Kapal Api MOS

    Usai Pemilu 2019, Merajut Kembali Persatuan

    Gervin Nathaniel Purba - 29 April 2019 19:14 WIB
    Usai Pemilu 2019, Merajut Kembali Persatuan
    Foto:Antara/Iggoy el Fitra
    Jakarta: Perolehan suara pasangan calon (paslon) presiden dan wakil presiden nomor urut 01 Joko Widodo-Ma’ruf Amin masih unggul dari Prabowo Subianto-Sandiaga Uno berdasarkan hasil real count KPU. Sejauh ini, paslon nomor urut 01 memperoleh suara sebanyak 56 persen. 

    Dikutip dari situs kpu.go.id, Jumat, 26 Apri 2019l, menjelang sore, pasangan Joko Widodo-Ma’ruf Amin memperoleh suara 32. 386.391, atau 56,30 persen. Sementara, pasangan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno mengantongi suara sebanyak 25.135.659, atau 43,70 persen.
    Pengumpulan data tempat penghitungan suara (TPS) sudah mencapai sekitar 37,7 persen, atau 307.101 dari 813.350 TPS di seluruh Indonesia. Paslon Joko Widodo-Ma’ruf Amin unggul di 21 provinsi. Sementara, Prabowo Subianto-Sandiaga Uno memperoleh suara terbanyak di 13 provinsi.

    Meskipun berada di atas angin, paslon nomor urut 01 tidak ingin terlalu percaya diri meraih kemenangan. Calon Presiden Joko Widodo mengajak semua pihak tetap tenang dan menunggu hasil resmi dari KPU.

    Usai Pemilu 2019, Merajut Kembali Persatuan
    Capres Joko Widodo dan cawapres Ma’ruf Amin (Foto:Antara/Aprillio Akbar)

    Berbeda dengan sikap yang ditunjukkan oleh Prabowo. Dia optimistis meraih banyak suara. Malah, dia sudah menganggap memenangkan Pilpres 2019 dan tidak mempercayai hasil hitung cepat yang dirilis oleh sejumlah lembaga survei kredibel.

    Dia mendeklarasikan kemenangan berdasarkan real count internal Badan Pemenangan Nasional (BPN), diikuti dengan beberapa kali melakukan sujud syukur. Deklarasi kemenangan itu menjadi sorotan publik, terutama saat sang calon wakil presiden Sandiaga Uno tidak ikut mendampingi ketika Prabowo pertama kali melakukan deklarasi kemenangan.

    Klaim kemenangan berkali-berkali oleh kubu 02 menimbulkan pro dan kontra, terutama masing-masing pendukung paslon. Namun demikian, calon wakil presiden Ma’ruf Amin menanggapi santai klaim kemenangan tersebut. 

    Ma’ruf menilai wajar sikap yang ditunjukkan Prabowo. "Tapi enggak apalah. Namanya ingin berusaha. Berusaha itu kan boleh saja, ya," kata Ma'ruf di kediamannya.

    Permasalahan tidak berhenti pada klaim kemenangan. Kubu 02 menilai terdapat kecurangan dalam penghitungan suara yang dilakukan oleh KPU. Tuduhan KPU melakukan kecurangan sempat viral di media sosial, dan menjadi trending topic di Twitter.

    Usai Pemilu 2019, Merajut Kembali Persatuan
    Capres Prabowo Subianto dan cawapres Sandiaga Uno mendeklarasikan kemenangan versi real count internal BPN (Foto:Medcom.id/M Sholahadhin Azhar)

    Suasana semakin panas, perdebatan pun muncul. Serangan kepada KPU dan Bawaslu terkait kecurangan terus terjadi. Sementara itu, banyak juga pihak yang membela KPU dan Bawaslu karena dinilai sudah bekerja maksimal.

    Terkait isu kecurangan, Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Mahfud MD tak heran tudingan kecurangan muncul setelah pemungutan suara Pemilu 2019. Sebab, tudingan itu selalu muncul pada setiap pelaksanaan pemilu.

    "Tudingan (kecurangan) selalu ada. Ritualnya memang seperti itu," kata Mahfud.

    Mahfud mengatakan tuduhan kecurangan akan terus menyerang KPU hingga pengumuman hasil pemilu pada 22 Mei 2019. Setelah itu, Mahfud memprediksi tuduhan kecurangan akan berbalik menyerang Mahkamah Konstitusi (MK) ketika hasil pemilu disengketakan. 

    "Lihat saja nanti. Tuduhan hakim MK disuap lah, dia berpihak sama ini lah, itu nanti akan muncul. Pengalaman saya bertahun-tahun begitu. Itu ritual politik," ujar Mahfud.

    Usai Pemilu 2019, Merajut Kembali Persatuan

    Mahfud MD (Foto: MI/Bary Fathahillah)

    Mahfud menegaskan tak melihat ada kecurangan terstruktur, sistematis, dan masif yang dilakukan penyelenggara pemilu. Dia menyarankan kepada semua pihak yang merasa tak puas dengan penghitungan KPU untuk saling beradu data.

