Mengenal Fitur Keselamatan Crumple Zone di Mobil

    M. Bagus Rachmanto - 19 Oktober 2019 10:16 WIB
    Mengenal Fitur Keselamatan Crumple Zone di Mobil
    Crumple zone, membuat bagian depan mobil lebih mudah rusak. Autoevolution
    Jakarta: Saat ini bagian depan mobil keluaran terbaru banyak yang terlihat kopong. Lihat saja bumper yang besar namun tak ada komponen apa pun dibaliknya, paling hanya batang alumunium tipis sebagai bracket komponen bodi bagian luar mobil saja.
     
    Hal ini dianggap salah satu hal penyebab mobil mudah rusak, jika menabrak sesuatu meski bukan dalam kecepatan tinggi. Tapi hal itu merupakan salah satu fitur keselamatan, yang disebut dengan crumple zone.
     
    "Dulu pabrikan tak peduli pejalan kaku, bumper besi, orang keserempet dikit patah kaki, sekarang ini kebalikannya. Bumper besar tapi kopong, seperti gabus keras," kata Taqwa Suryo Swasono, dari Garden Speed di Serpong, beberapa waktu lalu.

    Tak hanya itu, engine mounting pun disebutnya dibuat lebih lemah. "Karena ada hubungannya dengan crumple zone, saat tabrakan frontal mesin akan jatuh ke bawah, hancur tapi kabin aman," sambungnya.

    Pembuktian kerja crumple zone bisa dilihat di video crash test yang sudah banyak tersebar. Bagian depan mobil memang akan hancur, namun strukur kabin tetap utuh.
     
    "Patokannya pilar A, jika sampai terdeformasi dan menyulitkan evakuasi, maka rating uji tabraknya akan rendah. Rating yang rendah, maka mobil itu tidak akan laku di Eropa," pungkas pria berambut ikal tersebut.
    Kenapa Mobil Modern Terkesan Ringkih?
    Seperti peribahasa, mencegah lebih baik dari pada mengobati. Dalam berkendara kita juga perlu paham cara berkendara yang aman. Pendiri dan Instruktur Jakarta Defensive Driving Consulting (JDDC), Jusri Pulubuhu, menjelaskan ada trik untuk menghindari tabrakan beruntun. Triknya adalah sederhana, jangan langsung menginjak pedal rem dan lihat terlebih dahulu kaca spion.
     
    "Kalau di depan ada tabrakan atau kecelakaan, jangan langsung injak rem. Hal pertama yang harus dilakukan adalah melihat kaca spion," ungkap Jusri kepada Medcom.id, beberapa waktu lalu.
     
    Alasannya adalah dengan melihat spion, maka pengemudi bisa melihat kondisi di belakangnya. Kemudian pengemudi bisa mengambil tindakan yang tepat.
     
    "Kalau misalkan di belakang ada mobil, kita bisa pindah jalur ke sebelahnya atau mungkin masuk ke rumput-rumput. Sedangkan kalau tidak ada mobil di belakang, baru kita bisa injak rem untuk menghindarinya."
     
    Tentu saja resiko tabrakan beruntun sangat memungkinkan mengintai pengemudi di jalan tol. Mengingat bila jalan tol lancar, maka pengemudi akan bergerak dengan kecepatan tinggi dan konstan.
     
    "Ketika jalanan lancar, maka akan ada karakteristik jalan tol yakni kondisi melaju yang konstan dan kecepatan tinggi. Ada risiko kecelakaan beruntun," ujar Jusri.
     
     



    (UDA)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id