comscore

Penjelasan Singapura Soal Penolakan UAS Dinilai Tidak Cukup

Theofilus Ifan Sucipto - 22 Mei 2022 12:54 WIB
Penjelasan Singapura Soal Penolakan UAS Dinilai Tidak Cukup
Politikus Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Nasir Djamil. Medcom.id/Theo
Jakarta: Politikus Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Nasir Djamil menilai penjelasan penolakan Ustaz Abdul Somad (UAS) ke Singapura tidak cukup. Kedutaan Besar Singapura untuk Indonesia diminta memaparkan alasannya dengan detail.

“Dalam rangka menjaga hubungan baik Indonesia dengan Singapura, jelaskan apa sebenarnya yang membuat mereka tidak mengizinkan UAS masuk,” kata Nasir dalam diskusi virtual Crosscheck Medcom.id bertajuk ‘UAS Ditolak Singapura, Jangan Jadi Gaduh di Indonesia,’ Minggu, 22 Mei 2022.
Nasir menyebut penjelasan detail penting agar masyarakat Indonesia paham. Sehingga, masyarakat bisa menilai apakah alasan tersebut jujur atau dibuat-buat.

Nasir menilai penolakan UAS ke Negeri Singa merupakan pesanan. Nasir menduga ada personal, kelompok, bahkan negara yang terganggu dengan ceramah-ceramah UAS.

“Tapi sekali lagi, kita menghormati Singapura, Singapura juga harus menghormati Indonesia,” papar anggota Komisi III itu.

Nasir keberatan dengan masalah yang menimpa UAS. Sebab, UAS hanya seorang penceramah dan bukan koruptor atau bandit.

“Jadi ini ada beda perlakuan antara UAS dan koruptor yang lari ke Singapura. Kita lihat koruptor masuk tapi tidak dicegat,” tutur dia.

Baca: Penjelasan Singapura Soal Penolakan UAS Berbuntut Panjang

Sebelumnya, UAS mengaku dideportasi dari Singapura. Ia tak tahu alasannya dideportasi.

"Info bahwa saya dideportasi dari Singapura itu sahih, betul, bukan hoaks," ucap UAS dalam YouTube hai guys official, Selasa, 17 Mei 2022.
 
UAS pergi ke Singapura bersama lima orang lainnya. Yakni, keluarga sahabatnya serta istri dan anaknya. "Saya berangkat Senin siang dari Batam pada 16 Mei 2022, sampai di Pelabuhan Tanah Merah pukul 01.30 waktu Indonesia," terang dia.

Kementerian Dalam Negeri (MHA) Singapura mengonfirmasi menolak kedatangan UAS. Alasannya karena ia dinilai kerap menyebarkan ajaran ekstremisme.
 
"Somad dikenal menyebarkan ajaran ekstremis dan segregasi (atau pemisahan), yang tidak dapat diterima di masyarakat multi-ras dan multi-agama seperti Singapura," kata MHA dalam pernyataan tertulisnya, Selasa, 17 Mei 2022.
 
Misalnya, kata MHA, Somad mengatakan, bahwa bom bunuh diri adalah sah dalam konteks konflik Israel-Palestina, dan dianggap sebagai operasi 'syahid'.

(AZF)

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

 

 

 

Komentar

LOADING
Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

  1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
  2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
  3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
  4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

Anda Selesai.

Powered by Medcom.id