Industri Otomotif

    Sejarah Panjang Hino di Pasar Otomotif Indonesia

    M. Bagus Rachmanto - 07 Maret 2020 15:32 WIB
    Sejarah Panjang Hino di Pasar Otomotif Indonesia
    Kehadiran Hino di Indonesia. Medcom.id/M. Bagus Rachmanto



    Jakarta: Pembangunan infrastuktur di seluruh wilayah Indonesia terus diprioritaskan pengembangannya karena berperan besar terhadap pertumbuhan ekonomi nasional. Otomotif merupakan salah satu sektor andalan yang terus diprioritaskan dan berkontribusi besar bagi ekonomi nasional. Apalagi, Indonesia masih menjadi negara tujuan utama untuk investasi di sektor industri otomotif.  

    Hal ini terlihat dari sumbangsihnya kepada Produk Domestik Bruto (PDB) yang mencapai 10,16% pada tahun 2017 serta mampu menyerap tenaga kerja langsung sekitar 350.000 orang dan tenaga kerja tidak langsung sebanyak 1,2 juta orang.

     



    Sejarah panjang industri otomotif di Indonesia terutama dalam bentuk perakitan dimulai pada tahun 1970-an ketika ada keharusan untuk merakit mobil yang dimasukkan ke Indonesia. Untuk mobil jenis sedan dikenakan bea masuk 100%, sedangkan untuk mobil niaga nol persen Impor mobil Completely Built Up (CBU) dilarang.

    Tahun 1976 muncul ketentuan penggunaan komponen lokal pada industri perakitan di tanah air. Selanjutnya, guna merangsang penggunaan komponen lokal, sejak tahun 1990-an dikenakan bea masuk berdasarkan komponen lokal yang dipakai. Perangkat ketentuan tersebut diharapkan bisa merangsang tumbuhnya industri komponen otomotif, sehingga pada jangka panjang muncul industri otomotif nasional yang kuat. Saat ini sudah bermunculan industri komponen otomotif yang kuat, seperti industri aki, ban, suspensi, kaca, dan karoseri.

    Bicara mobil niaga, kehadiran Hino di Indonesaia pada 1967 menjadi bagian dari sejarah panjang kendaraan bus lengkap, yang merupakan hibah Pemerintah Jepang kepada Pemerintah Indonesia sebagai bentuk kompensasi pendudukan Pemerintah Jepang pada saat perang dunia kedua.

    Meningkatnya kebutuhan sarana transportasi darat, proses komersialisasi dan industrialisasi kendaraan bermotor Hino pun dimulai pada 1970an, ditandai dengan proses perakitan secara sederhana di Indonesia. Kemudian pada 1982 perusahaan patungan antara prinsipal Hino Motors Ltd., Japan dengan Grup Salim mendirikan PT. Hino Indonesia Manufacturing (HIM) yang berlokasi di Tambun, Jawa Barat. Pada saat itu, HIM memproduksi komponen-komponen utama kendaraan bermotor untuk memenuhi kewajiban pendalaman manufaktur yang ditetapkan oleh Pemerintah.

    Pertengahan 1980an, kendaraan niaga truk Hino Ranger FF Series dan Bis AK Series diperkenalkan ke pasar otomotif nasional. Dilanjutkan varian truk FL dan FM pada awal 1990an. Inilah cikal bakal era keemasan kendaraan niaga Hino di Indonesia. Termasuk kehadiran mobil penarik atau Tractor Head SG221MA pada 1995, guna mendukung kebijakan pemerintah dalam hal keselamatan berkendara.

    April 1997 jadi momen bersejarah Hino di Indonesia, di mana peletakan batu pertama pembangunan pabrik Hino di Kawasan Industri Kota Bukit Indah, Purwakarta, Jawa Barat. Setelah mengalami penundaan pembangunan pabrik karena krisis moneter, di 2003 merupakan awal kebangkitan Hino dengan melakukan restrukturisasi HIM menjadi HMMI dan HMSI. Akhirnya pada 8 September 2003 pabrik baru HMMI diresmikan oleh Menteri Perindustrian, bersamaan peluncuran generasi baru Hino Truk Ranger - FG, FL dan FM Series.

    Seiring meningkatnya permintaan pasar, baik pasar domestik maupun ekspor, maka kapasitas terpasang produksi juga ditingkatkan melalui penambahan investasi dan modal kerja. Salah satu realisasinya melalui penambahan lini produksi yang semula hanya terdiri 1 (satu) lini produksi menjadi 2 (dua) lini produksi pada tahun 2009. Peresmian perluasan pabrik HMMI tersebut dilakukan oleh Wakil Presiden Republik Indonesia pada 17 Desember 2009.

    Masuk 2012, merupakan era baru HMMI dengan dimulainya proses permesinan (machining) untuk komponen engine yang meliputi cylinder block, cylinder head, camshaft, crankshaft, dan connecting rod. Komponen utama lainnya seperti transmisi, propeller shaft dan rear axle juga diproduksi di HMMI, selain komponen komponen lainnya yang terus ditingkatkan dibuat di dalam negeri melalui pemasok (supplier).

    Dampak meningkatnya proses manufaktur di dalam negeri, tingkat kandungan komponen dalam negeri pun meningkat cukup drastis. Pada saat ini Hino menklaim tingkat kandungan dalam negeri kendaraan bermotor buatannya berada pada kisaran 50% sampai dengan 70%. 

    Selain untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri, HMMI turut mendukung pendapatan devisa melalui kegiatan ekspor komponen dan kendaraan. HMMI pun tercatat sebagai produsen kendaraan niaga pertama di Indonesia yang melakukan ekspor kendaraan truk dan bus sejak tahun 2011 ke Vietnam dan Filipina. Terus berekspansi, total adal 15 negara tujuan ekspor HMI saat ini,  antara lain Filipina, Vietnam, Laos, Haiti, Bolivia dan beberapa negara di Afrika Barat, dengan total ekspor mencapai 13.000 unit kendaraan dalam kurun waktu 10 tahun terakhir.

    Ekspor komponen kendaraan bermotor Hino juga telah dilakukan ke 17 negara tujuan. Rencana kedepan, Hino menargetkan peningkatan volume dan nilai ekspornya, sejalan dengan diberlakukannya ambang batas emisi gas buang EURO 4 pada tahun 2021.

    Seiring dengan kebijakan pemerintah terkait energi baru terbarukan dan konservasi energi, Hino menjawab tantangan tersebut dengan memproduksi kendaraan chasis bis berbahan bakar gas (CNG) pada 2006 guna memenuhi kebutuhan armada TransJakarta. Di samping itu teknologi engine yang dapat mengkonsumsi bahan bakar bio solar juga dikembangkan secara berkesinambungan sejalan dengan kebijakan Pemerintah dalam meningkatkan campuran minyak nabati pada bahan bakar solar.

    Produk kendaraan Hino yang berbasis ramah lingkungan di produksi di pabrik yang mengadopsi sistem manajemen lingkungan ISO14001-2015 secara mandiri, serta program PROPER yang merupakan kebijakan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. 
     
    Berkat proses panjang, kerja keras dan adanya dukungan penuh dari pelanggan, dealer, pemegang saham, manajemen, karyawan, serikat pekerja, pemasok, instansi terkait serta pihak-pihak lainnya, akhirnya pada 17 Desember 1982 Hino berhasil dengan percapaian target produksi kendaraan 500.000 unit, selama 37 tahun menigisi pasar otomotif Indonesia.

    (UDA)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id