Aktivis 98: Tak Ada Alasan Melakukan People Power

    Antara - 22 April 2019 11:02 WIB
    Aktivis 98: Tak Ada Alasan Melakukan <i>People Power</i>
    Aktivis 98 Adian Napitupulu. Foto:
    Jakarta: Aktivis Perhimpunan Nasional Aktivis 98 (Pena 98) Adian Napitupulu mengingatkan saat ini tidak ada alasan kuat untuk mengerahkan kekuatan massa atau people power. Menurutnya, people power dilakukan untuk melawan pemerintah yang semena-mena dan menindas rakyat. 

    "People power bergerak bukan karena kalah pemilu. People power karena ada kejahatan kepada rakyat. Kalau habis pemilu menggerakkan orang, itu namanya 'people ngambek'," ucap Adian, seperti dilansir Antara, Senin, 22 April 2019.

    Adian mengingatkan kepada kelompok yang kalah pemilu untuk tidak terus mengembuskan isu dan mencoba-coba menggerakkan rakyat melalui kegiatan inkostitusional seperti people power

    "Hentikan ancaman people power itu. Angkatan 98 jangan dipaksa kembali berhadap-hadapan. Kalau memang Prabowo kalah lagi, kan memang sudah biasa. Sesuatu yang berulang, seharusnya sudah biasa buat dia. Prabowo hentikan marahnya, kasih Jokowi kesempatan membangun bangsa ini," ucap Adian.

    Hasil hitung cepat (quick count) sejumlah lembaga survei menyatakan pasangan Joko Widodo-Ma'ruf Amin unggul dengan perolehan suara berkisar 54 persen. Adapun pasangan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno meraih suara sekitar 45 persen.

    Di perhitungan rekapitulasi sementara Komisi Pemilihan Umum (KPU) hingga Minggu, 21 April, pasangan Jokowi-Ma'ruf masih unggul 54,28 persen dengan jumlah suara masuk 11,1 persen.

    Adian menilai dari hasil hitung cepat dan rekapitulasi suara KPU itu kemenangan pasangan Jokowi-Ma'ruf sesungguhnya sudah terlihat. Karena itu, kemenangan Jokowi di Pemilu 2019 merupakan kemenangan rakyat dan demokrasi. 

    "Kemenangan Jokowi adalah kemenangan Indonesia. Kemenangan Jokowi adalah kemenangan bagi demokrasi," kata dia.

    Anggota Tim Kampanye Nasional (TKN) Joko Widodo-Ma'ruf Amin, Sakti Wahyu Trenggono, menjelaskan usai Pemilu 2019 sesungguhnya masih ada banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan oleh presiden terpilih. Di antaranya, menyelesaikan masalah kebinekaan yang berhubungan dengan masifnya gerakan intoleran dan radikal.

    "Isu kebinekaan masih menjadi isu yang harus disikapi ke depannya. Kaum intoleran dan radikal masih menjadi PR (pekerjaan rumah) besar. Ada partai yang berbasiskan gerakan itu. Yang kita khawatirkan bukan 2019, tapi 2024. Mereka melakukan konsolidasi terus-menerus," kata Sakti.




    (UWA)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id