Abdul Mu'thi: Ramadan Menuntut Kita Menjadi Dewasa

    Sobih AW Adnan - 11 Mei 2019 12:32 WIB
    Abdul Mu'thi: Ramadan Menuntut Kita Menjadi Dewasa
    Sekretaris Umum PP Muhammadiyah Abdul Mu'thi/MI/Ramdani
    Jakarta: Bukan sekadar bulan diwajibkannya umat Islam berpuasa, Ramadan menyimpan banyak pesan bagi manusia demi bisa menggapai kualitas lebih baik. Kualitas itu, tidak berbatas pada lingkup individu, akan tetapi mesti berdampak pada lingkungan sosial dan hal-hal lebih luas lainnya.

    Pada Rabu, 8 Mei 2019, Medcom.id berkesempatan berbincang dengan Sekretaris Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Abdul Mu'thi. Kepada kami, intelektual muslim yang kini mengabdi di Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Jakarta itu memaparkan makna dan dampak Ramadan dari sisi sosial, politik, dan kebangsaan.

    Berikut kutipan wawancaranya:

    Hakikat puasa?

    “Shiyam” yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia menjadi puasa, memiliki tiga pengertian. Pertama, pengertian secara bahasa yang merujuk makna menahan dan mencukupkan diri. Kedua, pengertian menurut syariat, yakni niat ikhlas karena Allah swt. untuk meninggalkan makan, minum, hubungan seksual, dan perbuatan lain yang membatalkan puasa dari waktu fajar sampai magrib. Ketiga, pengertian "shiyam" sebagai ibadah, puasa bertujuan untuk mendidik manusia menjadi individu yang bertakwa. 

    Korelasi ketiga makna itu?

    Menahan diri merupakan proses spiritual yang dapat menyelamatkan manusia dari potensi berbuat segala hal yang melampaui batas. Banyak masalah kesehatan, sosial, dan politik terjadi karena manusia berbuat melampaui batas.

    Makan berlebihan akan menimbulkan obesitas dan berbagai gangguan kesehatan. Konsumsi makanan yang melebihi kewajaran juga dapat menimbulkan masalah sampah, pencemaran, krisis energi, dan berbagai masalah lingkungan lainnya.

    Manusia memiliki tabiat posesif yang bisa membuat mereka menjadi rakus, tamak, greedy dan needy, dan terus menerus merasa berkekurangan. Watak ini bisa membuat manusia menerobos dan melanggar aturan dan hukum. Tidak sedikit manusia yang dengan sengaja memakan dan meraih sesuatu yang bersifat haram, baik dari sisi materi, proses, maupun konsumsinya. 

    Manusia juga memiliki kecenderungan hidup mewah, memamerkan diri, dan kekayaan. Sebagian manusia berbuat korupsi bukan karena berkekurangan harta, tetapi lantaran merasa terus berkekurangan. Bukan pula karena miskin harta, tetapi lebih kepada mentalitas. Manusia menjadi kikir karena melulu merasa kurang. Manusia menjadi dermawan apabila merasa cukup dengan harta yang dimilikinya.

    Kerusakan sosial terjadi ketika manusia tidak mampu mengontrol libido seksualnya. Perkawinan berakhir dengan perceraian karena perselingkuhan dan perzinahan. Berbagai penyakit sosial seperti prostitusi dan HIV/AIDS muncul karena seks bebas yang melampauai batas dan melanggar norma susila, hukum agama, dan negara.

    Menahan makan, minum, dan hubungan seksual bukan berarti mematikan tabiat basyariah atau sifat manusiawi, tetapi mengelola agar tetap berada pada koridor hukum dan norma-norma agama dan sosial. 

    Manusia memiliki ego yang bisa mendorong mereka berlaku sombong, marah, dan berkuasa. Ketidakmampuan menahan nafsu bisa membuat manusia menjadi bengis dan menyalahgunakan kekuasaan dengan menindas sesama manusia.

    Itulah hakikat puasa, yakni menahan diri dari makan, minum, hubungan seksual, perkataan dan perbuatan yang mungkar dan haram untuk keselamatan dan kebahagiaan manusia.

    Semua makna tadi bertolok ukur pada sikap pribadi. Bagaimana dengan puasa sebagai pesan sosial?

    Puasa adalah ibadah. Sebagaimana ibadah lainnya, puasa disyariatkan untuk kebahagiaan manusia dan kemaslahatan semesta. Puasa merupakan ritual eskatologis yang memungkinkan manusia membersihkan diri dari segala dosa. Selama berpuasa, manusia membangun keintiman dengan Tuhan dengan memanjatkan doa, membaca Kalam Suci, dan salat. Dengan cara ini manusia menemukan ketenangan spiritual.

    Syariah harus mendatangkan maslahat. Manusia mendekatkan diri kepada Allah swt. dengan membangun kedekatan kepada sesama manusia melalui sedekah, silaturahmi, dan berbagai amalan sosial lainnya.

    Mendekatkan diri kepada Allah swt. bukan dengan mengisolasi diri melainkan dengan bersosialisasi. Mendekatkan diri kepada Ilahi dengan banyak memberi, berbagi rezeki, dan memperbaiki relasi.

