• DONASI PALU/DONGGALA :
    Tanggal 19 OKT 2018 - RP 45.764.339.104

  • Salurkan Donasi Anda: (BCA - 309.500.6005) A/n Yayasan Media Group

  • Salurkan Donasi Anda: (Mandiri - 117.0000.99.77.00) A/n Yayasan Media Group

  • Salurkan Donasi Anda: (BRI - 0398.01.0000.53.303) A/n Yayasan Media Group

Asian Para Games 2018

Kisah Persahabatan Tanpa Batas Dua Atlet Voli Asian Games dan Para Games

Rendy Renuki H - 11 Oktober 2018 21:40 wib
Berllian Marsheilla dan Annisa Tindy Lestari, dua sahabat yang
Berllian Marsheilla dan Annisa Tindy Lestari, dua sahabat yang kini harus meniti karier dengan kondisi berbeda (Foto: medcom.id/Rendy Renuki H)

Jakarta: Persahabatan tak mengenal batas. Ungkapan yang terlihat jelas dari dua atlet voli putri Indonesia, Berllian Marsheilla dan atlet voli disabilitas Annisa Tindy Lestari.

Tampil memperkuat timnas voli putri di berbagai ajang dunia tak membuat Sheilla --sapaan akrab Berllian-- melupakan Annisa. Ia masih menyempatkan mendukung langsung Ica --panggilan karib Annisa-- bertanding di cabang olahraga voli duduk Asian Para Games 2018, Kamis 11 Oktober siang.

Libero timnas voli Indonesia di Asian Games 2018 itu bahkan menyemangati sahabatnya langsung di pinggir lapangan. Seolah tak ada batasan yang membedakan kedua pevoli itu saat tim voli duduk Indonesia bertanding melawan Jepang memperebutkan medali perunggu.
 

Baca: Atlet di Atas 35 Tahun Mengeluh tidak Bisa Jadi PNS, Ini Jawaban Kemenpora


Dukungan Sheilla pun tak surut meski nyatanya tim voli duduk putri gagal mempersembahkan perunggu. Ia tetap menemani sahabatnya dan pevoli lainnya, bahkan hingga ruang ganti pemain di Tennis Indoor Senayan.

"Saya sama Ica ini sebenarnya satu angkatan junior, dulu dia non-disabilitas. Pertama kali ketemu di Popnas (Pekan Olahraga Pelajar Nasional) Kalimantan Timur sekitar 2008 lalu," ungkap Sheilla.

"Dari SMP sudah bareng ketemu di lapangan. Saya juga pernah ikut PON 2008 di Bontang, saat itu membela Banten. Itu terakhir kalinya main di nasional," timpal Ica.

Lama tak bertemu sahabatnya, Sheilla kini harus menerima kenyataan melihat sahabatnya menjadi salah atlet disabilitas. Musibah menghampiri Ica pada 2013 lalu setelah mengalami kecelakaan lalu lintas di Bandung.

Motor yang ditumpanginya menabrak mobil dan membuat Ica tak bisa lagi berjalan normal. Kaki kanan Ica tak lagi bisa digerakkan secara normal.

"Pertama kali melihat dia, saya pikir cuma cedera lutut. Terus pas ketemu saya nanya, "cedera dari kapan?," terus dia bilang ini bukan cedera, tapi cacat," tutur Sheilla menirukan jawaban sahabatnya.

"Yang cedera panggul, terus ankle kaki kanan sarafnya lemah, sama lutut kanan yang enggak bisa lurus. Setahun berikutnya saya vakum (menjadi atlet) untuk menjalani proses terapi, tapi ternyata saya harus operasi ganti sendi, jadi drop banget di situ," Ica mengisahkan.

Namun, kondisi tersebut tak lantas membuat Ica putus asa. Atlet 28 tahun itu kembali ke lapangan voli dan mulai berlatih dengan tim voli duduk Indonesia di bawah bimbingan Komite Paralimpiade Nasional (NPC) sejak 2016 lalu.
 

Baca juga: Atlet Para Catur Indonesia Kecewa dengan Bonus Pemerintah


Semangat juang yang sangat diapresiasi Sheilla melihat sahabatnya bisa kembali bangkit. Meski masih belum bisa menyumbangkan medali di Asian Para Games 2018, namun ia tetap bangga dengan penampilan Ica dan rekan setimnya di voli duduk.

"Saya kenal baik sama dia. Intinya saya bangga teman saya bisa bawa nama Indonesia walaupun dengan cara yang berbeda," kata Sheilla yang kini bermain untuk tim Bandung BJB tersebut.

Tak ingin kalah, Ica pun menyebut sosok Sheila merupakan salah satu pemain yang diidolakannya. Apalagi, keduanya sama-sama berposisi sebagai libero di tim voli Indonesia pada Asian Games dan Asian Para Games 2018.

"Sheilla itu inspirasi saya, apalagi kita sama-sama dapet penghargaan libero terbaik. Pemain idola saya sih kalau untuk posisi spike Susanti Martalia, tapi kalau receiver ya Berllian Marsheilla," tutup kapten tim voli duduk Indonesia tersebut.

Tak ingin ketinggalan update berita bola dan olahraga? Follow instagram kami @medcom_olahraga

Video: Leani Oktila Melaju ke Final Bulu Tangkis Asian Para Games



(ACF)


BACA JUGA
BERITA LAINNYA

Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

  1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
  2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
  3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
  4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

Anda Selesai.

Powered by Medcom.id

Bagaimana Kami Menguji

Kami menguji produk dengan subjektif karena mengutamakan pengalaman penggunaan. Meski demikian, kesimpulan yang kami ambil juga didasari sejumlah data dari perangkat lunak tertentu yang kami gunakan untuk melihat kinerja produk.

Khusus untuk menguji perangkat keras dan perangkat lunak komputer, kami menggunakan konfigurasi yang identik untuk tiap produk. Berikut komponen testbed resmi Metrotvnews.com.

Hardware

  • Prosesor: Intel Core i7-7700K, AMD Ryzen 7 1800X
  • Motherboard: ASUS Z270F STRIX Gaming, MSI X370 Gaming Pro Carbon
  • VGA: MSI GTX 1080 Gaming X, ASUS RX 480 STRIX 8GB
  • RAM: Corsair Vengeance LPX 3200MHz (2x8GB)
  • Penyimpanan: Corsair Neutron XTi 240GB
  • PSU: Corsair RM850X
  • Case: MSI DIY Case
  • Monitor: ASUS PB287Q 4K, AOC C3583FQ
  • Keyboard: Logitech G900 Chaos Spectrum, Logitech G402 Hyperion Fury
  • Mouse: Logitech G440, Logitech G240
  • Headset: Logitech G430, Logitech G633

Software

Performa dan Baterai: PCMark 8, 3DMark, Crystal Disk Mark
Gaming: The Witcher 3: Wild Hunt, Ashes of Singularity, Tom CLancy's Ghost Recon Wildlands

Kami juga menggunakan metode pengujian yang sama untuk semua gadget. Meski di pasar tersedia beragam perangkat lunak benchmarking, kami hanya memilih tiga berdasarkan reputasi mereka yang diakui secara internasional, 3DMark dan PCMark 2.0.