Saksi Kubu Prabowo Mengaku Diancam Dibunuh

    Kautsar Widya Prabowo - 19 Juni 2019 22:12 WIB
    Saksi Kubu Prabowo Mengaku Diancam Dibunuh
    Ilustrasi sidang sengketa hasil Pilpres di MK. Foto: MI/Rommy Pujianto
    Jakarta: Salah satu saksi Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo Subianto-Sandiga Uno, Nur Latifah mengaku mendapatkan intimidasi dan ancaman pembunuhan. Hal itu ia sampaikan dalam sidang ketiga Perselisihan Hasil Pemilihan Umum (PHPU) di Makamah Konstitusi (MK).

    Menurut Nur, ancaman tersebut mencuat usai tersebar luasnya video surat suara dicoblos oleh anggota Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS), Dusun Wonosari, Wonosegoro, Boyolali, Jawa Tengah.

    "Jadi tepat pukul 11 malam, tanggal 19 April. Malam itu saya dipanggil ke salah satu rumah warga, di sana sudah ada ketua KPPS, salah satu anggota KPPS, tokoh adat agama, kader partai dan beberapa preman," ujar Nur di ruang sidang MK, Jakarta Pusat, Rabu, 19 Juni 2019.

    Di rumah warga tersebut, ia ditanyakan terkait tersebar luasnya video pencoblosan surat suara oleh anggota KPPS. Padahal, Nur mengaku dirinya tidak pernah menyebarkan video tersebut.

    "Mbak di sini sebagai apa kenapa video itu bisa viral? Saya di sini sebagai relawan bukan saya memviralkan. Lalu bapaknya menuduh 'Mbak menyebarkan dokumen rahasia negara kalau seperti itu,'" imbuhnya menirukan percakapannya saat itu.

    Lalu, Hakim Suhartoyo menanyakan kepada saksi yang bersangkutan, adakah ancaman secara verbal yang ditujukan kepadanya. Nur lantas menuturkan, pada saat pertemuan di rumah warga tidak ada ancaman yang ia rasakan. Ancaman datang saat keesokan paginya.

    "Saya secara tidak lagsung diancam dibunuh. Teman saya Habib mendengar secara langsung bahwa saya diancam akan dibunuh seperti itu," jelasnya.

    Hakim Suhartoyo pun kembali bertanya apakah saksi melaporkan kepada pihak berwajib adanya ancaman pembunuhan tersebut. Namun, saksi Nur mengatakan tidak melakukan pelaporan.

    "Selama ancaman itu tidak langsung ke saya, tidak berbicara langsung dengan saya akan dibunuh, saya merasa masih aman," ungkapnya.

    Lebih lanjut, ancaman teror masih terus menghantuinya hingga 24 April lalu. Tidak jarang Nur mendapatkan ancaman melalui telpon yang ia pastikan berasal dari salah satu kerabat KPPS yang sempat ditemui disalah satu rumah warga.

    "Hati-hati nanti kalau sampai saudara saya ditangkap polisi, kamu orang pertama kali saya salahkan," pungkasnya.



    (DMR)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id