Bedah Editorial MI: Bijak Menilai Debat

    18 Januari 2019 08:31 WIB
    Bedah Editorial MI: Bijak Menilai Debat
    Editorial MI
    DEBAT perdana dua pasangan calon presiden dan calon wakil presiden sudah digelar di Hotel Bidakara, tadi malam. Perdebatan relatif seru terjadi hampir di sepanjang sesi debat terkait dengan tema hukum, korupsi, hak asasi manusia (HAM), dan terorisme tersebut.

    Melampaui ekspektasi bahwa pasangan nomor 01 Joko Widodo-Ma'ruf Amin yang notabene merupakan petahana ternyata tak hanya defensif menerima serangan dari pasangan penantang mereka nomor 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Salahudin Uno. Sesekali bahkan Jokowi dengan cukup taktis melakukan serangan balik atas pernyataan Prabowo ataupun Sandiaga yang dianggapnya menohok pemerintahan saat ini, terutama saat sesi perdebatan tentang hukum.
    Secara garis besar, debat kali ini masih memperlihatkan dua sisi yang selama ini memang menjadi perbedaan utama di antara kedua pasangan calon. Jokowi-Amin lebih menyuarakan optimisme, sedangkan Prabowo-Sandi lebih banyak menonjolkan kekurangan-kekurangan Republik ini, yang kemudian terkesan cenderung membawa pesan pesimisme.

    Namun, di luar persoalan konten, ada sisi menarik lain dari gelaran debat perdana dari lima seri debat Pilpres 2019 tersebut. Antusiasme masyarakat terhadap debat ternyata sangat tinggi. Itu bisa dilihat dari acara nonton bareng (nobar) yang digelar di mana-mana. Dari warung makan pinggir jalan sampai restoran mahal. Dari balai warga hingga kediaman wakil presiden.

    Dalam perspektif penguatan demokrasi, antusiasme tinggi terhadap debat itu jelas melegakan. Bagaimanapun debat ialah proses yang meninggikan rasionalitas. Debat yang ideal, yang di situ mempertontonkan perdebatan substantif, adu gagasan yang solutif, serta laga komunikasi persuasif, tak bisa dimungkiri merupakan proses yang dihasilkan dari pikiran-pikiran rasional. Hasil akhirnya pun mestinya ialah pilihan yang rasional, bukan pilihan yang semata didasari emosional, apalagi fanatisme buta.

    Karena itu, ketika orang mau berduyun-duyun mendatangi lokasi debat, nobar debat, atau minimal menonton di televisi rumah masing-masing dengan saksama, kita patut berharap demokrasi di negeri ini tengah mengejar level rasionalitasnya. Bagi Republik, ini jauh lebih penting ketimbang terus memperdebatkan sejauh mana pengaruh debat capres dan cawapres itu terhadap elektoral kandidat yang sedang bertanding.



    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    HOT ISSUE
    MORE

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id