Teknologi Otomotif

    Mengenal Teknologi Mild Hybrid 48 Volt Hyundai

    Ekawan Raharja - 07 Februari 2020 18:37 WIB
    Mengenal Teknologi Mild Hybrid 48 Volt Hyundai
    Sistem MHSG secara jelas meningkatkan efisiensi berkendara. Hyundai

    Jakarta: Salah satu inovasi teknologi Hyundai dalam mengembangkan mesin konvensional adalah penggunaan teknologi mild hybrid. Sistem mild hybrid ini memanfaatkan baterai dan generator mobil bermesin pembakaran internal (internal combustion engine/ICE) untuk meningkatkan efisiensi dan menekan emisi gas buang.  

    Teknologi ini dari baterai lithium-ion 48 volt 0,44 kWh, Mild Hybrid Starter Generator (MHSG), dan konverter LDC (Low voltage DC/DC). Sebagai tambahan sistem kelistrikan 48V, ada juga kelistrikan konvensional dengan aki 12 volt yang terhubung dengan konverter DC/DC ke sistem 48V. Dengan begitu, sejumlah energi yang tersimpan pada sistem 48V, juga bisa dipakai untuk menstabilkan suplai 12V.


    Baterai li-ion 48V tersimpan di bawah kompartemen bagasi menyuplai energi listrik untuk sistem mild hybrid dan MHSG menempel pada mesin. Sebuah sabuk menghubungkan MHSG dengan crankshaft mesin, kemudian MHSG menghasilkan energi hingga 12 kW dan torsi 55 Nm pada shaft MHSG.

    Teknologi mild hybrid ini diklaim meningkatkan efisiensi bahan bakar dan emisi gas buang. Tergantung dari spesifikasi kendaraan, emisi C02 yang dikeluarkan bisa ditekan sampai 11 persen.

    Selain itu, sistem mild hybrid 48V juga membantu mesin dengan sejumlah tenaga ekstra pada tahap tertentu dan menjamin nyala mesin lebih cepat serta mulus. Hasil akhirnya, beban kerja dari mesin bisa dikurangi.

    Pada kepadatan lalu lintas kota, misalnya, MHSG mendukung mesin untuk menyala kembali setelah berhenti. Dengan itu, nyala awal mesin lebih cepat dan halus, dengan suplemen torsi yang ditarik dari sumber energi baterai 48V. Alhasil, mesin menyala 0,2 detik lebih cepat. Sedangkan baterai konvensional 12V hanya dibutuhkan untuk menyalakan awal kala oli masih dingin dan butuh torsi awal lebih tinggi.

    Saat berakselerasi, MHSG juga menyuplai mesin dengan daya sebesar 4 sampai 12 kW. Hal itu tergantung pada kondisi pengisian sistem baterai dan input akselerator dari pengemudi. Saat mencapai titik kecepatan yang dibutuhkan, MHSG beralih ke mode netral dan tidak mengirimkan daya. Ujungnya, peningkatan efisiensi bahan bakar dan emisi gas buang.

    Baterai 48V bisa terisi dari MHSG ketika mobil melaju dalam kecepatan konstan. Selain itu, pengereman aktif juga bisa dimanfaatkan sistem untuk mengisi baterai. Memanfaatkan energi kinetik yang terbuang dari pengereman, kemudian diubah oleh generator menjadi listrik yang dikirim ke baterai 48V. 

    Fungsi start-stop juga bisa diperpanjang. Kala melaju pelan, fungsi start-stop sudah aktif pada 30 kilometer per jam (kpj). Di bawah deselerasi antara 30-0 kpj dan saat kopling terlepas, mesin akan mati sepenuhnya. 

    Model Hyundai yang sudah dibekali dengan mild hybrid 48V, Tucson dengan mesin diesel 2.0 liter CRDi. Yang terbaru, mesin diesel 1.6 liter CRDi dengan 100 kW/126 PS. Tak berhenti sampai situ, Hyundai berniat memperluas lini produk yang bakal dipasangkan sistem mild hybrid 48V.





    (UDA)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id