comscore

IMI Lobi-Lobi Bea dan Cukai Soal Kendaraan & Onderdil Balap

Ekawan Raharja - 07 Desember 2021 09:00 WIB
IMI Lobi-Lobi Bea dan Cukai Soal Kendaraan & Onderdil Balap
Mobil balap Citroen C3 yang dimiliki Sean Gelael. IST
Jakarta: Pereli nasional, Rifat Sungkar, sempat mengeluhkan sulitnya para pembalap Indonesia untuk mendapatkan mobil balap baru dan mendatangkan onderil balap dari luar negeri. Hal ini lekas dijawab Ikatan Motor Indonesia (IMI) dengan menemui Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Kementerian Keuangan.

Kedua instansi ini sepakat untuk saling bersinergi meningkatkan kerjasama, bersama-sama dengan Kementerian Perdagangan dan Kementerian Perindustrian, Khususnya dalam memperlancar pengiriman kendaraan roda dua dan roda empat untuk kebutuhan olahraga balap, termasuk pasokan onderdil kendaraan balap dari luar negeri.
"Peraturan Menteri Perindustrian Nomor 14 tahun 1 tentang Kriteria Teknis Impor Barang Modal dalam Keadaan Tidak Baru telah mengatur ketentuan masuknya berbagai suku cadang kendaraan yang bisa digunakan para pembalap untuk memperkuat kendaraan balapnya. Namun implementasinya di lapangan, khususnya di pelabuhan saat barang masuk, seringkali  terdapat berbagai kesulitan, sehingga tidak jarang suku cadang yang sudah dibeli dari luar negeri, tidak bisa masuk ke Indonesia," ujar Ketua Umum IMI, Bambang Soesatyo, melalui keterangan resminya.

Pria yang juga menjabat sebagai Ketua MPR ini menjelaskan rata-rata setiap satu kendaraan balap bisa membutuhkan 4-5 mesin cadangan. Hal ini dikarenakan sulit mengurus impor masuk mesin, tidak jarang pembalap justru menyiasatinya dengan membeli kendaraan sejenis hanya untuk mengambil mesinnya saja.

"Tidak heran jika satu pembalap yang menggunakan kendaraan balap jenis Honda Jazz, misalnya, bisa memiliki 4-5 mobil honda jazz di garasinya, hanya untuk diambil mesinnya saja. Menjadikan bengkaknya pengeluaran sekaligus ketidakefektifan dalam sistem penyelenggaraan olahraga balap di Tanah Air," jelas pria yang akrab disapa Bamsoet.
 

Dia menerangkan, IMI sedang mengupayakan melalui Kementerian Perdagangan, Kementerian Perindustrian, serta Direktorat Bea dan Cukai agar Indonesia bisa membuat regulasi yang semakin memudahkan impor permanen masuknya kendaraan balap internasional dengan posisi setir di sebelah kiri. Mengingat berbagai kejuaraan balap mobil internasional, 99 persennya menggunakan mobil balap dengan posisi setir di sebelah kiri.

"Karena ketiadaan kendaraan balap dengan posisi setir di sebelah kiri di Indonesia, menjadikan para atlet nasional kesulitan berlatih di dalam negeri. Sementara untuk berlatih di luar negeri, ongkos yang dikeluarkan sangat tinggi. Efeknya, saat harus bertanding di luar negeri, para atlet harus terlebih dahulu beradaptasi dengan posisi setir di sebelah kiri, Tidak heran jika terkadang hasil akhir yang diberikan kurang maksimal," terang Bamsoet.

(ERA)



Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

 

 

Komentar

LOADING
Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

  1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
  2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
  3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
  4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

Anda Selesai.

Powered by Medcom.id