MAGHRIB 17:47

    Untuk Jakarta dan sekitarnya

    IMSAK 04:26
    SUBUH 04:36
    DZUHUR 11:53
    ASHAR 15:14
    ISYA 19:00

    Download Jadwal Imsakiyah

    Heru Gian Setiono
    Heru Gian Setiono Mahasiswa pascasarjana ilmu politik Universitas Nasional

    Jangan Lewatkan Pileg

    Heru Gian Setiono - 16 April 2019 16:18 WIB
    Jangan Lewatkan Pileg
    ILUSTRASI: Warga melihat daftar calon anggota DPR RI saat simulasi pencoblosan Pemilu 2019 di Sulawesi Tenggara di MTQ Square, Kendari, Sulawesi Tenggara, Jumat (22/3/2019)./ANTARA FOTO/Jojon
    KITA perlu jujur, bahwa politisi di Indonesia masih sering mengalami serangan dari banyak pihak. Mulai dari yang berbentuk kritik serius, hingga lelucon satire di media sosial.

    Politisi, terutama mereka yang duduk di legislatif, selalu diasosiasikan dengan perilaku negatif. Sebut saja pemalas, penipu, korup, atau haus kekuasaan.
    Politik di Indonesia, bagi sebagian kalangan, terutama mereka yang memiliki pengetahuan lebih tentang wawasan demokrasi malah cenderung kehilangan antusiasme. Bahkan, secara umum berpengaruh kepada masyarakat awam untuk ikut-ikutan menarik diri dari politik.

    Hal ini, ditandai dengan meningkatnya prediksi angka golput di pemilu legislatif sekaligus tren menurunnya keanggotaan partai di kalangan anak muda. Dua faktor ini, harus dipahami sebagai perubahan partisipasi politik bukan penurunan partisipasi politik. 

    Pada faktanya, partisipasi politik mulai berubah menuju pada gerakan protes dan beragam aktivisme politik melalui berbagai saluran di luar partai dan pemilu. Salah satunya perjuangan melalui kampanye media sosial.

    Tingkat keterlibatan warga adalah salah satu indikator dari kesehatan sistem demokrasi dan politik di sebuah negara. Menariknya, jika dahulu hak-hak partisipasi politik diperjuangkan oleh seluruh warga dunia dengan taruhan nyawa, agar ada kesetaraan untuk milih dan dipilih, hak-hak ini malah sering kali diabaikan begitu saja oleh warga negara masa kini.

    Partai lesu

    Partai politik di Indonesia makin tampak gagal memposisikan diri sebagai saluran dan mobilisasi aspirasi rakyat. Warga yang kian enggan mengindentifikasi diri dengan partai politik mencerminkan bahwa partai tidak bisa membangun ikatan psikologis maupun ideologis dengan konstituennya.

    Dalam berpolitik, kini masyarakat lebih melihat figur ketimbang partai. Artinya, terjadi tren perilaku pemilih yang lebih dinamis dari pada sebelumnya, jug perilaku pemilih yang tidak terlalu peduli asal-usul ideologi dan program partai karena semakin kesini masyarakat cenderung melihat politik sebagai adu kesalehan dan track record kandidat.

    Di sisi bersamaan, partai politik kehilangan semangat aktivisme politiknya. Relawan politik dianggap jauh lebih bermartabat ketimbang anggota partai politik. Terdengar dari beberapa anggota atau kader partai makin malas-malasan membayar iuran partai, rapat rutin, bahkan untuk turun kampanye. Dan beberapa elite politik pun, sering menaruh curiga terhadap kerja-kerja kader di lapangan yang  tidak efektif dan efisien karena terlalu banyak menyerap anggaran tanpa hasil yang bisa dipertanggung-jawabkan. 

    Dengan kinerja semacam itu, kader partai semakin berkarakter feodal dan terserabut dari basisnya sendiri.

