.id/Kautsar Widya Prabowo
    Jakarta: Wakil Ketua Tim Kampanye Nasional (TKN) Joko Widodo -  Ma'ruf Amin, Asrul Sani, memastikan calon presiden nomor urut 01 Joko Widodo kompeten menjelaskan infrastruktur di debat pemilihan presiden kedua. Khususnya terkait pembangunan light rail transit (LRT). 

    "Siap - siap saja (menjelaskan isu pembangun LRT)," ujar Arsul di Hotel Grand Sahid, Jakarta, Selasa, 12 Febuari 2019. 
    Ia menduga ada pertanyaan terkait hal itu di debat kedua. Sebab sebelumnya, timses pasangan calon nomor urut 02 kerap menyinggung hal ini. Mereka menggunakan kritik Wakil Presiden (Wapres) Jusuf Kalla (JK) atas mahalnya pembangunan proyek LRT.  

    Pihaknya tak mempermasalahkan kritik JK. Apalagi kritik tersebut konstruktif untuk pembangunan. 

    "Supaya semua tidak larut, kemudian terjadi efesiensi dan sebagainya, itu vitamin,penyegar, pengingat," tambahnya.

    Wapres JK mengomentari pembangun LRT. Menurutnya, pembangunan LRT di Jakarta, Bogor, Depok, dan Bekasi lebih mahal ketimbang di luar Ibu Kota. Sebab fasilitas itu dibangun melayang dan menghabiskan dana besar.

    Sementara di luar Jabodebek, pembebasan tanah dianggap JK tak terlalu mahal. JK juga menyoroti konstruksi LRT bersebelahan dengan jalan tol, dan skema jalan layang dianggap tak efektif. Hal itu mengakibatkan pembengkakan biaya pembangunan. 

    Terakhir, yakni lamanya pengerjaan proyek yang turut menyumbang pembengkakan biaya. Staf Khusus Menteri Perencanaan Pembanggunan Nasional (Bappenas) Eko Putro Adijayanto mengamini pernyataan JK. 

    Dia menjelaskan jika semakin ditunda, maka biaya yang dibutuhkan semakin membengkak. Ketika bicara soal biaya pembangunan, tambah Eko, harus menganalisisnya secara detail, di mana aspek makro dan mikro tidak bisa disatukan. Belum lagi jika proyek yang digarap sempat mangkrak.
     
    "Politik bisa mencampurkan antara makro dan mikro, tapi kalau kita bicara di lapangan beda. Harus dirunut juga historisnya bagaimana," kata dia.



    (ADN)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id