    Banyak riset menunjukan sisi religiusitas masyarakat Indonesia kian meningkat, khususnya saat Ramadan. Tapi, anehnya, itu tidak melulu berdampak langsung kepada tata sosial dan keadaban. Kenapa?

    Religiusitas itu merupakan modal sosial, juga spiritual bangsa Indonesia untuk maju dan berkeadaban. Religiusitas adalah kekuatan yang memungkinkan bangsa Indonesia bertahan di tengah berbagai kesulitan. 

    Secara umum, bangsa Indonesia, khususnya umat Islam adalah bangsa yang santun, tertib, toleran, dan berjiwa sosial tinggi. Dalam dua tahun terakhir, bangsa Indonesia adalah bangsa yang paling dermawan. Lembaga-lembaga kemanusiaan dan amal tumbuh pesat seiring dengan meningkatnya kesalehan spiritual dan sosial. 

    Bahwa masih ada kejahatan, kekerasan, korupsi, dan berbagai perbuatan tercela itu tidak bisa dipungkiri. Akan tetapi, secara umum masyarakat memiliki akhlak yang baik. Kehidupan dan harmoni terjalin kokoh.

    Semoga Ramadan tahun Ini bisa menjadi momentum bagi bangsa Indonesia untuk memelihara dan bahkan meningkatkan religiusitas dengan memperbaiki perilaku sosial, legal, dan moral. Semua perlu proses. Seiring waktu, insyaallah bangsa Indonesia akan lebih maju secara spiritual, intelektual, sosial, dan moral.

    Artinya, Ramadan perlu dipahami sebagai proses pendewasaan?

    Ya, ibadah hanya diwajibkan bagi mukalaf alias muslim yang dewasa, berakal sehat, merdeka, dan menerima dakwah. Ibadah itu tumbuh dari ketaatan dan kesadaran internal, bukan karena paksaan, tekanan, dan faktor-faktor eksternal lainnya. 

    Kesadaran internal adalah kualitas iman yang menggerakkan, memberi makna, dan kebahagiaan beribadah. Kedewasaan beribadah ditandai dengan konsistensi dan kemandirian.

    Dalam konteks ini, seorang yang berpuasa tidak perlu meminta proteksi, hak istimewa atau privilege. Misalnya dengan mengurangi jam kerja, menutup rumah makan, meliburkan hiburan, dan sejenisnya. Seorang yang beribadah secara dewasa tidak akan merasa sesak dengan mereka yang tidak berpuasa.

    Dalam ibadah puasa, kedewasaan itu sangat penting. Puasa adalah ibadah yang sangat privat. Secara fisik tidak ada orang lain yang mengetahui apakah seseorang berpuasa dan bagaimana kualitas puasanya. Inilah yang dimaksud oleh hadis "Puasa itu untuk Aku, dan Akulah yang akan memberikan pahalanya.” 

    Puasa melatih manusia untuk disiplin, tabah, sabar, dan jujur. Puasa membentuk manusia yang berkepribadian kuat, tahan uji, dan memegang teguh kebenaran dan keyakinan sehingga berani menegakkan kebenaran dan keadilan walaupun penuh dengan tantangan.

    Ketika sudah berhasil melewatinya selama sebulan, apakah itu yang dimaksud dengan "meraih kemenangan"?

    Benar. Hari kemenangan adalah moment of celebration, atau moment of graduation setelah beribadah selama Ramadan. Akan tetapi, hari kemenangan bukan berarti hari kebebasan. Makna kebebasan dalam kemenangan itu hanya ada pada semangat menjadi individu baru yang terbebas dari dosa. 

    Kemenangan bukanlah titik kulminasi alias titik puncak, tetapi sekadar sebuah maqamat atau jenjang baru yang lebih tinggi. Manusia akan senantiasa berada pada jalan kebenaran dan kebajikan karena mampu mengatasi berbagai halangan dan godaan dalam berbuat kebaikan. 

    Hari kemenangan adalah saat kebenaran tampak benar, tegak, dan mengalahkan kebatilan.

    Yang perlu tetap dirawat setelah Ramadan?

    Idulfitri yang terletak setelah Ramadan, sebenarnya adalah momen dimulainya puasa yang sesungguhnya. Bulan setelah Ramadan adalah Syawal, yang secara bahasa berarti peningkatan. Ibadah yang dilakukan selama Ramadan idealnya tetap dilaksanakan, bahkan ditingkatkan. 

    Pasca-Ramadan hendaknya tetap berusaha menahan diri dari makan, minum, dan hubungan seksual. Kehidupan setelah Ramadan menjadi lebih santun, tidak konsumtif, dan bersahaja. 

    Di tahun  politik ini diperlukan soliditas dan solidaritas sosial, kedermawanan, kejujuran, dan komitmen untuk menjaga kedewasaan, persatuan, dan keterbukaan. 

    Ramadan dan Idulfitri adalah momentum merajut persaudaraan dan perdamaian yang sejati.





    (SBH)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    HOT ISSUE
    MORE

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id