Emisi Gas Buang

    Standarisasi Euro4, Wajib jika Tak Ingin Emisi Kian Tinggi

    M. Bagus Rachmanto - 06 Maret 2020 18:18 WIB
    Standarisasi Euro4, Wajib jika Tak Ingin Emisi Kian Tinggi
    Regulasi Euro4 wajib diterapkan jika tak ingin emisi dari kendaraan kian tinggi. Dok Isuzu
    Jakarta: Isu emisi tinggi dari hasil pembakaran bahan bakar minyak (BBM) di sektor transportasi, masih terus jadi perhatian besar dari pemerintah. Dampaknya, gas buang yang mengandung polutan juga naik dan mempertinggi kadar pencemaran udara.

    Berdasarkan banyak penelitian, emisi kendaran bermotor disebut mengandung gas karbon dioksida (CO2), nitrogen oksida (NOx), karbon monoksida (CO), volatile hydro carbon (VHC), dan partikel lain yang berdampak negatif pada manusia ataupun lingkungan bila melebihi ambang konsentrasi tertentu.

    Seperti dilansir situs resmi Gaikindo, dalam upaya mengurangi emisi, negara-negara di dunia seperti Uni Eropa (European Union – EU) mulai menggunakan alat transportasi yang mengaplikasikan teknologi  ramah lingkungan.

    Di awal 1990 EU mengeluarkan peraturan yang mewajibkan penggunaan katalis untuk mobil bensin, yang dikenal dengan standar Euro 1. Ini bertujuan untuk memperkecil kadar bahan pencemar yang dihasilkan kendaraan bermotor. Kemudian secara bertahap EU memperketat peraturan menjadi standar Euro 2 (1996), Euro 3 (2000), Euro 4 (2005), Euro 5 (2009), dan Euro 6 (2014).

    Persyaratan yang sama juga diberlakukan untuk mobil diesel dan mobil komersial berukuran kecil dan besar. Standar emisi kendaraan bermotor di Eropa ini juga diadopsi oleh beberapa negara di dunia.

    Penerapan standar emisi tersebut diikuti dengan peningkatan kualitas BBM. Contohnya Euro 1 mengharuskan mesin diproduksi dengan teknologi yang hanya menggunakan bensin tanpa timbal. Euro2 untuk mobil diesel harus menggunaan solar dengan kadar sulfur di bawah 500 ppm. Pengurangan lebih banyak kadar sulfur di mesin bensin dan solar diatur dalam Euro3, Euro4 dan untuk truk diesel diatur dalam Euro5.

    Dalam menetapkan standar emisi kendaraan di suatu negara, pembuat kebijakan perlu mengetahui memperhatikan antara dua hal penting yang berkaitan erat. Yakni antara standar emisi kendaraan dengan teknologi mesin kendaraan dan kualitas BBM, agar menjamin kertersediaan kualitas BBM.

    Pada saat ini Indonesia masih menggunakan Euro2, berdasarkan Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No 141/2003 tentang Ambang Batas Emisi Gas Buang Kendaraan Bermotor Tipe Baru sejak 2007. Tapi masih banyak kendaraan pribadi atau umum yang masih menggunakan standar emisi Euro 1.

    Mulai 1 Agustus 2013 Indonesia mulai menerapkan Euro3 pada kendaraan bermotor roda dua. Sepeda motor harus menggunakan BBM standar Euro3 dengan oktan 91 dan tanpa timbal. Tapi dalam pelaksanaan kebijakan tersebut dianggap belum efektif. Dengan disahkannya Perpres Mobil Listrik baru-baru diharap bisa mengurangi dampak polusi lebih baik lagi, sambil berbenah soal uji emisis kendaraan bermotor

    "Untuk ramah lingkungan, bahan bakar biofuel ada dua yang bisa dimodifikasi. Pertama bio-nya kedua fuelnya. Melihat kendaraan yang ada di Indonesia, paling banyak kemungkinannya bisa meggunakan biofuel. Ini juga berkaitan dengan ketahanan energi kita karena bahan bakunya melimpah," kata Direktur Industri Maritim, Alat Transportasi, dan Alat Pertahanan, Putu Juli Ardika di Diskusi Isuzu Ready Euro4 Bersama Kemenperin di Jakarta, Jumat (6/3/2020).

    Putu juga mengingatkan tentang penggunaan bahan bakar dengan kualitas buruk yang mengandung banyak sulfur. Menurutnya sulfur bisa berubah jadi zat asam.

    "Sebagai gambaran, nakanya tidak disarankan ketika baru hujan kita berada di luar, karena kepala akan terasa pusing, trutama hujan di Jakarta. Hal itu karena dilengaruhi oleh zat asam. Begitupun dengan mesin mobil. Saya harap bahan bakar yang euro-nya lebih tinggi bisa bersahat dengan engine," pungkas Putu.



    (UDA)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id