Charles Meikiansyah
    Charles Meikiansyah Anggota DPR RI 2019-2024

    Mendaras Kembali Tiga Prestasi Habibie

    Charles Meikiansyah - 12 September 2019 14:53 WIB
    Mendaras Kembali Tiga Prestasi Habibie
    Patung Presiden ketiga Indonesia Bacharuddin Jusuf Habibie. Foto: ANT/Adiwinata Solihin
    KETIKA dalam perjalanan pulang ke rumah dari kantor DPP NasDem di Gondangdia, Jakarta, gawai saya tiba-tiba mendapatkan notifikasi dari grup whatsapp yang biasanya sepi-sepi saja. Ketika dibuka, hanya Innaillahi yang terucap. Kita telah kehilangan bapak bangsa yang selama ini menjadi panutan, B.J Habibie. 

    Bagi saya, cara mengenang yang apik atas kepergian tokoh bangsa adalah dengan mempelajari perkara-perkara baik yang ditinggalkanya. Ihwal Pak Habibie, kita patut meneladani pemikiran, sikap, dan tekad kerjanya dalam membangun republik ini. 

    Mengundang keterlibatan daerah

    Sebagai Presiden, meski berlangsung singkat selama 18 bulan, sosok bernama lengkap  Bacharuddin Jusuf Habibie telah meletakkan pondasi institusionalisi yang demokratis. Ini yang menurut saya achivement paling besar yang diberikan almarhum bagi bangsa ketimbang sekadar dikenal sebagai bapak teknologi yang selama ini menjadi bencmark bagi Habibie. 

    Di tangan Habibie, Indonesia melangkah menjadi negara berpenduduk Muslim yang paling demokratis. Di tangan Pak Habibie pula, Indonesia memulai semangat desentralisasi, dari yang sebelumnya bercorak serba pemusatan kekuasaan dan menjadikan Jakarta sangat dominan dalam menentukan arah politik dan pembangunan di Indonesia. 

    Salah satu keputusan politik terbesar almarhum adalah mengeluarkan UU No. 22/ 1999 dan UU No. 25/199 tentang perimbangan keuangan antara pemerintah pusat dan daerah yang menandai era baru desentralisasi kekuasaan. 

    Desentralisasi, terlepas dari kelemahanya, merupakan eksperimen institutional building yang paling sukses dalam proses demokratisasi di Indonesia. 

    Bagaimanapun juga, selama 32 tahun, sentralisasi kekuasaan orde baru mengikuti hukum besi lord acton “power tends to corrupt, power absolutly, corrupt absolutly”. Peletakan pondasi institusi paling penting bagi perjalanan bangsa dimana daerah menentukan arah pembangunannya sendiri.  

    Kebebasan pers

    Prestasi besar lainya adalah membuka keran kebebasan pers.

    Lahirnya UU No 40 tahun 1999 tentang Pers adalah buah kerja Habibie. Praktis, terhitung sudah 20 tahun masyarakat Indonesia menikmati terobosan bermanfaat ini. 

    Berkat kebebasan pers, demokratisasi mampu berjalan selama dua dekade dengan capaian yang menggembirakan. Meskipun, di sana-sini masih tetap perlu adanya perbaikan. 

    Kebebasan pers adalah salah satu pilar penting pembangunan demokratisasi. Tanpa kebebasan pers, demokrasi yang bermutu cuma omong kosong. 

    Kehidupan gelap yang pernah dialami pers melalui politik sensor dan pemberangusan Orde Baru adalah mimpi buruk. Ketika semangat kebebasan pers dibuka, maka saat itulah keberkahan dalam kehidupan sosial politik diraih masyarakat Indonesia.

    Polisi ke sipil, militer ke barak

    Selain desentralisasi dan kebebasan pers, demokratisasi militer melalui penghapusan dwi fungsi ABRI adalah prestasi almarhum yang tak boleh dilupakan. Malahan, termasuk fundamental. 

    Melalui Ketetapan MPR VI/MPR/2000 tentang pemisahan TNI dan Polri dan Ketetapan MPR VII/MPR/2000 tentang Peran TNI dan Polri, demokratisasi militer dimulai. 

    Polisi kembali ke sipil, dan militer kembali ke barak. Tidak lagi menjadi kekuatan politik seperti Orde Baru melalui fraksi ABRI. Reformasi militer seperti itu berperan penting bagi perjalanan sejarah demokratisasi bangsa ini. 

    Setidaknya, prestasi itu menandai era baru demokratisasi dan upaya ditunaikannya janji-janji reformasi. Mengapa? Karena selama 32 tahun rezim otoritarian Orde Baru yang ditopang tiga strategi utama, yakni sentralisasi kekuasaan, pengekangan pers, dan dwi fungsi ABRI sudah berani diperbaiki Habibie. 

    Tiga capaian penting itu, tidak mungkin diraih tanpa kepemipinan yang kuat, yang berorientasi pada komitmen demokrasi dan masa depan Indonesia. Bukan sekadar kepemimpinan yang berorientasi kalkulasi politik. 

    Sebagai bangsa, Indonesia memiliki banyak utang jasa kepada Habibie. Sementara sebagai masyarakat, kita belum mampu menunaikan cita-cita almarhum untuk menjadikan Indonesia sebagai negara yang memiliki teknologi tinggi; negara dengan industrialisasi canggih dan memiliki added value. Negara yang mampu keluar dari kutukan sumber daya alam (dutch desease). 

    Sampai hari ini, masyarakat Indonesia masih memiliki ketergantungan yang besar atas sumberdaya alam. Kita belum bisa melangkah menjadi negara maju dengan industrialisasi canggih. Kita masih sebatas mampu menjual batu bara, dibandingkan mengekspor pesawat CN-219. 

    Seorang Habibie, 24 tahun yang lalu, melalui penerbangan perdana pesawat Gatotkaca N-250 pada 10 Agustus 1995, telah mengirimkan pesan optimisme bahwa Indonesia adalah bangsa yang besar. Bangsa yang mampu sejajar dengan negara-negara maju dan memiliki teknologi canggih. 

    Tidak ada penghargaan tertinggi kepada almarhum selain bergotong royong dan bahu membahu mewujudkan mimpi Indonesia menjadi negara maju. 

    Pondasi penting kehidupan demokrasi sudah diletakkan, mimpi Indonesia memiliki pesawat sudah ditunaikan, sebagai anak bangsa, Habibie adalah teladan, yang mencurahkan seluruh usianya, demi indonesia.[]

    *Segala gagasan dan opini yang ada dalam kanal ini adalah tanggung jawab penulis seperti tertera, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi Medcom.ID. Redaksi menerima kiriman opini dari Anda melalui kolom@medcom.id



    (SBH)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    HOT ISSUE

    MORE
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id