Rerie Lestari Moerdijat
    Rerie Lestari Moerdijat Anggota DPR RI periode 2019-2024

    Merawat Semangat Restorasi Kartini

    Rerie Lestari Moerdijat - 18 September 2019 12:23 WIB
    Merawat Semangat Restorasi Kartini
    ILUSTRASI: Perupa Karawang asal Tasikmalaya Aboyz (42) menyelesaikan pembuatan lukisan wajah Kartini di kawasan Galuh Mas, Karawang, Jawa Barat, Minggu (21/4/2019)/ANTARA FOTO/Muhamad Ibnu Chazar.
    Ibu kita Kartini
    Putri Sejati
    Putri Indonesia
    Harum namanya...


    LAGU ini lazim berkumandang sebagai penghormatan kepada pahlawan nasional, Raden Ajeng (R.A) Kartini, sang pejuang emansipasi.  

    Lahir di Jepara, Jawa Tengah pada 21 April 1869, Kartini merupakan anak kelima dari seorang Bupati Raden Mas (R.M) Sosroningrat. Ia lahir dari seorang selir. Kartini adalah anak perempuan pertama dari sebelas bersaudara. Ibunya, Ngasirah, berasal dari kalangan biasa, bukan bangsawan.

    Meskipun begitu, R.M. Sosroningrat merupakan sosok ayah yang mempunyai pemikiran cukup maju di masanya. Anak-anak perempuannya, dibolehkan bersekolah.

    Berjuang di tengah ketatnya aturan

    R.A Kartini berkesempatan menempuh pendidikan di Eropese Lagere School (ELS). Sayangnya, aturan Pemerintah Hindia Belanda saat itu hanya memungkinkan perempuan bersekolah sampai usia 12 tahun.

    Setelah mencapai usia tersebut, sesuai tradisi, perempuan dari kalangan bangsawan harus dipingit dan sama sekali tidak diizinkan keluar rumah.

    Pendidikan di ELS, memberi kesempatan R.A. Kartini belajar banyak dan mampu memetik pemikiran maju. Kemahirannya berbahasa Belanda, kegemarannya membaca dan berdiskusi, serta sikapnya yang kritis, membuka ruang luas untuk pengembangan pandangan dan pemikirannya.

    Di masa-masa pingitan, R.A. Kartini tak berdiam diri. Korespondesi dengan teman-temannya di Belanda terus dilakukan. Inilah yang kemudian mendorong Kartini untuk turut bergerak dan memperjuangkan nasib para kaum wanita. 

    Di antara kawan penanya, adalah Rosa Abendanon dan Estelle (Stalla) Zeehandelaar. Dua nama ini menjadi pendorong utama yang membuat pemikiran Kartini kian lebih terbuka.

    Dari kumpulan surat-surat Kartini diterbitkan JA Abendanon dengan judul Door Duistermis tox Licht (Habis Gelap Terbitlah Terang) tercatat jelas berbagai pemikian besar yang menjadi bukti betapa Kartini memiliki keinginan kuat untuk melepaskan perempuan dari belenggu diskriminasi.

    Cita-cita Kartini bukan tergambar sebagai sebabak harapan, akan tetapi sebuah keniscayaan yang mesti diwujudkan.

    Kaum perempuan di Jawa saat itu sangat tertinggal dibanding mereka yang ada di Belanda. Perempuan Jawa, terbatas dari segi pendidikan, kegiatan sosial, tak berpikir kritis, bahkan dipaksa menerima segala nasibnya dengan pasrah.

    Inilah titik dasar yang mendorong perjuangan emansipasi yang dicetuskan Kartini. Perempuan Jawa perlu memperoleh persamaan hak dalam menimba ilmu, bebas dalam berpikir, meraih kesetaraan, serta harus mampu menentukan nasibnya dengan berdiri di atas kaki sendiri.

    Perjuangan yang tak pernah pupus

    Perjuangan Kartini dimulai dengan mengelola sekolah perempuan di Jepara. Bukan itu saja, semangat perjuangan melepaskan diri dari keterbelakangan dibarengi dengan jiwa kewirausahaan yang mendorongnya untuk terus maju mencari cara dalam memberdayakan masyarakat.

    Bukan cuma terbatas bagi kalangan perempuan, kiprah Kartini menjangkau seluruh lapisan masyarakat agar mau memanfaat segala potensi dan kemampuan yang dimiliki.

    Di usia 17 tahun, Kartini mengikuti pameran nasional karya perempuan di Den Haag yang digelar pada 1898. Kartini mengirimkan 21 karya perempuan Jepara, berupa seni ukir, pigura, lukisan, sisir, juga batik yang ia kirim lengkap dengan tata cara membuatnya.

    Tutorial dan prosedur pengerjaan batik itulah yang kemudian menjadi aset penting bagi sejarah batik Hindia-Belanda.

    Kartini pun dikenal sebagai pelopor batik Lunglungan Bunga, motif khas Jepara. Demikian pula dengan ukiran Jepara yang dipamerkannya membuka jalan bagi terciptanya industri meubel ukir yang mendunia.

    Setelah merasa usaha yang dilakukannya cukup besar, Kartini melakukan hubungan dagang dengan Oost en West yang baru saja membuka cabang di Batavia. Lembaga yang dipimpin oleh N Van Zuylen ini berdiri tahun 1899 dan kerap menggelar pameran di Den Haag untuk mengembangkan dan memasarkan hasil kerajinan bumiputera.

    Atas jasa Kartini, karya ukir Jepara kian mendunia. Keberhasilan dalam pameran tersebut, mendorong dan sekaligus menginspirasi banyak pihak untuk turut membantu pengrajin dalam mengembangkan usahanya. Atas jasanya pula, Jepara berkembang menjadi kota meubel dengan kekhasan ukiran yang makin dikenal.

