Orang-orang Bebal di Internet

    Wildanshah - 12 Maret 2019 13:28 WIB
    Orang-orang Bebal di Internet
    Ilustrasi: Kejahatan internet/medcom.id/M. Rizal
    ERA internet, dituding oleh penulis The Death of Expertise (2017), Tom Nichols, sebagai biang keladi matinya kepakaran. Menurutnya, internet membuat orang-orang menjadi sok tahu dan mengklaim mengetahui segalanya. 

    Hanya bermodal selancar di dunia maya selama lima hingga sepuluh menit perhari, sembari membaca baris-baris judul berita, hal itu mendadak membuat orang awam “berwawasan”, mengerti setiap pokok persoalan, dan dapat menyelesaikan masalahnya sekaligus.
    Tidak jarang, orang-orang ini merasa lebih andal dari para ilmuwan, bahkan para ulama. Kalangan ini jauh lebih berisik di lini masa, mereka menyerang siapa saja yang berbeda pendapat. 

    Banjir selalu membawa wabah penyakit, begitu pun dengan kelebihan guyuran informasi di era media sosial. Alih-alih membuat masyarakat semakin bijak, media sosial malah membuat penggunanya semakin jahat.

    Gempuran informasi membuat kita tidak dapat memilah antara berita fakta dengan fiktif, tidak mampu memilih mana informasi subtansial dan mana yang sekadar sensasional, atau kikuk memihak antara pesohor atau pakar untuk dijadikan referensi. Fenomena ini terbukti di acara-acara seminar yang terlalu sering mengundang selebriti ketimbang praktisi atau akademisi ahli.

    Sebagian mulai mengeluh 

    Pada ekosistem kepakaran masing-masing, para ulama dan ilmuwan mulai resah dengan situasi tersebut. Saat ini, bukan lagi zaman yang mempolemikan posisi intelektual di luar dan di dalam lingkaran kekuasaan atau bersiteru antara intelektual generalis dengan intelektual spesialis.  Karena  komunitas intelektual masa kini lebih mengeluh dengan eksistensi orang-orang bebal yang mengaku hebat, tapi tidak mampu berdebat dengan sebenar-benarnya menggunakan akal sehat di ruang publik virtual. 

    Ruang publik virtual sudah tidak menjadi ruang dialog antargagasan. Demokrasi virtual telah menjelma menjadi arena gladiator yang membebaskan para pertarungnya untuk saling membunuh dengan segala cara dan senjata, dengan menggugurkan etika.

    Maka, tidak heran, jika sosok ulama maupun ilmuwan di Indonesia yang memiliki pandangan berseberangan dengan “orang bebal” dituding sebagai komunis, liberal, sy’iah, kafir, dungu, cebong atau kampret. Sekalipun, para ulama dan ilmuwan ini berbicara memaparkan data dan fakta.


    Popularitas meringkus kualitas

    Situasi ini semakin diperparah oleh para intelektual publik yang malah terlalu sibuk berdiskusi tentang kebebalan masyarakat yang kian akut ketimbang ikut memperbaikinya. Kelompok ini, makin asik dengan komunitasnya sendiri tanpa ikut terlibat percakapan publik yang semakin tidak baik-baik saja.

    Kekosongan peran tersebut, akhirnya diisi orang-orang bebal yang kebetulan cukup populer. Yang pada akhirnya, kualitas keilmuwan dapat dikalahkan dengan jumlah followers atau subscriber di media sosial. Sangat menyedihkan, di era ini kepakaran tunduk di hadapan ketenaran.

    Dan, memang pada faktanya intelektual publik kita masih lemah berlenggang-lenggok di panggung digital dan terlihat semakin gugup berkomunikasi dengan warganet. Mereka kalah nyaring di media sosial, dan mudah diringkus oleh para buzzer, influencer dan marketer yang rajin memobilisasi opini publik dengan gimmick, bukan rasionalitas.

    Masyarakat dikondisikan untuk lebih senang dihibur ketimbang diberi pengetahuan. Kewarasan masyarakat kini tersandera dengan yang viral, terseret oleh sensasi, terpuruk karena paranoid konspirasi. Situasi ini ulah dari kelompok-kelompok yang terlalu sering menganggitasi emosi ketimbang mengadvokasi nalar publik.

    Cari konfirmasi bukan informasi 

    Menurut teori efek Dunning-Krugger, semakin bodoh Anda, semakin yakin kalau Anda tidak bodoh. Mungkin terdengar konyol, namun coba direfleksikan pada kasus Dr Bernard Mahfoudz yang membeberkan sisi gelap vaksin yang terlihat tidak masuk akal, namun tidak butuh waktu lama gagasan itu meraih banyak dukungan dan pengikut dengan jumlah yang luar biasa dari para warganet di Indonesia.

    Tidak hanya dari masyarakat umum, mereka yang berpendidikan tinggi pun percaya dan membela sepenuh hati padangan konyol tersebut. 

    Tidak perlu waktu lama, para pendukung DR Bernard Mahfoudz harus menelan ludah, karena ternyata informasi tersebut adalah hoaks. Dr Bernard Mahfoudz ternyata bernama Jhonny Sins, seorang bintang film dewasa yang telah bermain ratusan ribu judul film porno. Sontak hal tersebut menjadi bahan lelucon yang cukup menyita perhatian publik.

    Kenapa bisa terjadi? Menurut Tom Nichols, inilah yang dinamakan bias konfirmasi. Secara alamiah individu hanya ingin menerima fakta, data dan informasi yang membenarkan keyakinannya sekaligus menolak pengetahuan yang bertentangan dengan kepercayaannya. 

    Hal ini dapat kita refleksikan pada kasus lainnya seperti operasi plastik Ratna Sarumpaet, poligami Eyang Subur, cetak uang Kanjeng Dimas Taat Pribadi, tujuh kontainer surat suara Andi Arief, dan  isu politik yang marak di 2019 ini. Yang masing-masing, punya pendukung fanatik dan pembela yang membabi buta, tentunya sama-sama keras kepala.

    Karena yang bagi orang-orang bebal ini, mereka lebih membutuhkan konfirmasi yang menguatkan posisinya ketimbang kebenaran informasinya.  Hal itulah yang tidak disadari akan membuat masyarakat kian bebal.  

    Masyarakat bebal adalah situasi masyarakat yang tidak mau berbuat dan bertindak benar. Situasi ini makin lestari dan berkembang biak setiap hari, karena groupthink symptoms, afiliasi politik, mobilisasi SARA, dan jebakan algoritma yang memberikan kekuatan orang-orang tersebut untuk menjadi kian dikultuskan di lini masa.[]

    *Segala gagasan dan opini yang ada dalam kanal ini adalah tanggung jawab penulis seperti tertera, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi Medcom.ID. Redaksi menerima kiriman opini dari Anda melalui kolom@medcom.id
     



    (SBH)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    HOT ISSUE
    MORE

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id