Jusuf Kalla: Ada Pandangan Berbeda, itu Biasa

    Dheri Agriesta - 14 Agustus 2017 20:31 WIB
    Jusuf Kalla: Ada Pandangan Berbeda, itu Biasa
    Wawancara ekslusif Wapemred Medcom.id Khudori dan Wapres Jusuf Kalla di Kantor Wapres, Kamis dua pekan silam./Dheri Agriesta
    Jakarta: Wakil Presiden Muhammad Jusuf Kalla masih terlihat bugar diusianya yang sudah 75 tahun. Tidak pelit dengan senyum. Pembawaan politikus senior Partai Golkar yang sudah dua kali menjabat sebagai Wapres (2004-2009 dan 2014-sekarang) itu pun tampak rileks dan bersahabat.

    "Baik, alhamdulillah," Kalla menjawab sapaan Khudori, Wakil Pempinan Redaksi Medcom.id, yang mewawancarainya di Kantor Wapres, Jalan Kebun Sirih Nomor 14, Jakarta Pusat, Kamis dua pekan lalu. Ikut menemani Khudori, reporter Sjaichul Anwar, Dheri Agriesta serta videografer Hadi Winarno, Gilang Akbar, dan Dimas Prasetyaning.

    Sesekali tersenyum, Kalla lugas meladeni rentetan pertanyaan Mas Dor, awak redaksi Medcom.id biasa menyapa Khudori. Lelaki asal Watampone, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan, itu juga terlihat jauh dari terkejut ketika `ditodong` apakah dirinya akan kembali menyorongkan nama pada Pemilu 2019, seperti dilakukannya terhadap Anies Baswedan, gubernur DKI Jakarta terpilih.

    "Dalam setiap pemilu atau pilkada, seseorang akan memilih siapa yang dekat dengan dirinya. Itu makna demokrasi," kata bapak lima anak itu--Muchlisa Kalla, Solichin Kalla, Muswira Kalla, Chaerani Kalla, dan Imelda Kalla. Kalla juga mengupas panjang lebar tentang makna 72 tahun Indonesia, persatuan, makna demokrasi, dan kegiatan yang akan dilakukannya setelah tak lagi menjabat sebagai Wapres.

    Terima kasih sudah meluangkan waktu. Bagaimana kabarnya Pak?

    Baik, alhamdulillah.

    Tahun ini, Indonesia berusia 72 tahun, apa dan bagaimana pentingnya usia 72 tahun itu?

    Setiap peringatan ulang tahun ataupun Proklamasi Kemerdekaan, tiga hal selalu jadi bagian. Pertama, kita evaluasi apa yang telah dilakukan; kedua, apa yang sekarang kita lakukan; dan ketiga, apa yang akan kita lakukan untuk mengukur atau meningkatkan tujuan kita berbangsa, yaitu mensejahterakan rakyat.

    Kalau kita lihat sampai hari ini, capaian apa yang penting jadi catatan kita?

    Ya tentu banyak capaian berdasarkan rencana, ada yang sudah dicapai dan ada yang belum. Banyak orang mengukur suatu kemajuan itu dengan ukuran. Ekonomi, contohnya. Jadi, pendapatan per kapita ataupun GDP negara per tahun, boleh dikata kita dalam tingkat menengah. Kalau diukur di ASEAN, Singapura, Malaysia, dan Thailand, memang lebih maju dari kita. (Tapi), kita juga di atas negara lain. Jadi, kita masih harus berbuat banyak untuk itu.

    Jusuf Kalla: Ada Pandangan Berbeda, itu Biasa
    Wawancara ekslusif Wapemred Medcom.id Khudori dan Wapres Jusuf Kalla./Dheri Agriesta

    Tahun ini pemerintah mengambil tema peringatan 17 Agustus, Bekerja Bersama dan Bersama Bekerja, itu apa maknanya?

    Maknanya agar kita bekerja baik, harus kompak. Harus bergotong royong, harus saling mengetahui apa yang akan dikerjakan secara bersama, apa tujuan kebersamaan itu. Supaya lebih kuat jalannya.

    Kenapa itu dipilih?

    Ya dipilih karena memang begitu. Karena suatu sistem harus ada kebersamaannya.

    Dalam bahasa populer kerja bersama itu bisa dimaknai dengan gotong royong, misalnya?

