Menimbang Rekam Jejak

    Damang N Lubis - 17 Januari 2019 11:21 WIB
    Menimbang Rekam Jejak
    Menimbang Rekam Jejak
    DEBAT perdana calon presiden (capres) dan calon wakil presiden (cawapres) yang digelar pada malam ini diharapkan mengedepankan sisi kualitas agar kampanye pemilu bisa naik kelas.

    Kampanye pemilu belumlah naik kelas sehingga mendapat sorotan tajam, sangat tajam. Disorot, karena sejak kampanye digelar pada September tahun lalu lebih banyak mengumbar ketakutan dan pesimisme disertai penyebaran informasi bohong.

    Narasi optimisme diharapkan lahir dalam debat perdana dari rangkaian lima kali debat. Perdebatan, memang, mengandung semacam sihir. Terlebih apabila debat itu tak cuma menunjukkan ketajaman lidah, tapi juga ketajaman pikiran. Tajam pikiran dalam menjelaskan visi, misi, dan program. Bukan cuma tajam lidah merendahkan lawan debat.

    Publik tentu saja punya ekspektasi besar pada kedua pasangan capres dan cawapres. Pasangan nomor urut 01 Joko Widodo-Ma’ruf Amin dan pasangan nomor urut 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Uno. Mereka diharapkan menyampaikan komitmen yang sungguh-sungguh terkait dengan tema debat yang mengangkat penegakan hukum, korupsi, HAM, dan terorisme.

    Melalui debat juga bisa diketahui apakah sang calon presiden memiliki kesanggupan untuk dikritik atau tidak. Seberapa besarkah ia memiliki ruang untuk menerima perbedaan pendapat. Di forum debat itulah kontestan menjual gagasan, merebut hati dan pikiran publik, untuk kemudian keluar sebagai pemenang yang terhormat.

    Akan tetapi, ketajaman lidah dan pikiran saja belumlah menjadi modal utama untuk menjadi presiden. Debat bukanlah ukuran mutlak untuk dipilih atau tidaknya pasangan calon karena lidah dan pikiran sering menyembunyikan kebajikan.

    Kebajikan bisa ditelusuri lewat rekam jejak calon. Rekam jejak itu berkorelasi dengan karya yang sudah dilakukan dan bisa diukur, bukan sebatas janji yang disampaikan. Rekam jejak itu bisa ditelusuri dari beberapa aspek, di antaranya lingkungan keluarga, riwayat kerja, dan riwayat kepemimpinan.

    Memilih presiden itu tak cukup hanya bermodalkan populer karena mampu berorasi dengan suara lantang dan menggelegar. Apalagi, di zaman now, orang dengan mudah melakukan berbagai teknik presentasi untuk membuat target audiens tertarik, percaya, dan pada akhirnya menetapkan pilihan. Termasuk melakukan bluffing, menggunakan informasi dan data palsu alias hoaks, atau mengumbar janji-janji sekalipun hal itu tidak mungkin dapat dipenuhi dalam realitas.

    Karena itu, menilai capres dan cawapres semata dari debat sangat rentan terhadap ketersesatan berpikir. Kandidat boleh saja menjual visi-misi, program, dan rencana aksi setinggi langit. Namun, publik dapat melihat kesesuaian dan konsistensinya dengan melihat dan membandingkan apa saja yang mereka jual dengan rekam jejak yang telah mereka perbuat.

    Yang perlu ditelusuri dari rekam jejak mereka ialah apa saja yang telah mereka capai selama mereka menjadi pejabat publik, misalnya. Seperti apa pula kinerja mereka, seberapa tinggi prestasi mereka. Yang tidak kalah penting ialah menelusuri rekam jejak dalam mematuhi hukum dan perundangan yang berlaku.

    Dalam kaitan dengan tema debat, yakni hukum, HAM, korupsi, dan terorisme, misalnya, masyarakat perlu menelusuri rekam jejak para capres-cawapres, apa saja prestasi mereka di bidang tersebut. Perlu pula ditelusuri, apakah mereka pernah melakukan pelanggaran atau memiliki rekam jejak yang tercela di bidang-bidang tersebut.

    Pemilih yang cerdas tentu akan mencari pemimpin paripurna, yang tak hanya mampu menyinergikan antara kata dan perbuatan, tetapi juga mampu mendiagnosis, menawarkan solusi sekaligus menggerakkan rakyat untuk bersama-sama menyelesaikan segala problem kebangsaan. Pemimpin yang menyatukan, bukan mencerai-beraikan.

    Presiden yang ideal ialah seorang pemimpin yang tegas berintegritas dan mampu memelihara persatuan dan kebinekaan bangsa. Rekam jejaknya jelas, tidak cacat hukum, etika, nalar, dan moral. Jangan sekali-kali memilih pemimpin yang menghalalkan segala cara untuk mencapai kemenangan. Periksa secara saksama rekam jejak mereka karena rekam jejak tidak pernah menipu.



    (COK)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    HOT ISSUE

    MORE
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id