    Sebagai balas keringat atas terobosan Kartini, Pemerintah Belanda mengganjar Kartini dengan sebuah penghargaan pada 1923. Kartini dihadiahi izin dan fasilitas pembangunan sekolah pertukangan yang memungkinkan bagi banyak anak muda untuk menjadi pengrajin meubel yang andal.

    Kartini berpulang, perjuangan tak boleh padam

    Di tengah keberhasilan Kartini mendobrak berbagai tradisi demi memajukan perempuan dan masyarakat, di satu babak ia terpaksa harus tunduk-pasrah kepada tuntutan adat dan tradisi. Kartini mesti rela dipoligami Adipati Djojoadiningrat, sang Bupati Rembang.   

    Saat itu, Kartini berumur 24 tahun. Atas dasar usia yang tak lagi muda itu, ia harus pasrah menuruti tuntutan demi membuktikan baktinya kepada sang ayah dan keluarga.

    Kartini tetap berusaha tegar dan berpikiran maju dengan menjadikan peristiwa pahit itu sebagai salah satu langkah perjuangannya dalam mengajukan sejumlah syarat kepada Adipati Djojoadiningrat.

    Di antara syarat-syarat tersebut, antara lain, meniadakan beberapa prosesi adat dalam tata cara perkawinan Jawa yang secara kasat mata menempatkan perempuan di bawah lelaki, mengkritisi tradisi-tradisi yang mencerminkan diskriminasi dalam keseharian, serta sebuah permintaan utama agar dibuatkan sekolah dan diperbolehkan mengajar di dalamnya.

    Syarat-syarat itu pun dipenuhi. Setelah menikah, Kartini mengelola sekolah perempuan di daerah Rembang. Bahkan, sekolah ini menjadi cikal bakal sekolah Kartini yang berkembang di banyak daerah, seperti di Surabaya, Yogyakarta, Madiun, Cirebon, dan lain sebagainya.

    Manusia berencana, namun Tuhan memiliki kuasa dan rahasia-Nya. Kartini tidak ditakdirkan berumur panjang. Pada 17 September 1904, masih di usia 24 tahun, Kartini berpulang.

    Ia tutup usia empat hari setelah melahirkan seorang putra yang diberi nama Soesalit Djojoadhiningrat, pada 13 September 1904.

    Restorasi perempuan Indonesia

    R.A Kartini dianugerahi gelar pahlawan nasional dari Pemerintah Indonesia pada 2 Mei 1964. Ia dinilai berjasa atas perjuangannya mengangkat harkat dan martabat perempuan. Kartini dikenal sebagai salah satu pejuang yang ikut meletakkan dasar emansipasi perempuan di Indonesia.

    Pikiran-pikiran besar Kartini tentang kesetaraan gender dimulai dengan kesadaran bahwa perempuan merupakan tiang dan guru pertama bagi anak-anak yang dilahirkannya. Perempuan, menurut Kartini, adalah ibu dari anak-anak bangsa.

    Perempuan adalah ibu bagi kehidupan. Oleh karenanya, perempuan harus memiliki kemampuan dan melepaskan diri dari kebodohan, serta mampu mengambil keputusan dan menentukan nasibnya sendiri.

    Kartini yang memiliki darah bangsawan dan hidup di kalangan penguasa, justru mampu melihat dan berpikir melampaui zamannya.

    Perempuan, memiliki hak yang sama dan kesetaraan dalam tatanan kehidupan, baik dalam keluarga maupun masyarakat. Perempuan berhak diberi kesempatan dan dinilai kemampuannya untuk diberikan peran penting setara kaum pria.


    Kartini, bahkan sudah berpikir tentang sebuah bangsa sebelum gagasan tentang Indonesia lahir. Dari surat-suratnya, Kartini terbukti sudah memiliki kesadaran nasionalisme, meskipun masih terbatas dalam konteks masyarakat Jawa.

    Kartini, bahkan berani mempertanyakan kolonialisme Belanda dan menjabarkan dampaknya bagi masyarakat pribumi.

    Ia juga terus menjadi pengingat, bahwa perempuan adalah tiang utama keluarga dan bangsa. Apa yang dipikirkannya sejalan dengan sabda Rasulullah Muhammad Saw ketika ada seseorang yang bertanya kepada siapakah seorang manusia harus berbakti pertama kali, Nabi menjawab tiga kali, pertama adalah ibu, ibu, kemudian ibu.

    Sudah 115 tahun, ibu kita Kartini, putri sejati, putri Indonesia, meninggalkan dunia yang fana. Akan tetapi, pikiran besarnya terus menjadi penyemangat restorasi Indonesia.

    Semangat Kartini adalah bentuk dorongan untuk terus menolak keterbelakangan, memulihkan posisi perempuan, serta mencerahkan masa depan melalui gagasan-gagasan dan semangat emansipasi.

    Seabad lebih Kartini pergi, mari tundukan kepala  dan berdoa. Kenang kembali jasanya, laksanakan mimpi besarnya. 

    Perempuan, dengan tanpa melupakan kodrat dan tugas sebagai anak, ibu, dan istri harus tetap merawat semangat untuk mewarnai dan berperan dalam kehidupan. Menjadi diri sendiri, terus memberi arti dan berarti.[]

    *Segala gagasan dan opini yang ada dalam kanal ini adalah tanggung jawab penulis seperti tertera, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi Medcom.ID. Redaksi menerima kiriman opini dari Anda melalui kolom@medcom.id



    (SBH)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    HOT ISSUE
    MORE

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id