Kematian yang Indah

    Syah Sabur - 08 Agustus 2019 14:35 WIB
    Kematian yang Indah
    ILUSTRASI: Mural bergambar KH Maimoen Zubair /ANTARA/Didik Suhartono
    SALAH satu rahasia Illahi adalah kematian. Maut, tidak pernah kita tahu kapan dia menjemput, dengan cara seperti apa, dan di mana.

    Ulama kharismatik KH Maimoen Zubair, mungkin termasuk sedikit orang yang mendapat pengecualian dari Allah Swt. Mbah Moen, sapaan karib almarhum, seolah bisa "memilih" hari kematiannya. 

    Selasa, itulah masa yang disebutnya sebagai salah satu hari baik, hari yang istimewa.

    Mbah Moen, semasa hidupnya memang selalu menganggap bahwa hari itu memang spesial. Bahkan di setiap dakwah dan tausiah, baik kepada jemaah atau pun anggota keluarga, ia selalu menyebut keiistimewaan hari Selasa.

    Dalam satu video yang beredar di Youtube, Mbah Moen mengungkapkan bahwa ayah, ibu, hingga kakeknya, meninggal di hari Selasa. 

    "Menurut riwayat pondok yang insyaallah pada pertama kali tahun 1800-an didirikan, pondok ini kalau hari Selasa dibuat hari libur ngaji. Sebab, hari Selasa ini hari yang menurut nenek saya, mulai dari nenek yang ke empat sampai ayah saya, ibu saya, itu kalau meninggal kok hari Selasa. Ini saya cerita apa kalian sudah mengerti atau belum, sampai mbah saya Kiai Ahmad," kata Mbah Moen dalam video tersebut.

    Pemimpin Pondok Pesantren Al Anwar Sarang, Rembang ini juga mengungkapkan, banyak ulama yang meninggal dunia di hari Selasa. Sebab, Allah menciptakan ilmu dan segala yang ada di dunia pada hari Selasa.

    Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) itu juga berkali-kali menyampaikan keinginannya untuk "pergi" menghadap Sang Khalik saat ibadah di Tanah Suci. Dan Tuhan pun mengabulkannya. Sang Ulama pergi setelah berwudu, menyucikan diri menjelang salat tahajud.  Betapa mulianya.

    Dimakamkan di Al Ma’la

    Tak hanya itu, almarhum dimakamkan di Al Ma'la, satu situs pemakaman yang sangat tua, "hanya sepelemparan batu" dari Masjidil Haram. Makam ini istimewa karena sudah ada sebelum kelahiran Nabi Muhammad Saw. 

    Di makam ini pula beristirahat keluarga Rasulullah beserta para sahabatnya, juga sejumlah ulama terkemuka dari berbagai negara. 

    Ulama terkemuka Makkah sekaligus Imam Masjidil Haram, Sayyid Ashim bin Abbas bin Alawi Al Maliki memimpin talqin dan doa prosesi pemakaman almarhum di Jannatul Ma'la, Makkah Al Mukarramah. Jenazahnya disalatkan di depan kakbah oleh ratusan ribu hingga jutaan jemaah haji dari seluruh dunia.

    Kematiannya tenang, tidak merepotkan siapapun. Kematian yang datang setelah Mbah Moen menuntaskan semua kewajibannya sebagai makhluk.


    Allah Swt memberinya berkah umur panjang, 90 tahun, dalam kondisi sehat. 

    Mbah Moen memang bukan sembarang ulama. Berbagai sumber kepustakaan menyebutkan, ayahandanya, Kiai Zubair, adalah murid pilihan dari Syekh Sa'id Al Yamani serta Syekh Hasan Al Yamani Al Makky. Dua ulama yang kesohor pada saat itu karena kesederhanaan dan sifatnya yang merakyat. Ibundanya adalah putri dari Kiaii Ahmad bin Syu'aib, ulama kharismatik yang teguh memegang pendirian.

    Sedari kecil dia sudah dibesarkan dengan ilmu-ilmu agama. Sebelum menginjak remaja, Mbah Moen diasuh langsung ayahnya untuk menghafal dan memahami ilmu sharaf, nahwu, fikih, manthiq, balaghah, dan bermacam ilmu agama yang lain.

    Pada usia yang masih muda, kira-kira 17 tahun, almarhum hafal di luar kepala kitab-kitab nazam, di antaranya Al Jurumiyyah, Imrithi, Alfiyyah Ibn Malik, Matan Jauhar at Tauhid, Sullam al Munauroq serta Rohabiyyah fi al Faroidl. Dia juga piawai melahap kitab-kitab fikih mazhab Asy Syafi'i, semisal Fathul Qarib, Fathul Mu'in, Fathul Wahhab dan lain sebagainya.

    Belajar di Makkah

    Saat menginjak usia 21 tahun, almarhum menuruti panggilan jiwanya untuk mengembara ke Makkah Al-Mukarromah. Perjalanan ini diiringi oleh kakeknya sendiri, yakni KH Ahmad bin Syu’aib. 

    Tidak hanya satu, semua ulama besar yang menjadi "mata air ilmu agama" dihampirinya guna menimba ilmu. Ulama besar seperti Sayyid Alawi bin Abbas Al Maliki, Syekh Al-Imam Hasan Al Masysyath, Sayyid Amin Al Quthbi, Syekh Yasin bin Isa Al- Fadani, dan Syekh Abdul Qodir Almandily hanya sebagian di antara guru-gurunya.

    Dengan bekal sebanyak itulah, Mbah Moen pulang ke haribaan-Nya. Sungguh sangat indah caranya kembali kepada Sang Pencipta. Allah Swt, seolah memberikan hak prerogatif  untuk memilih waktu kematian, cara, dan tempatnya sekaligus. Jalan yang hanya dimiliki oleh orang-orang spesial.

    Dan Mbah Moen, seakan menjadi bagian di dalamnya. []

    *Segala gagasan dan opini yang ada dalam kanal ini adalah tanggung jawab penulis seperti tertera, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi Medcom.ID. Redaksi menerima kiriman opini dari Anda melalui kolom@medcom.id




    (SBH)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    HOT ISSUE
    MORE

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id