Politik Optimisme Vs Pesimisme

    Sobih AW Adnan - 16 Oktober 2018 21:08 WIB
    Politik Optimisme Vs Pesimisme
    Ilustrasi: Debat/Medcom.id/M.Rizal
    Jakarta: Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019 adalah perkara masa depan. Masing-masing orang dari warga negara berhak menjatuhkan pilihannya kepada sesiapa yang dianggap pantas untuk memimpin di periode mendatang.

    Rekam jejak, memang menjadi salah satu media takar kepantasan tersebut. Namun gagasan dan semangat menjadikan nasib bangsa lebih baik menjelma sesuatu yang tak bisa ditawar.

    Dari sini, bisa sedikit disimpulkan bahwa prasyarat kepemimpinan Indonesia adalah diisi oleh jiwa-jiwa yang menyimpan penuh rasa keoptimisan. Bukan figur yang mudah gentar, atau melulu mencemaskan kondisi negara di hari kemudian.

    Psikologi politik

    Psikolog dunia Florence Littauer dalam Personality Plus (1983) membagi corak kepribadian manusia ke dalam empat  jenis.

    Kelompok pertama yang adalah manusia dengan kepribadian sanguinis. Tipe ini merujuk pada sikap seseorang yang gemar hidup bersenang-senang. Orang-orang sanguinis, akan sukses dalam pekerjaan yang bersifat fleksibel, tidak senang terikat, terlebih diatur secara ketat.

    Jenis kepribadian kedua adalah melankholis. Ia lebih menginginkan untuk mengerjakan sesuatu yang dianggap sempurna. Kepribadian melankholis akan membawa seseorang kepada angan-angan yang serba selaras dan teratur.

    Ketiga, kepribadian koleris. Coraknya, mirip sanguinis. Mereka adalah orang-orang yang tidak memiliki rasa takut dan dipenuhi rasa percaya diri serta optimisme yang kuat. Hanya saja, koleris tak begitu memedulikan pentingnya kekuatan jaringan sosial. Ia, lebih gemar sendirian.

    Keempat, kepribadian plegmatis. Seseorang dengan pola kepribadian ini punya sikap lebih tenang, damai, dan tidak gampang emosional saat berhadapan dengan sebabak konflik, ataupun krisis.

    Lepas dari sisi kelebihan dan kekurangan masing-masing karakter, paling tidak, kata Littauer, tipe-tipe kepribadian itu tetap memiliki kontrol untuk mengurangi nilai-nilai negatif yang dimiliki agar tidak terlalu menonjol.

    Littauer juga mengatakan, pemetaan watak ini, sebagian besar berhubungan dengan pertimbangan-pertimbangan kepemimpinan.

    "Termasuk ketika seseorang tampil di pangung politik," tulis dia.

    Atas daya kelola yang apik, yang bertahan dan tampak dalam diri kepribadian itu adalah semangat untuk berharap menjadi lebih baik. Gagasan optimisme ini lantas menjadi modal utama dalam dunia politik.


    Profesor psikologi Amerika Serikat (AS) Suzanne Segerstrom dalam Optimism is Associated with Mood, Coping, and Immune Change in Response to Stress yang dimuat dalam Journal of Personality and Social Psychology (1998) menjabarkan, yang dimaksud optimisme adalah cara berpikir positif dan realistis dalam memandang masalah.

    "Berpikir positif adalah berusaha mencapai hal terbaik dari keadaan terburuk," tulis Segerstrom.

    Pertempuran batin

    Lantas, bagaimana jika sisi pesimisme tetap lebih menonjol?

    Ya, politik amat mungkin membuat segalanya terjadi. Semangat optimisme yang mestinya jadi peluru utama, tak sedikit pula figur publik yang terkesan lebih memanfaatkan sisi sebaliknya.

    Cara-cara yang digunakan politisi berkepribadian jenis ini adalah dengan menularkan gagasan dan perasaan yang dimilikinya. Dalam jenjang dan frekuensi tertentu, malah menjelma semacam ideologi politik.

    Tokoh dengan mazhab pesimisme terkesan gemar menebar ketakutan, gambaran masa depan yang suram, akan tetapi tanpa disertai serangkaian solusi sebagai jalan keluar dari masalah. Meskipun di sisi lain, teknik tersebut digencarkan demi menjadikan si penyampai seolah-olah sebagai satu-satunya pemilik jawaban.

    Sedangkan menurut Direktur Lembaga Survei Politik Voxpol Pangi Syarwi Chaniago, gelombang pesimistis yang dimanfaatkan sebagai bahan kampanye bisa berimbas negatif pada dua hal.

    Dalam skala negara, kata dia, secara tidak langsung bisa merendahkan masyarakat setempat karena di anggap tidak mampu menghadapi kesulitan. Kedua, corak kampanye pesimisme belum tentu mampu meraup banyak dukungan karena umumnya tidak terbukti bisa mengambil simpati masyarakat.

    "Karena pesimisme justru akan menimbulkan sentimen negatif bagi publik," kata Pangi, Selasa, 3 April 2018 lalu.

    Dalam kesimpulannya, psikologi politik mesti berjalan sesuai dengan semangat personal kandidat. Keyakinan seseorang untuk memenangi pemilihan, harus sama imbangnya dengan gambaran dan harapan bangsa di masa depan.

    Dengan begitu, calon pemimpin yang baik adalah figur yang tak mengidap benturan optimisme versus pesimisme dalam dirinya sendiri. Memimpin adalah kebulatan tekad dan rasa yakin, tanpa terganjal pergulatan batin.   





    (SBH)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    HOT ISSUE

    MORE
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id