Misiyah Misi
    Misiyah Misi Direktur Institut KAPAL PerempuanĀ 

    Mungkinkah Indonesia tanpa Feminis?

    Misiyah Misi - 11 April 2019 16:33 WIB
    Mungkinkah Indonesia tanpa Feminis?
    ILUSTRASI: Komite Perjuangan Pembebasan Perempuan berunjukrasa di depan Gedung Sate pada peringatan Hari Perempuan Internasional, Bandung, Jawa Barat, Rabu (8/3)/ANTARA FOTO/Agus Bebeng
    AKHIR-AKHIR ini beredar di media sosial tagar #IndonesiaTanpaFeminis yang membawa pesan bahwa feminis adalah ancaman bagi perempuan Indonesia. Tentu, bukan tanpa kesengajaan tagar ini muncul. Gerakan ini hadir menyusul reaksi penolakan dan pemutarbalikan konten Rancangan Undang-Undang Penghapusan Kekerasan Seksual (RUU P-KS). 

    Dari konten dan cara propagandanya dapat diindikasikan bahwa #IndonesiaTanpaFeminis digaungkan sekelompok kalangan konservatif yang sama. Tanpa bermaksud menanggapi berlebihan, masalah ini tetap membutuhkan respons substantif untuk menggugurkan stigma negatif mereka terhadap kaum feminis. Mereka, mestinya tahu bahwa feminis di Indonesia memiliki sejarah panjang berkontribusi dalam pembentukan bangsa Indonesia.  

    Mengapa mereka mengobarkan stigma terhadap feminis? Jawabannya, mungkin lantaran mereka tidak memahami dengan benar makna serta relevansi feminisme dengan kehidupan sehari-hari dirinya sebagai perempuan. Untuk itu, saya merasa penting menjelaskan pemahaman dasar dari feminisme dan feminis. 

    Para feminis Indonesia

    Inti feminisme adalah paham yang mengakui adanya penindasan terhadap perempuan sekaligus upaya untuk membebaskannya. Kata kuncinya adalah kesadaran kritis terhadap ketidakadilan yang terjadi pada perempuan yang dibarengi upaya untuk membebaskannya. Orang yang mempunyai kesadaran dan melakukan aksi ini adalah feminis.

    Sejarah Indonesia mempunyai sederet nama perempuan yang memiliki kesadaran kritis dan melakukan perlawanan. Mereka adalah para pahlawan perempuan yang namanya sangat dikenal, atau bahkan, mencakup perempuan-perempuan yang tidak begitu masyhur dan tidak sempat ditulis. 

    Para pahlawan seperti R.A Kartini, Rohana Kudus, Dewi Sartika, Tjut Nyak Dien melakukan perjuangan atas dasar kesadaran kritis terhadap kaumnya.


    Kartini dikenal dengan perlawanannya terhadap feodalisme dan segala bentuk norma-norma yang mengekang perempuan. Sedangkan Rohana Kudus adalah pelopor jurnalis perempuan yang menggunakan media untuk mendidik kaum bumiputera. Tokoh-tokoh ini memperjuangkan kaum perempuan agar mendapatkan kesempatan pendidikan yang sama, perlakuan yang setara, dan akses mendapatkan kualitas hidup yang baik. 

    Sejarah Indonesia juga merekam adanya Kongres Perempuan pertama pada 1928 sebagai tonggak dalam gerakan perjuangan hak-hak perempuan, sekaligus memperkokoh nasionalisme bangsa dalam melawan kolonial.

    Jika ingin contoh lebih dekat dan terkini, para penentang feminis dapat melakukan penelusuran sejarah perempuan dalam silsilah keluarga masing-masing. Pada umumnya, silsilah keluarga ini mengangkat kisah-kisah perempuan kuat dan memiliki daya, namun tidak jarang juga kisah pilu perempuan terkuak. 

