PABSI Tegaskan Keputusan Atlet ke Olimpiade di Tangan Federasi

    Medcom - 12 April 2021 23:46 WIB
    PABSI Tegaskan Keputusan Atlet ke Olimpiade di Tangan Federasi
    Foto Istimewa



    Jakarta: Pengurus Besar Perkumpulan Angkat Besi Seluruh Indonesia (PB PABSI) menegaskan, bahwa keputusan pengiriman atlet ke Olimpiade berada di tangan federasi nasional (NF) setiap negara.

    Hal itu disampaikan Wakil Ketua Umum PB PABSI Djoko Pramono menanggapi keputusan Eko Yuli Irawan yang memilih berlatih secara terpisah dari atlet lainnya di Pelatnas angkat besi.






    "Berangkat (ke Olimpiade) tetap ada aturannya. Kontingen itu memberangkatkan berdasarkan usul dari PB (Pengurus Besar). Seluruh dunia (aturannya) sama," kata Djoko saat ditemui di Pelatnas Angkat Besi, Jakarta, Senin.

    "IOC (Komite Olimpiade Internasional) hanya mau terima entry by name dari PB atau national federation. NOC yang memberangkatkan," sambung dia.

    Namun Djoko mengaku khawatir terhadap minimnya pengawasan doping jika atletnya berlatih di luar. Jika Eko tetap ngotot latihan terpisah, PABSI akan menyerahkan keputusan terkait keberangkatannya ke Olimpiade kepada pemerintah.

    "Kalau pemerintahnya oke berangkat ya berangkat. Pak Rosan hanya perlu tanda tangan (entry by name), tetapi kami juga harus lihat dulu kalau dia latihan di luar apakah aman dopingnya?"

    "Kalau di dalam kan diperiksa terus. Kalau dia di luar ya silakan tapi saya serahkan ke pemerintah apakah mereka mau memberangkatkan?"

    Meski begitu, Djoko tidak melarang jika Eko Yuli ingin berlatih secara terpisah asalkan menggunakan biaya mandiri tanpa bantuan dana APBN. Sebaliknya, apabila Eko masih ingin berlatih di Pelatnas, PABSI pun sangat terbuka menerima dia kembali.

    Pasalnya, berdasarkan dokumen perjanjian kerja sama antara PPON dan  PABSI tentang penggunaan anggaran APBN dinyatakan bahwa atlet dan pelatih yang telah ditunjuk untuk mengikuti Pelatnas wajib mengikuti ketentuan yang berlaku, termasuk soal kewajiban latihan di lokasi Pelatnas. Jika tidak taat aturan maka sangat berpotensi menjadi temuan dan masalah ketika ada pemeriksaan dari Badan Pemeriksa Keuangan (BPK).

    PABSI saat ini masih menanti pernyataan tertulis dari Eko Yuli soal keputusannya berlatih mandiri. PB PABSI dan Kemenpora telah menandatangani MoU anggaran bantuan Pelatnas 2021 pada 6 April lalu. Nama Eko Yuli masuk ke dalam daftar atlet penerima pemberian fasilitas Pelatnas dari Kemenpora.

    Menurut Djoko, jika Eko nantinya memutuskan latihan di luar maka kesepakatan yang tertulis dalam MoU itu perlu direvisi dan nama Eko harus dicoret karena dia tidak mempunyai hak menerima anggaran dari pemerintah.

    Eko Yuli masih menjadi lifter putra terbaik Indonesia pada kelas 61 kg. Dalam daftar peringkat Federasi Angkat Besi Internasional (IWF) per 12 April 2021, Eko menempati peringkat kedua dunia dengan total angkatan terbaik 317 kg.(ANT)

    Video: MotoGP Doha 2021 Digelar Mulai Hari Ini


    (RIZ)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id