    Relawan politik hadir menjawab sinisme dan kekecewaan mereka terhadap tingkah laku anggota partai. Kebangkitan dari relawan politik adalah jalan baru bagi demokrasi di Indonesia yang dianggap lebih spontan, cair, partisipatoris, informal dan non-hierarkis. Hal ini bisa menjadi peluang sekaligus ancaman bagi partai politik dengan paragdima konvensional.

    Berpolitik dengan memilih

    Menariknya, kehadiran relawan politik lebih sering ditemukan dalam pemilihan presiden dan pemilihan kepala daerah ketimbang pemilihan legislatif. Mungkin ada dua alasan yang mendasari fenomena ini. Pertama, kekuatan modal para kandidat dalam mengoperasikan mesin politik. Kedua, dikarenakan pemilihan legislatif bukan menu utama bagi mayoritas stakeholder.

    Yang perlu disadari bersama, pemilu legislatif sebenarnya sama pentingya dengan pemilihan presiden. Karena dengan mendapatkan legislatif yang baik, kita akan mendapatkan kebijakan yang lebih baik pula.
     

    Partisipasi masyarakat dalam pemilihan legislatif bertujuan dalam pengembangan regulasi dan penganggaran yang berkualitas.

    Selain itu, manfaat bagi masyarakat adalah dapat terlibat secara langsung memutuskan regulasi melalui kandidat yang didukungnya. Dengan demikian, demokrasi menjadi semakin dialogis, representatif, dan bermakna. Karena sejatinya, melalui sarana pemilu legislatif, masyarakat dapat memperjuangkan kepentingan, kebutuhan dan aspirasi rakyat tanpa perlu menjadi anggota partai politik.

    Memilih berarti berpolitik dengan bermartabat dan akal sehat. Maksudnya, kita perlu untuk lebih pintar mendorong kesadaran kolektif masyarakat agar memilih calon legislatif yang segaris dengan platform politik kerakyatan tanpa jual-beli suara. 

    Harapannya, kita dapat meminimalisir kekecewaan dan kebencian yang akan muncul terhadap situasi politik pasca pelaksanaan pemilu, karena banyak pihak yang merasa dirugikan dan dimanipulasi oleh para pedagang politik.

    Memilih legislatif di tengah badai kekecewaan

    Warga bukan tidak peduli, tapi mereka kecewa ditipu berkali-kali. Alasan lainnya, kini warga sadar antara partai politik dari nomor urut satu hingga enam belas tidak memiliki perbedaan berarti, jika tidak mau menilai mereka nyaris seragam. 

    Hal ini, disebabkan ada pergeseran dari partai programatik ideologis menjadi partai toserba (toko serba ada). Akhirnya, membuat para calon legislatif kita tumpul dalam gagasan perubahan. 

    Mereka terjebak pada isu-isu moral, dan sebagian lainnya hanya menganggap politisi sebagai profesi, atau sarana panjat sosial. Dan hal ini, diperparah oleh konsekuensi kemajuan media digital. Di era ini, politisi lebih disibukkan dalam mengelola citra di media sosial dan manajemen pemberitaan dari pada membantu menyelesaikan persoalan-persoalan publik. 

    Namun, tidak semua legislatif memiliki perilaku seperti itu, karena masih cukup banyak legislatif yang terampil dan berintegritas di atas panggung demokrasi kita. Tinggal menjadi tugas kita untuk menemukan mereka, meluangkan waktu, mencari informasi tentang para kandidat berkualitas yang ada di daerah pemilihan kita dengan bantuan mesin pencari yang begitu sangat mudah. 

    Meski dalam pemilu lalu kita pernah dikecewakan, bukan berarti kita menyerah untuk memilih masa depan yang lebih baik. Karena bagaimana pun, perilaku orang-orang yang berada di dalam legislatif merupakan cerminan dari masyarakat yang memilihnya.[]


     *Segala gagasan dan opini yang ada dalam kanal ini adalah tanggung jawab penulis seperti tertera, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi Medcom.ID. Redaksi menerima kiriman opini dari Anda melalui kolom@medcom.id



    (SBH)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    HOT ISSUE
    MORE

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id