Kisah Mandeg, Penyumbang Emas Indonesia dari Sepak Takraw

    Rhobi Shani - 15 Desember 2019 12:18 WIB
    Kisah Mandeg, Penyumbang Emas Indonesia dari Sepak Takraw
    Mandeg Suharno (kanan). (Foto: Rhobi Shani)
    Jepara: Ratusan penonton duduk di tribun memadati gedung olah raga (GOR) Sepak Takraw Kabupaten Jepara, Jawa Tengah. Di tepi lapangan, sejumlah tim pelatih klub sepak takraw yang bertanding nampak duduk mengamati jalannya pertandingan. Ada pula yang memberikan intruksi dari luar lapangan.

    Nampak Mandeg Suharno, atlet sepak takraw peraih medali emas pada SEA Games 2019, berdiri di sudut lapangan. Dengan mengenakan celana pendek berpadu atasan jaket, Mandeg bersemangat memberikan motivasi kepada atlet junior sepak takraw Jepara yang akan bertanding.

    “Kemarin sampai di Jakarta. Terus sampai Jepara baru tadi jam 11.00 WIB, lalu kesini lihat kejuaraan,” ujar Mandeg ditemui Medcom.id di GOR Sepak Takraw Kabupaten Jepara, Sabtu, 14 Desember 2019.

    Sembari menyaksikan jalannya pertandingan Mandeg bercerita. Mulanya ketertarikannya kepada sepak takraw lantara iming-iming sepatu. Saat duduk di kelas 3 Sekolah Dasar (SD), Mandeg, setiap sore melihat para remaja di desanya berlatih sepak takraw.

    “Awalnya saya hanya lihat. Terus Pak Rifai bilang, kalau saya bisa menimang-nimang bola 20 kali tidak jatuh, saya akan diberi sepatu. Saya coba dan saya bisa 22 kali,” ujar Mandeg sembari melemparkan pandangan kepada Rifai, pelatih sepak takraw yang berada di tepi lapangan.

    Setelah mendapat pemberian sepatu dari Rifai, Mandeg jadi rutin berlatih setiap sore usai pulang sekolah madrasah. Mulanya, orangtua Mandeg ragu memberikan dukungan kepada anaknya untuk berlatih sepak takraw.

    “Khawatir kalau (latihan takraw) mengganggu mengaji saya, karena selesai latihan itu magrib, habis magrib mengaji,” kata Mandeg mengenang masa kecilnya.

    Ketekunan berlatih membuahkan hasil. Beberapa kali Mandeg meraih juara dalam pekan olahraga dan seni (Porseni) tingkat kabupaten lewat cabang olahraga sepak takraw. Hingga mengenyam pendidikan di tingkat sekolah menengah pertama (SMP), Mandeg selalu memboyong piala setiap kali mengikuti kompetsi.

    “Melihat hasil itu orangtua terus mendukung sepenuhnya. Uang hasil lomba saya belikan sepatu karena orangtua hanya petani. Waktu menang lomba SMP dibelikan sepatu sekolahan,” tutur Mandeg di tepi lapangan.

    Berkait bimbingan guru dan pelatih saat duduk di kelas 2 SMP, Mandeg hijrah ke Kota Salatiga. Selama lima tahun Mandeg mendalami sepak takraw di Pusat Pendidikan dan Latihan Pelajar (PPLP) Salatiga. Dari sana, kiprah Mandeg di dunia sepak takraw kian menanjak.

    “Lalu saya melanjutkan kuliah di Unnes (Universitas Negeri Semarang) jurusan olahraga, tapi tidak selesai karena pindah ikut seleksi TNI Angkatan Darat lewat jalur prestasi dan diterima,” ungkap atlet sepak takraw yang menempati posisi smash.

    Masuk di pendidikan militer, Mandeg berhenti berlatih sepak takraw. Selama tiga tahun dia tak bersinggungan dengan bola rotan itu. Mandeg kembali ke lapangan setelah diminta pemerintah provinsi Jawa Tengah untuk memperkuat tim sepak takraw Jateng pada Pekan Olahraga Nasional (PON) 2016.

    “Jadi harus penyesuaian lagi. Kalau teman-teman setelah latihan teknik selsai, saya harus ada latihan tambahan khusus,” kata Mandeg.

    Kiprah Mandeg di sepak takraw terus melejit. Dia mendapat panggilan pemusatan latihan untuk SEA Games 2019. Hasilnya, bersama rekannya Andi Saputra berhasil menyabet emas. Medali itu diraih setelah menumbangkan Myanmar di Subic Gym.




    (KAH)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id