    Sementara itu, Ketua Harian Tim Kampanye Nasional (TKN) Joko Widodo-Ma'ruf Amin, Moeldoko, mengkritik tudingan kecurangan yang kerap dinarasikan oleh Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi dan simpatisannya. Ujaran itu dinilai menyudutkan KPU sebagai penyelenggara pemilu.
     
    "Yang paling penting adalah bahwa semuanya terbuka saja lah. Kami dari TKN terbuka. Mau masuk war room, kami terbuka. Ayo silakan, tidak ada yang tertutup kok. Jangan menuduh-nuduh, tapi ayo buktikan," ujar Moeldoko.

    Di satu sisi, Direktur Eksekutif Lembaga Emrus Corner Emrus Sihombing mengingatkan agar berhati-hati menggunakan istilah kecurangan. Seseorang yang menuduh adanya kecurangan harus memberikan bukti yang lengkap.

    "Tuduhan kecurangan itu harus dibarengi dengan alat bukti awal, baru boleh bicara soal kecurangan," ujar akademisi pascasarjana di Universitas Pelita Harapan itu.
     
    Saling tuduh dan menanggapi isu kecurangan berdampak pada perdebatan panas pendukung dari masing-masing kubu. Istilah cebong vs kampret semakin memanas dan semakin akrab terdengar, terutama di media sosial. 

    Cebong ditujukan kepada para pendukung 01, sedangkan kampret untuk kubu 02. Lahirnya istilah cebong karena Jokowi gemar memelihara kodok ketika menjabat Wali Kota Solo dan Gubernur DKI Jakarta. Para anti Jokowi menyebut Jokowi sebagai raja kodok dan cebongers untuk para pengikutnya.

    Sementara, istilah kampret (kelelawar) ditujukan kepada pendukung Prabowo sebagai bentuk balasan. Masih tidak diketahui pasti kenapa kampret yang dipilih. Namun berdasarkan informasi yang beredar, pendukung Prabowo kerap mempunyai pemikiran yang terbalik, seperti posisi kampret ketika sedang tidur.

    Saling ejek cebong dan kampret yang semakin memanas dikhawatirkan dapat memecah belah bangsa. Berbagai tokoh penting mengajak seluruh masyarakat untuk menyudahi saling ejek tersebut dan mengimbau untuk kembali bersatu dalam memajukan bangsa.

    Usai Pemilu 2019, Merajut Kembali Persatuan

    Ketua DPR Bambang Soesatyo. (Foto: Dok. DPR)

    Salah satunya Ketua DPR RI Bambang Soesatyo. Pria yang akrab disapa Bamsoet itu berharap istilah 'cebong vs kampret' agar diakhiri setelah Pilpres 2019. Masyarakat harus mulai fokus dalam program pengembangan mutu sumber daya manusia (SDM). 

    "Cepat atau lambat, memang harus diakhiri. Bagaimana pun, seluruh elemen bangsa pada akhirnya harus kembali mencermati dan menyiasati tantangan riil yang selalu berubah. Kesinambungan pembangunan nasional harus tetap terjaga," tutur Bamsoet.

    Hal senada juga disampaikan tokoh agama Abdullah Gymnastiar alias Aa Gym. Dia meminta sesama manusia dilarang saling memanggil dengan sebutan buruk, seperti kecebong dan kampret.

    Imbauan persatuan juga dilontarkan oleh Jokowi. Mantan Gubernur DKI Jakarta itu mengajak seluruh masyarakat kembali bersatu sebagai saudara setanah air.
     
    "Marilah kita kembali bersatu sebagai saudara sebangsa dan setanah air setelah pemilu ini, menjalin kerukunan dan persaudaraan," kata Jokowi.

    Usai Pemilu 2019, Merajut Kembali Persatuan
    Capres Prabowo Subianto dan capres petahana Joko Widodo (Foto:Antara/Puspa)

    Sembari menunggu hasil resmi dari KPU, alangkah baiknya semua pihak harus bersabar dan bisa menahan diri. Tidak perlu lagi klaim-klaim kemenangan yang tidak mendasar yang hanya membuat publik semakin bergesekan.

    Saling klaim kemenangan hanya akan mencederai pemilu.  Seharusnya para peserta berbesar hati menerima apapun hasil yang diumumkan KPU.

    Direktur Eksekutif Lingkar Madani untuk Indonesia (LIMA) Ray Rangkuti ngin agar semua pihak memakai kepala dingin. Para peserta pemilu diminta konsisten dengan kesepakatan menunggu hasil resmi dari KPU, pada 22 Mei 2019.
     
    "Jangan lagi membuat pernyataan yang seolah-olah mereka menang sendiri," ucap dia.




    (ROS)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id