    Memang begitu, gotong royong kerja bersama.

    Bagi Kabinet Kerja sendiri bekerja bersama itu seperti apa?

    Kan ada program nasional. Bangsa ini kan besar. Jangan lupa, pemerintah itu terdiri dari pemerintah pusat, pemerintah daerah, lalu kementerian-kementerian, ada program nasional ada program daerah. Semua itu harus menuju kepada satu tujuan, sehingga kita harus kerja bersama-sama, sesuai tugas masing masing.

    Kalau refleksi kabinet, apakah tema ini dipilih karena ada gejala bahwa tidak ada kerja bersama?

    Apa pun keadaannya harus begitu. Dulu ada Kabinet Gotong Royong, Kabinet Persatuan, atau Kabinet Kerja, semua maknanya pemerintah yang dulu juga pikirannya begitu.

    Usia 72 tahun bukan usia muda, tapi hari-hari ini wacana yang ada itu disesaki oleh wacana negatif, seolah-olah negara tidak punya kebanggaan, apakah pak JK merasakan hal itu?

    Ya itu (karena) kita, sekali lagi, negara besar. (Ada) kebebasan sistem informasi. Belum lagi banyaknya media, baik media mainstream, media sosial, atau apa pun. Mereka selalu cari berita positif, juga negatif, dan sistem kita demokratis. Terbuka benar, jadi tidak akan dijumpai. Bahwa banyak hal yang masih perlu dikerjakan, pasti ya. Banyak kritikan, ya kita terima. Karena kritikan itu penting.

    Bagaimana cara pemerintah agar wacana di publik tidak berdampak negatif?

    Pertama, pemerintah berbuat banyak. Ada solidaritas masyarakat. Kedua, media juga tentu harus objektif.

    Usia kemerdekaan kita tidak jauh dengan Malaysia dan Korea Selatan, tapi soal kemajuan kita agak tertinggal dari mereka?

    Kemajuan memang hasil dari suatu kebijakan. Kalau ukurannya hasil sumber daya manusia, alam, dan kerja keras, ya benar Malaysia lebih maju. Kalau ukurannya ekonomi, Korea lebih (di depan Indonesia). Tapi, kita ada di atas Filipina yang merdeka lebih dahulu dari Indonesia. Ada hal yang positif dan hal yang negatif. Dulu, Myanmar itu maju, sekarang dia jauh di bawah. Jadi, ada faktor kebijakan, faktor kerja keras, faktor pengetahuan. Banyak faktor lah.

    Apakah dalam sistem ekonomi, misalnya, kita sampai hari ini kita belum punya pilihan yang tepat?

    Ya, kalau sistem ekonomi kan sejalan dengan sistem politik. Politik itu demokratis, maka sistem ekonomi juga ekonomi yang terbuka. Selalu sejalan itu. Kalau sistem yang di sana itu tertutup, politiknya sosialis, ekonominya kadang-kadang juga monopolistik. Nah, kita memang politik yang demokratis dengan ekonomi terbuka. Itu yang kita jalankan. Itu, menurut saya, pilihan yang tepat. Memang harus begitu dalam kondisi sekarang ini. Bahwa kita tidak mengelola sumber daya alam kita dengan efisien, ya tentu ada masalahnya. Tapi saya kira itu nanti menjadi bagian kita untuk tahun akan datang.

    Apa yang harus dilakukan untuk mengejar ketertinggalan itu?

    Tentu banyak hal. Kembali lagi harus mengerjakan kebijakan-kebijakan yang baik, suatu pemerintah propper, yang baik. Korupsi kita berantas, birokrasi berjalan cepat. Dan, mengelola sumber daya alam yang adil.

    Apakah Kabinet Kerja sekarang lebih banyak membangun infrastruktur untuk mengejar ketertinggalan itu?

    Tidak semua. Di kabinet, membangun infrastruktur itu tugas (Kementerian) Pekerjaan Umum dan (Kementerian) Perhubungan. (Kementerian) yang lain juga mengerjakan tugas, (seperti) meningkatkan pertanian, pendidikan, dan kesehatan. Jadi, tidak hanya infrastruktur. Tapi, memang infrastruktur itu program utama, karena kita tertinggal di situ.

