Waspada Efek Buruk Mencampur BBM

    M. Bagus Rachmanto - 30 Oktober 2019 10:03 WIB
    Waspada Efek Buruk Mencampur BBM
    Mencampur BBM di mobil bikin performa mesin tak maksimal. Foto Antara
    Jakarta: Hingga saat ini masih ada kebiasaan masyarakat Indonesia yang mencampur bahan bakar minyak (BBM) untuk kendaraan bermotor. Seperti contoh mencampurkan Pertalite dengan Pertamax atau dengan pertamax Turbo.
     
    Commercial Fuel Marketing PT Pertamina (Persero), Indra Pratama, mengakui jenis-jenis BBM itu jika dimasukkan ke dalam tangki kendaraan akan tetap tercampur. Hanya saja tidak direkomendasikan karena performa BBM tidak bisa didapatkan secara maksimal.
     
    "Mencampur BBM dapat dilakukan dan akan bercampur dengan baik. Mencampurkan jenis Premium dengan Pertamax sekalipun, tetap bisa tercampur tetapi itu tidak direkomendasikan," jelas Indra kepada Mecom.id di Jakarta, beberapa waktu lalu.

    Dijelaskan bahwa setiap jenis BBM miliki karakteristiknya sendiri. Jadi ketika dicampur, maka tidak akan maksimal performanya.
     
    "Jika ingin mengganti, lebih baik dikuras dulu tangkinya. Kalau dicampur-campur tidak akan terasa," ujarnya.
     
    Salah satu asumsi yang hadir di masyarakat adalah mendapatkan nilai oktan yang lebih baik untuk BBM jenis Pertalite ketika dicampurkan dengan BBM jenis Pertamax. Namun harganya tidak bikin boncos kantong. Hal ini banyak dilakukan untuk alasan tersebut.
     
    Rekomendasi bahan bakar yang biasanya diberikan oleh produsen kendaraan, disesuaikan dengan kebutuhan mesin yang mereka produksi. Jika BBM yang digunakan merupakan hasil pencampuran sendiri yang ada hitungannya, maka kebutuhan mesin terhadap spesifikasi bahan bakar tidak akan sesuai. Ini bisa menyebabkan mesin mengalami kerusakan dalam jangka waktu lama.
     
    Tidak hanya mencampur BBM, ahli otomotif dan bahan bakar Tri Yuswidjajanto meyakini, penggunaan BBM yang tidak sesuai dengan rekomendasi pabrikan bisa merusak mesin kendaraan bermotor.
     
    "Pemakaian harus sesuai. Untuk itu Pertamina membuat banyak jenis bahan bakar agar bisa menyesuaikan dengan banyak jenis mesin dan RON," ujar Tri, kepada Medcom.id , di Jakarta, beberapa waktu lalu.

    Efek jangka panjang pemakain RON yang tidak sesuai bisa mengakibatkan mesin mobil jebol. Untuk kerusakan ringan, piston akan mengalami bopeng di bagian pinggir. Kerusakan terparah bisa membuat piston bolong.
     
    "Gejala awal pemakaian RON yang tidak sesuai dapat dirasakan, di antaranya mesin yang mengelitik dan tidak bertenaga, serta konsumsi BBM jadi lebih boros," tutup Tri.
     
    Penyebabnya cukup logis, yaitu waktu terjadinya pembakaran terhadap bahan bakar, bisa lebih cepat atau lebih lambat. Sehingga untuk mendorong piston bergerak dari titik mati atas, tak lagi sesuai setup mesin. Kalau ini terjadi dalam setiap kinerja mesin terutama untuk mesin kompresi tinggi, maka akan mudah merusak komponen piston.

     



    (UDA)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id