Pentingnya Lampu Sein Bagi Keselamatan Pengendara

    M. Bagus Rachmanto - 25 November 2019 10:57 WIB
    Pentingnya Lampu Sein Bagi Keselamatan Pengendara
    Pastikan lampu sein di motor hidup sebelum berkendara. Bellycraft
    Jakarta: Melakukan manuver saat di jalan, berpindah jalur atau berbelok, memang lazim dilakukan pengguna jalan. Namun perlu diingat, agar tidak terjadi kekacauan atau bahkan kecelakaan, sebelum melakukan manuver, pengemudi harus menghidupkan lampu sein di sepeda motornya, berhati-hati dan menuruti rambu-rambu lalu lintas.

    Salah satu yang menjadi aturan tata tertib lalu lintas saat berkendara adalah penggunaan lampu sein. Lampu sein berfungsi sebagai indikator kendaraan saat akan berbelok.
     
    Lampu sein yang disematkan juga sebagai tujuan untuk mengurangi risiko terjadinya kecelakaan lalu lintas. Saat ini Lampu sein menjadi salah satu kelengkapan yang harus dimiliki oleh semua kendaraan bermotor. Lampu sein secara umum berwarna kuning yang akan menyala berkedip-kedip ketika dihidupkan.
     
    Secara umum komponen ini memiliki peranan yang sangat penting bagi setiap orang saat berkendara. Adapun penggunaannya harus saat waktu yang tepat ketika akan berbelok atau berpindah jalur. Jika salah tentu akan menjadi fatal akibatnya.
     
    Maka dari itu lampu sein tiap kendaran bermotor haruslah hidup dan aktif. Jangan sampai lampu sein motor tidak berfungsi atau mati. Meski tidak menutup kemungkinan, lampu sein berfungsi dengan baik namun jika kita tidak hati-hati, kecelakaan pun tidak dapat dihindarkan, seperti dikutip dari laman Suzuki.
     
    Kecelakaan tidak hanya berimbas pada diri sendiri melainkan juga pada orang lain. Maka dari itu penggunaan lampu sein pun perlu diperhatikan lebih. Apabila lampu sein sudah tidak berfungsi dengan baik segera bawa bengkel dan direparasi.

    Lantas kapan sebaiknya kita menghidupkan lampu sein? "Apabila kita ingin berbelok atau mengubah arah sebaiknya memberi sinyal dengan menyalakan lampu sein tiga detik sebelum berbelok ke arah yang dituju," ujar Instruktur Safety Riding PT Astra Internasional (Main dealer Honda Irian Jaya), Irfandy Achmad, seperti dikutip dari laman resmi Honda.

    Hal ini dilakukan agar orang yang ada di sekitar kita tahu bahwa sepeda motor ini akan bermanuver. Sehingga pengendara yang ada di belakang bisa mengantisipasi dan memberikan jalan.

    Selain itu, alasan tiga detik ini juga terkait dengan kemampuan manusia berfikir. Pendiri dan Instruktur Jakarta Defensive Driving Consulting (JDDC), Jusri Pulubuhu, menjelaskan bahwa manusia membutuhkan waktu minimal tiga detik dari menerima informasi sampai berekasi.
     
    "Pertama pengemudi pasti melihat, kemudian signal ini di kirim ke otak dan akan diolah untuk keputusan yang harus di ambil. Jika harus melakukan pengereman, maka otak akan menyuruh kaki dan tangan untuk mengerem. Ini memerlukan waktu minimal tiga detik," terang pria yang sudah 30 tahun lebih menggeluti dunia safety driving dan riding.
     
    Kemudian Ifandy Achmad juga mengingatkan sebelum berbelok lihat juga kondisi di sekitar, khususnya ke belakang melalui kaca spion. Jangan lupa kepala ikut juga menoleh untuk melihat titik blind spot spion.
     
    Selain memperhatikan titik blind spot yang tak kalah penting adalah tentang teknik riding saat di tikungan. Lantaran dalam prakteknya, tak sedikit pengendara sepeda motor yang masih kurang paham tentang teknik berkendara yang aman. Salah satunya batas aman kecepatan saat akan berbelok di tikungan tajam dengan kecepatan maksimal 30-40 km per jam.
     
    Hal yang paling utama untuk melewati tikungan dengan aman adalah pastikan batas kecepatan dan pandangan yang selalu ke depan. Hal itu untuk memastikan kondisi jalan dan lingkungan sekitar.
     
    Pada saat menikung, bagian roda yang menempel dengan permukaan jalan akan menjadi lebih sedikit bila dibandingkan dengan saat berjalan lurus. Oleh sebab itu, hindari penambahan atau pengurangan secara mendadak ketika sedang menikung.
     
    Jusri menjelaskan, lebih baik kurangi kecepatan sebelum masuk tikungan kemudian menikung dengan kecepatan konstan, dan tambah kecepatan setelah keluar dari tikungan.
     
    "Kecepatan yang aman saat di tikungan tajam jangan lebih dari 30-40 km per jam. Jangan menekan kopling saat menikung karena akan terjadi free wheel alias tak ada efek engine brake atau lost traction."
     



    (UDA)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id