All England 2020

    PBSI Puas Walau Raih Satu Gelar di All England

    Media Indonesia - 18 Maret 2020 14:50 WIB
    PBSI Puas Walau Raih Satu Gelar di All England
    Praveen Jordan/Melati Daeva Oktavianti. (Foto: AFP/Oli Scarff)
    Jakarta: Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia (PBSI) mengaku puas dengan raihan satu gelar di All England 2020. Satu gelar memang menjadi target yang dipasang PBSI.

    "Tentu kami harus syukur hasil ini karena tidak mudah. Hasil itu sudah memenuhi target yang diberikan. Kami apresiasi semua pemain yang berlaga," kata Sekretaris Jenderal PBSI Achmad Budiharto saat dihubungi, kemarin.

    Satu medali emas dari Inggris seperti diketahui dipersembahkan pasangan ganda campuran Praveen Jordan/Melati Daeva Oktavianti. Gelar juara mereka dapat setelah mengalahkan wakil Thailand Dechapol Puavanukroh/Sapsiree Taerattanachai.

    Indonesia sebenarnya punya peluang untuk menggondol satu medali tambahan dari nomor ganda putra. Sayangnya, Marcus Fernaldi Gideon/Kevin Sanjaya Sukamuljo yang mampu menembus final malah kalah dari pasangan asal Jepang Hiroyuki Endo/Yuta Watanabe.

    Acmad mengaku tidak kecewa dengan penampilan Marcus/Kevin. Dari awal, kata dia, PBSI tidak memasang target di sektor tertentu untuk juara di All England.

    "Mereka (Kevin/Marcus) sudah tampil maksimal, lebih baik daripada pertemuan sebelumnya. Tapi, tetap ada evaluasi untuk selanjutnya," kata Achmad.

    Lebih lanjut, tim 'Merah Putih' telah menuntaskan dua misi di All England 2020. Misi pertama ialah meraih gelar juara. Misi kedua ialah mengamankan posisi untuk berlaga di Olimpiade. Achmad mengatakan Hafiz Faizal/Gloria Emmanuelle menjadi salah satu wakil Indonesia yang bisa mengamankan posisi untuk bisa berlaga di Olimpiade.

    Praveen/Melati dan rekan mereka yang lain saat ini sudah tiba di Tanah Air. Mereka harus dikarantina selama 14 hari di lokasi pemusatan latihan nasional di Cipayung, Jakarta.

    Pasangan ganda putra Mohammad Ahsan/Hendra Setiawan ikut dikarantina karena mereka memang ikut juga ke All England. Bagi Ahsan/Hendra yang di Inggris hanya bisa mencapai perempat final, dikarantina serasa kembali jadi anak asrama.

    "Rasanya seperti anak asrama saja. Sudah lama sekali enggak jadi anak asrama, terakhir pada 2012," kata Ahsan.

    Selama di Cipayung, the Daddies, julukan mereka, hanya istirahat, makan, tidur, nonton film, dan main gim. Belum ada kegiatan lainnya selama dua malam di asrama sepulang dari Inggris. 



    (ASM)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id