Kejuaraan Dunia Lari Doha 2019

    Kelainan Hormon, Pelari Putri Afrika Selatan Terancam Gagal Pertahankan Gelar Juara Dunia

    Muhammad Al Hasan - 01 Agustus 2019 22:23 WIB
    Kelainan Hormon, Pelari Putri Afrika Selatan Terancam Gagal Pertahankan Gelar Juara Dunia
    Pelari putri Afrika Selatan, Caster Semenya (Foto: Karim JAAFAR / AFP)

    Caster Semenya memiliki kadar hormon di atas rata-rata yang dimiliki atlet putri. Maka dari itu, ia diharuskan mengikuti pengobatan terlebih dahulu sebelum bisa ambil bagian di kategori putri.


    Jakarta: Peraih dua medali emas Olimpiade, Caster Semenya terancam gagal mempertahankan gelar juara lari 800 meter pada kejuaraan dunia di Doha, Qatar, September mendatang. Hal ini disebabkan pengadilan Swiss mencabut penangguhan aturan kontroversial Federasi Atletik Dunia (IAAF) tentang batas kadar hormon testorteron.

    Semenya memiliki kelainan hormon. Dengan pencabutan penangguhan ini berarti Semenya tidak bisa mengikuti kompetisi lari jarak jauh 800 meter karena aturan melarangnya ikut bila tanpa pengobatan.

    "Saya sangat kecewa karena tidak bisa mempertahankan gelar yang saya dapat dengan susah payah," kata Semenya dikutip BBC.
     

    Baca: Sean Gelael Kembali Membalap Di Hungaroring


    "Tapi ini tidak akan menghalangi saya melanjutkan perjuangan saya untuk hak asasi manusia dari semua atlet wanita yang bersangkutan," timpal dia.

    Aturan yang diberlakukan 8 Mei 2019 itu mengatur tentang atlet yang memiki kelainan perkembangan hormon seksual (Differences of Sexual Development/ DSD) harus melakukan pengobatan.

    Kelainan Hormon, Pelari Putri Afrika Selatan Terancam Gagal Pertahankan Gelar Juara Dunia

    Dalam kasus Semenya, ia memiliki kadar testosteron berlebih sehingga harus mengurangi kadar hormonnya itu lewat pengobatan agar bisa berkompetisi di kelas 400 meter ke atas.

    Keputusan itu membuat Semenya melakukan perlawanan sehingga terlibat konflik dengan IAAF. Terkini, peraih dua medali emas Olimpiade itu tengah mengajukan banding lewat Mahkamah Arbitrasi Olahraga (CAS) karena hanya melalui putusan CAS sengketa ini bisa diakhiri.
     

    Baca juga: Thailand Open 2019: Singkirkan Lin Dan, Shesar Hiren Rhustavito ke Perempat Final


    "Kami akan terus memperjuangkan banding Semenya. Ini demi HAM," kata pengacara Semenya Dorothee Schramm.

    Akibat kelebihan hormon testosteron, Semenya memiliki postur bersifat maskulin. Hal inilah yang berusaha dipertahankan Pengadilan Swiss dalam menjamin iklim kompetisi yang adil.

    Atlet seperti Semenya yang memiliki kromosom "46 XY DSD genetik" dan bukan kromosom "XX" sebagaimana yang dimiliki kaum wanita pada umumnya, dianggap keuntungan yang tidak lazim. Pasalnya, kadar testosterone mereka setara dengan lelaki yang mana merugikan atlet putri lainnya.

    Tak ingin ketinggalan update berita bola dan olahraga? Follow instagram kami @medcom_olahraga

    Video: ?Menjamu Arema, Pemain Persija Unggul Fisik




    (ACF)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id