    Jusuf Kalla: Ada Pandangan Berbeda, itu Biasa
    Wawancara ekslusif Wapemred Medcom.id Khudori dan Wapres Jusuf Kalla./Dheri Agriesta

    Di usia 72 tahun, kita kaget karena integrasi kita sebagai bangsa belum selesai. Seperti terlihat dari kasus SARA di Pilkada DKI Jakarta?

    Saya kira kita tidak mengalami disintegrasi yang luas, sama sekali tidak seperti yang Anda katakan itu. Dibanding dengan negara lain, apakah itu di Asia atau Eropa, mereka terpecah-pecah malah. Juga Timur Tengah. Kita bersyukur karena tidak mengalami hal itu. Ada masalah-masalah seperti efek pilkada, itu kan karena demokrasi berjalan. Tapi, ketika selesai, kan selesai. Tidak ada perpecahan. Tidak ada masalah dengan Pilkada Jakarta, masalahnya apa sih? Tidak ada. Bahwa ada pandangan yang berbeda itu biasa saja, itulah makna demokrasi.

    Di permukaan memang kelihatannya tidak ada masalah, tapi di bawah permukaan?

    Saya tidak yakin ada itu. Di mana sih ada konflik? Tidak ada kan. Tidak ada apa-apa, orang tetangga yang berbeda pilihan sekarang baik-baik semua, enggak ada. (Tidak seperti) Pakistan dan Malaysia, panjang-panjang masalahnya. Ini kan tidak ada, tidak ada korban pada Pilkada Jakarta. Beda dengan di Filipina, kita kan tidak otoriter.

    Terbukti Pak, isu SARA mudah sekali dimanfaatkan dalam pilkada?

    Oh iya, karena itu kita larang isu SARA. Bahwa masyarakat di bawah punya pengertian berbeda, jangan lupa, setiap pemilihan umum atau  pilkada orang akan memilih yang dekat dengan dia. Sama, katakanlah, ideologi dan sukunya. Itu normal saja. Di dunia mana pun itu terjadi.

    Tapi, ini sepertinya akan dimanfaatkan dalam pemilu serentak, termasuk isu tentang kemiskinan?

    Wah, kemiskinan bukan isu SARA. Jangan lupa, lihat Amerika Serikat, negara yang menganggap dirinya sangat demokratis, tapi isu agama tetap dimainkan. Jadi, mana yang lebih baik, kita atau Amerika? Jadi isu itu sering terjadi, tapi kita justru lebih baik dibanding banyak negara, termasuk Amerika.

    Periode kedua sebagai Wapres, kalau sudah berakhir kira-kira apa rencana Bapak?

    Saya mau istirahat, mau sama anak-anak, cucu, dan keluarga.

    Hanya itu?

    Oh iya, mungkin, saya tetap ada urusan urusan sosial, pendidikan, dan agama pasti. Saya masih Ketua Dewan Masjid, masih urus PMI (Palang Merah Indonesia), masih urus pendidikan. Itu bagian dari tugas saya, di samping, mungkin, diminta ceramah, diminta kasih kuliah di mana-mana. Itu saya alami lima tahun lalu. Nah, sekarang saya kira mungkin seperti itu lagi, menulis buku.

    Termasuk mendorong tokoh politik tertentu untuk masuk ke arena politik, seperti yang Bapak lakukan terhadap Anies Baswedan?

    Tergantung keadaannya, ya tentu seperti di DKI karena saya tahu dia lebih mampu daripada yang lain, itu masalah keyakinan masing masing. Saya kira itu masalah demokratis, orang memilih apa yang mereka percayai, itu masalah demokratis.

    Saran pak Kalla terhadap Setya Novanto?

    Konsekuensi sebagai politisi, tentu ada etika. Politisi atau partai tidak bisa bergerak tanpa ada trust (kepercayaan) dari masyarakat. Kalau masyarakat kehilangan trust, partai apa pun pasti akan menurun. Karena itu, kepada siapa pun yang (tersangkut) permasalahan hukum harus memahami arti trust serta etika itu.

    Apa ini bisa diartikan pak Kalla menghendaki Setya Novanto mundur?

    Saya tidak punya hak untuk minta (Setya Novanto) mundur. Ya dia sendiri, orang itu harus memahami diri dia sendiri.

    Terima kasih pak JK

    Ya, terima kasih.



    (ICH)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    HOT ISSUE

    MORE
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id