Safety Riding

    Begini Teknik Pengereman Motor Kopling saat Hujan

    M. Bagus Rachmanto - 04 Januari 2020 12:55 WIB
    Begini Teknik Pengereman Motor Kopling saat Hujan
    Perhatikan teknik pengereman yang aman saat hujan. Motorcycle
    Jakarta: Musim hujan mengguyur sebagian besar wilayah di Indonesia. Para bikers tentu saja harus lebih berhati-hati saat berkendara di bawah guyuran hujan, khususnya dalam teknik berkendara.
     
    Chief of Trainer Rifat Drive Labs (RDL), Herry Wahyudi menuturkan, disaat hujan, tanjakan dan turunan bisa jadi sangat berbahaya. Untuk itu Ia berbagi tipsnya.
     
    "Bagi biker yang mengendarai motor kopling di tanjakan adalah dengan menjaga kecepatan tetap stabil di gear yang rendah. Jangan berpikir untuk berkecepatan tinggi di tanjakan, apalagi dengan gear yang tinggi," kata Herry kepada Medcom.id di Jakarta, beberapa waktu lalu.

    Sedangkan teknik di turunan, lakukan engine brake pada motor. Hal ini akan membuat laju motor melambat tanpa harus menggunakan rem. Anda juga tak akan khawatir motor akan selip. Karena motor aman terkendali.

    Selain teknik engine brake, sebaiknya bikers menggunakan rem belakang saja ketika berkendara di kondisi hujan. Terlebih untuk motor jenis matic.
     
    Dia beralasan bahwa saat hujan jalanan menjadi lebih licin dan rawan slip. Sedangkan titik handling motor berada di ban depan. Jika ban depan slip, maka motor akan sulit untuk dikendalikan. Sementara jika ban belakang selip, pengendara masih bisa mengontrol motor lewat ban depan.
     
    Apalagi saat kondisi ban belakang terkunci, biasanya kaki juga refleks melepas tuas rem. Mengingat, saat kondisi seperti ini, gerakan refleks biasanya sudah diantisipasi. Terpenting, fokus untuk mengendalikan motor tetap berjalan.

    Berbeda dengan motor manual yang sistem pengeremannya bisa dibantu engine brake, sedangkan pada motor matic hanya mengandalkan rem dan feeling pengendara

    Herry menerangkan hal tersebut lumrah terjadi dikarenakan bobot motor matic cenderung lebih berat di belakang dibanding di depan, oleh karena itu penting bagi biker memahami cara pengereman yang benar.

    Untuk itu Herry mengingatkan, pada kecepatan tinggi di atas 40 km per jam, pengereman motor matic sebaiknya menggunakan teknik combi brake/rem kombinasi, yaitu menarik tuas rem bersamaan secara perlahan agar ban belakang tidak slip/ngebuang.
     
    "Gunakan pijakan kaki untuk memindahkan bobot saat terjadi rem mendadak, karena ketika itu terjadi secara otomatis bobot pengendara akan mendorong ke depan, jadi jangan mengandalkan tumpuan pada setang dan tangan saja," terang Herry.
     
    Hal lain yang perlu diwaspadai adalah kondisi ban yang sudah botak/habis. Saat hujan kondisi ban yang botak sangat berpengaruh terhadap efek aquaplaning, karena sudah tidak bisa membuang air dengan sempurna sehingga traksi berkurang.
     
    "Kondisi seperti ini bisa mengakibatkan sepeda motor tidak bisa dikendalikan bahkan hilang kendali, apalagi pada saat pengereman dan pindah jalur," tambah Herry.
     
    Usia ban depan motor yang sering digunakan atau yang memiliki jam terbang tinggi dalam keseharian biasanya tidak lebih dari 1,5 tahun. Sedangkan ban belakang sekitar 10 bulan.
     
    Ban sepeda motor yang minta diganti baru dapat dilihat dari bagian luar, melalui tanda yang ada di bagian samping ban yaitu tanda segitiga yang disebut tread wear indicators (TWI). Jika permukaan ban sudah menyentuh tanda ujung segitiga, ban motor harus segera diganti dengan yang baru.



    (UDA)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id