    Kita bisa menemukan masalah perempuan yang selama ini tersembunyi. Misalnya, beban kerja, pengekangan, penelantaran, pengabaian, anggapan dan perlakuan perempuan lebih rendah, perkawinan paksa, perkawinan anak, putus sekolah dan bahkan pelecehan seksual. Kaum feminis mengangkat masalah ini sebagai masalah sosial supaya mendapatkan jalan keluar untuk memecahkannya. 

    Mengingkari hasil perjuangan feminisme

    Kalangan yang mengobarkan propaganda #IndonesiaTanpaFeminis mungkin lupa kalau ia justru telah menikmati hasil jerih payah dari kaum feminis itu sendiri.

    Saat ini, mereka yang antifeminis justru leluasa mengakses informasi, ilmu pengetahuan, teknologi, peluang kerja, media sosial yang dipakai bahkan melawan pejuangnya. Malahan, mungkin ada juga yang meminta perlindungan hukum melalui UU No. 23 tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga, memanfaatkan layanan persalinan, pemeriksaan dini kanker serviks, dan segala jenis pemeriksaan kesehatan reproduksi melalui Jaminan Kesehatan Nasional. 

    Anak-anak disediakan fasilitas Kartu Indonesia Pintar (KIP) dan Program Keluarga Harapan (PKH) untuk menempuh pendidikan 12 tahun, tidak akan dapat meraihnya jika mereka dibelenggu dengan norma-norma konservatif.

    Berulang kali kalangan antifeminis juga menutup mata terhadap kasus-kasus pemerkosaan dan pembunuhan anak di bawah umur seperti yang terjadi di Bengkulu dan Papua, pemerkosaan balita di Bogor, pemerkosaan murid oleh gurunya, perkosaan lansia, dan juga mengingkari pemerkosaan massal 1998. 

    Data Badan Pusat Statistik (BPS) 2016 menunjukkan bahwa satu dari tiga perempuan mengalami kekerasan. Mereka membutuhkan kita untuk tergerak sadar dan bertindak. Para penolak RUU P-KS mesti berpikir ulang terlebih ketika Ustaz Tengku Zulkarnain telah mengakui kesalahannya secara resmi melalui media bahwa tuduhannya terhadap RUU P-KS tidak terbukti. Ia pun mencabut ceramahnya dan menyatakan tidak menemukan pasal yang ia tuduhkan bahwa dalam RUU P-KS tidak ditemukan perihal Pemerintah melegalkan zina. 

    Sudah saatnya mengoreksi stigma yang menyudutkan feminis, menganggap tidak cocok untuk perempuan Indonesia, atau karena feminis dianggap tidak islami dan datang dari Barat. 

    Toh, di negara-negara Islam kita juga mengenal para feminis seperti Nawal al Sa’dawi dari Mesir, Fatimah Mernisi dari Maroko, Riffat Hasan dari Pakistan, Amina Wadud Muhsin dari Malaysia, bahkan dari Saudi Arabia pun dikenal feminis Fauziah Abul Kholid. Mereka menggunakan daya kritisnya untuk mengamalkan agama yang dianut agar menjadi lebih adil bagi semua manusia khususnya perempuan. 

    Dalam konteks Indonesia, menguatnya norma-norma konservatif yang makin menghambat kemajuan perempuan itu membutuhkan kehadiran pihak yang memiliki pemikiran dan komitmen dengan perspektif keadilan gender. Dengan demikian, feminis dibutuhkan keberadaanya untuk mengangkat masalah perempuan, menyuarakan aspirasi dan kepentingannya, menggerakkan semua pihak untuk melakukan perubahan bersama-sama. 

    Feminisme akan tetap konsisten dalam posisi dan gerakannya. Yakni, mengubah dari yang timpang menjadi setara, dari perlakuan diskriminatif menjadi adil, dari bahaya kekerasan menjadi rasa aman, dan mengupayakan penuh perlindungan di semua ranah keluarga, masyarakat dan negara.[]

    *Segala gagasan dan opini yang ada dalam kanal ini adalah tanggung jawab penulis seperti tertera, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi Medcom.ID. Redaksi menerima kiriman opini dari Anda melalui kolom@medcom.id




    (SBH)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    HOT ISSUE
    MORE

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id