comscore

Cek Fakta: Indonesia Tidak Sedang Deindustrialisasi

Damar Iradat - 13 April 2019 21:58 WIB
Cek Fakta: Indonesia Tidak Sedang Deindustrialisasi
Pasangan nomor urut 02 Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno mengikuti debat kelima Pilpres 2019 di Hotel Sultan. Foto: Antara/Wahyu Putro.
Jakarta: Calon presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto menyayangkan bangsa Indonesia berjalan ke arah yang salah. Di negeri kaya, Indonesia malah justru terjadi penurunan kontribusi sektor manufaktur terhadap produk domestik bruto (PDB) alias deindustrialisasi.
 
"Arah ini kalau diteruskan tidak akan memungkinkan membawa kesejahteraan yang sebenarnya bagi bangsa Indonesia. Ini sudah terbukti bahwa kita telah menyimpang dari cita-cita pendiri bangsa kita," kata Prabowo saat membuka debat kelima capres-cawapres di Hotel Sultan, Jalan Jenderal Gatot Subroto, Jakarta Pusat, Sabtu, 13 April 2019.

Menurutnya, Indonesia tertinggal ketimbang negara-negara lain yang sudah lebih dulu menjadi bangsa industrialisasi. Musababnya, jelas Prabowo, Indonesia tidak memproduksi apa-apa di seluruh sektor ekonomi. 
Namun begitu, menurut Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Industri (BPPI) Kementerian Perindustrian Ngakan Timur Antara mengatakan, Indonesia tidak sedang mengalami hal itu. Deindustrialisasi terjadi jika industri tidak tumbuh dan kontribusinya terhadap produk domestik bruto (PDB) turun. 

“Tetapi, industri kita tumbuh, sekitar 4,8% tahun lalu. Kalau tumbuh, artinya bukan deindustrialisasi,” kata dia di Jakarta, Kamis, 17 Januari 2019.

Baca: Prabowo: Terjadi Deindustrialisasi di Negara Kita

Ia melanjutkan, kalau deindustrialisasi, artinya terjadi pemutusan hubungan kerja (lay off) besar-besaran. Namun, faktanya, pada 2015-2018, jumlah tenaga kerja sektor industri bertambah dari 15 juta menjadi 17 juta. Jumlah itu 14% dari seluruh angkatan kerja yang jumlahnya 133 juta.

Lebih lanjut, data United Nations Industrial Development Organization (UNIDO) pada 2018, dilihat dari sisi manufacturing value added, tren industri Indonesia membaik. Nilai tambah industri nasional meningkat hingga USD34 miliar, dari 2014 yang mencapai USD202,82 miliar menjadi USD236,69 miliar pada 2018.

(DMR)

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

 

 

 

Komentar

LOADING
Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

  1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
  2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
  3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
  4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

Anda Selesai.

Powered by Medcom.id