Bakhrul Amal
    Bakhrul Amal Staf Bawaslu RI 2017, Calon Hakim Mahkamah Agung (MA)

    Mengapa Masih Ada yang Percaya Hoaks?

    Bakhrul Amal - 04 September 2019 10:52 WIB
    Mengapa Masih Ada yang Percaya Hoaks?
    ILUSTRASI: Aneka platform media sosial/Foto; AFP/Arun Sankar.
    BERTAHUN-TAHUN, setelah tesis Karl Marx terhadap unsur fetisisme kapitalisme, narasi "kesadaran palsu" masih berkelindan dalam benak penikmat kajian sosial.

    Masyarakat, menurut hemat teori tadi, jatuh pada kubangan pembelaan pada hal-hal yang semu. Mereka melakukan sesuatu tanpa mereka ketahui. Masyarakat menjadi subjek yang sekaligus objek terhadap sesuatu, termasuk ideologi.

    Jargon "kesadaran palsu" kemudian digunakan untuk menganalisa tindakan-tindakan banal yang terjadi atas nama apapun. Tindakan tersebut bisa berbentuk keikutsertaan menyebarkan sesuatu ide atau bahkan memaksakan ide yang masih dipahami secara awam tersebut kepada orang lain.

    Akibat yang timbul dari tindakan semu itu, tak lain adalah kerusakan-kerusakan yang berpangkal dari fanatisme buta. 

    Kita bisa melihat contohnya, bagaimana "kesadaran palsu" sebagai sebuah sebab, adalah pada peristiwa para tentara Nazi yang tega membantai kaum lain. Mereka menganggap bahwa ucapan Der Fuhrer bahwa bangsa Arya itu yang terbaik adalah kebenaran. Di luar bangsa Arya, maka harus tunduk atau -jikalau menolak tunduk maka mesti- ditundukkan. 

    Akibat dari "kesadaran palsu" dengan konsep komunikasi menerima tanpa menyaring, yang dibantu persesebarannya oleh tokoh kharismatik, tentu adalah egoisme dan penghilangan akan nilai-nilai manusia.

    Kesadaran sinis

    Lain Karl Marx, lain pula Slavoj Zizek. Zizek menilai masyarakat saat ini tidak sepolos itu. Masyarakat telah cukup pintar dengan perangkat lunak pengolah informasinya. 

    Bagi Zizek, terkadang masyarakat pada dasarnya telah mengetahui tetapi memilih untuk berada pada posisi tidak tahu agar dapat memuaskan hasratnya.

    Zizek memberikan perumpaan akan narasi besar, yang dia sebut dengan "kesadaran sinis (cynical consciousness)", itu dengan perilaku masyarakat modern. Ilmuwan, yang sebutlah saja itu merupakan salah satu kawannya, bukan tidak mengetahui bahwa menaruh jarum pada baju bayi itu berbahaya dan itu takhayul. Tidak ada pula kajian ilmiah yang menulis mengenai itu.  

    Namun, kata Zizek, dengan pertimbangan satu dan lain hal seorang kawannya yang ilmuwan itu memilih tetap menaruh gunting di baju sang bayi. "Saya menaruh gunting itu karena diberitahu bahwa gunting itu dapat mengusir setan sekalipun saya tidak mempercayainya", katanya.

    Contoh lainnya dari "kesadaran sinis" adalah perilaku perempuan yang kadang narsis terhadap kecantikannya. Perempuan memahami betul bahwa operasi plastik itu sebuah kepalsuan. Operasi plastik itu juga memiliki biaya dan risiko yang tidak kecil, bahkan cenderung membahayakan. Tak dinyana, laiknya ilmuwan yang 'halu', perempuan pun kadang-kadang membuang pengetahuannya itu untuk alasan mode. 

    Perempuan tidak peduli pada hal-hal yang diketahuinya, karena lebih peduli penilaian bahwa dia semakin terlihat cantik atau anggun setelah melakukan operasi plastik.

    Kekinian

    Jika dikaitkan dengan keadaan saat ini, cukup tepatlah apa yang disampaikan Zizek. "Kesadaran sinis" itu seolah melengkapi konsep post-truth yang lebih dahulu populer. Konsep tentang adanya suatu gejala masyarakat yang muncul akibat suatu berita yang melampaui fakta.

    Berita tersebut kemudian dikenal dengan hoaks, yang meskipun kebenarannya telah terungkap, masyarakat lebih suka menerima cerita yang terbukti bohong sebab berita yang benar itu tidak sesuai harapannya. 


    Kita bisa membaca hal itu pada peristiwa yang baru-baru ini terjadi, yakni peristiwa penyerangan asrama mahasiswa Papua yang berujung pada rasisme. Pembelaan yang terlalu terhadap sesuatu hal mengakibatkan seseorang lupa untuk menyaring apa yang disharing. Apapun, demi kepentingan yang telah dianggapnya sebagai sesuatu yang absolut, segera dan dengan tempo sesingkat-singkatnya harus diperjuangkan.

    Setelah lambat laun masyarakat mengetahui bahwa hal itu hanyalah hoaks, tidak sedikit ada yang memilih untuk menetap tinggal pada berita yang salah. Mereka sadar bahwa telah termakan hoaks, akan tetapi karena yang hoaks -dan yang post-truth itu-, bisa menyerang keadaan tertentu, mereka memilih bersikap naif dan memperbesar tur membuat sesuatu yang semestinya selesai untuk terus-terusan berlanjut.

    Bagi Zizek, itulah makna "kesadaran sinis" dalam dunia politik yang didorong unsur desire (hasrat) keinginan perolehan kuasa. Seperti ilmuwan yang tahu menaruh gunting di baju bayi itu tidak mengubah apapun tetapi tetap melakukannya karena alasan keamanan. Seperti perempuan yang paham operasi plastik itu palsu dan mahal tetapi tetap operasi plastik sebab pengaruh mode. 

    Mereka pun, yang diinisiasi keinginan perolehan kuasa, kadang memilih tetap menyebarkan hoaks meskipun tahu itu salah dan merusak untuk alasan perolehan kekuasaan atau sebatas kepuasan pribadi karena berhasil mendiskreditkan pihak lain.

    "Keasadaran sinis" yang ditulis Zizek ini jelas melampaui analisa "kesadaran palsu" Karl Marx. Sialnya, "kesadaran sinis" ini seperti sulit diobati karena bersifat fantasi. 

    Mereka yang terjangkit akan terus mencari dan memproduksi sesuatu yang bisa dibaca secara rasional untuk kepentingan menghibur diri dari kekecewaan. Pencarian realitas penghibur diri itu pun seperti mitologi Sisifus ala Albert Camus, yang menggambarkan seseorang membawa bola ke ujung tanjakan dan tergulung oleh bola tersebut tetapi terus melakukan kegiatan konyol itu berulang-ulang. 

    Seperti akhir mitologi Sisifus, mungkin yang perlu kita lakukan adalah menonton perjuangan mereka dengan memaknai "Perjuangan itu sendiri… sudah cukup untuk mengisi hati manusia. Kita harus membayangkan bahwa Sisifus berbahagia."[]

    *Segala gagasan dan opini yang ada dalam kanal ini adalah tanggung jawab penulis seperti tertera, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi Medcom.ID. Redaksi menerima kiriman opini dari Anda melalui kolom@medcom.id




    (SBH)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    HOT ISSUE

    MORE
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id