Bahan Bakar Terbarukan, Tugas Besar Pemerintah dan Industri Otomotif

    Ahmad Garuda - 27 Februari 2019 08:36 WIB
    Bahan Bakar Terbarukan, Tugas Besar Pemerintah dan Industri Otomotif
    Bahan bakar terbarukan jadi tugas besar pemerintah dan industri otomotif. Foto Antara//Ahmad Subaidi
    Jakarta: Pemerintah sebenarnya sudah membahas mendalam tentang energi terbarukan untuk digunakan di Indonesia beberapa tahun ke depan. Namun sejak Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo menegaskan dalam Debat Kedua Calon Presiden pada Minggu (17/2/2019), bahwa rancangan peralihan green fuel, sudah matang.

    Untuk kendaraan komersil, sudah ditetapkan dalam Peraturan Menteri ESDM No. 12 Tahun 2015 tentang penerapan B20 yang dibatasi hanya sampai akhir 2019. Nantinya ditingkatkan menjadi B30 di tahun berjalan pemberhentian B20. Dalam peraturan tersebut, juga dibahas tentang penerbitan spesifikasi B100 sesuai Standar Nasional Indonesia (SNI) 7182:2015.
    Hal ini pun disambut dengan sangat baik oleh Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) sebagai asosiasi resmi industri otomotif nasional. Mereka bahkan sudah merancang skema green fuel dan siap bekerja sama dengan pemerintah, jika memang wujudnya sudah ada.

    Bahan Bakar Terbarukan, Tugas Besar Pemerintah dan Industri Otomotif

    "Kami sangat mendukung program pemerintah tersebut. Mengingat arahnya memang ke sana. Industri otomotif global pun sudah beralih, tapi memang tidak bisa melompat jauh. Kita harus jajal dulu ragam kemungkinan yang bisa dilakukan. Menuju kata ramah lingkungan itu caranya cukup banyak. Bisa dengan kendaraan hibrida, plug-in hybrid, bahkan proses bahan bakar ethanol yang diramu sedikit demi sedikit," jelas Ketua Umum Gaikindo, Yohannes Nangoi dalam acara jumpa pers pada Selasa (26/2/2019) di Beer Hall, Jakarta.

    Nangoi juga menjelaskan tentang komitmen pemerintah menerapkan standar Euro 4 untuk kendaraan komersil yang wajib dilakukan per Maret 2021 nanti. Walaupun untuk kendaraan penumpang teknologinya sudah ada, namun tak mudah dalam hal penerapan untuk kendaraan berdimensi mesin besar.

    "Ya butuh proseslah. Kami juga berharap ini menjadi tugas yang diterima dengan baik oleh para insinyur dan teknisi di pabrikan otomotif. Sehingga, nantinya dalam kurun waktu yang ditetapkan, regulasi Euro 4 benar-benar bisa digunakan. Kalau bisa, ya teknologi kita lebih baik lagi dari itu. Tapi semuanya butuh proses."

    Nangoi memberikan contoh salah satu negara di Amerika Selatan yaitu Brasil, kini sudah menggunakan bahan bakar terbarukan yaitu ethanol untuk kendaraan berdimensi besar. Di Indonesia, menurutnya, juga sangat potensial menanam tumbuhan yang bisa menghasilkan ethanol seperti jagung dan kelapa sawit.



    (UDA)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id