Jihad Politik tak Tercantum dalam Alquran

    Arga sumantri - 26 Mei 2019 22:27 WIB
    Jihad Politik tak Tercantum dalam Alquran
    Diskusi dalam rangka peringatan Nuzulul-quran di Kantor PDI Perjuangan, Lenteng Agung, Jakarta Selatan. Medcom.id/ Arga S
    Jakarta: Pakar Tafsir Universitas Profesor Hamka Izaa Rahma Nahrawi menyebut jihad dalam konteks politik praktis bagi umat Islam tidak tercantum dalam Alquran. Kitab suci tersebut justru memberikan pesan bahwa umat muslim harus memprioritaskan perdamaian. 

    "Ayat-ayat yang berbicara tentang jihad di dalam Alquran juga tidak pernah menyebutkan membunuh di jalan Allah SWT," kata Izaa dalam diskusi bertajuk Pesan Perdamaian Dalam Alquran di Kantor PDI Perjuangan, Lenteng Agung, Jakarta Selatan, Minggu, 26 Mei 2019. 
    Menurut dia banyak kalangan yang mengutip ayat Alquran dengan tujuan untuk memprovokasi umat Islam berperang demi kepentingan pribadi. Izaa meyakini apabila ayat Alquran tidak dikutip serampangan, maka umat muslim tidak akan terpengaruh untuk perang.

    "Dalam Alquran jihad selalu di jalan Allah, harus lurus, tujuannya harus benar bukan jihad untuk politik, kekuasaan, kepentingan atau ekonomi," papar dia.

    Ia menjelaskan makna jihad dalam Alquran selalu ke arah positif. Apabila diterjemahkan dengan cara tidak benar, maka hal itu akan menyalahi konsep fisabilillah atau berjuang di jalan Allah. Karena itu, semua pihak harus mempelajari Alquran secara holistik.

    "Ada perintah berperang di jalan Allah, tapi tidak ada membunuh di jalan allah. Itu tidak ada dalam Alquran. Terbunuh di jalan Allah, ada," kata Izaa.

    Sementara itu, Direktur Eksekutif Lembaga Studi Agama dan Filsafat Iqbal Hasanuddin mengatakan banyak pihak memaham jihad sebagai perintah untuk berperang. Padahal, kata dia, Alquran juga lebih banyak memuat ayat soal perdamaian.

    "Menurut saya pesan utama Alquran adalah perdamaian. Sementara ayat-ayat jihad tidak bisa ditafsirkan sebagai perintah perang, melainkan ajaran tentang merawat jiwa atau jihad an-nafsi," kata Iqbal.

    Ketua DPP PDI-Perjuangan Bidang Agama Hamka Haq memandang untuk menghindari konflik saat ini, setiap pihak harus tabayyun atau mencari kejelasan dengan mengonfirmasi berita-berita tidak jelas asal muasalnya. Kemudian, tidak boleh setiap orang mengolok-olok individu atau kelompok lainnya karena bisa memicu konflik.

    "Jauhilah persangkaan buruk. Hindari opini-opini yang membentuk kebenaran. Itulah sumber konflik sebenarnya," jelas Hamka.

    Sekretaris Jenderal PDI-Perjuangan Hasto Kristiyanto menyebut sebuah ayat Alquran memuat istilah Iqra yang menganjurkan umat Islam untuk membaca. Hasto meyakini membaca Alquran juga tidak hanya berbicara tentang teks, tetapi konteks yang termakna di baliknya. 

    Hasto juga mengajak semua pihak untuk membaca suasana kebatinan rakyat saat ini. Seperti pesan Ketua Umum PDI-Perjuangan Megawati Soekarnoputri, kata Hasto, tujuan berbangsa adalah persatuan dan perdamaian. 

    "Kita adalah bangsa religius di mana upaya kita menyembah Tuhan. Sepakat perbedaan itu adalah anugerah. Mari kita bersama-sama menjadikan keseluruhan keimanan kita masing-masing mewujudkan persaudaraan kita," tutur dia.

    Diskusi ini merupakan rangkaian peringatan Nuzululquran yang diselenggarakan Bamusi PDI-Perjuangan. Dalam acara ini, PDI-Perjuangan juga memberikan santunan dan buka puasa bersama dengan anak yatim piatu berserta warga sekitar. Acara buka puasa bersama itu digelar di masjid baru yang didirikan PDI-Perjuangan di kantornya di Lenteng Agung.



    (SCI)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id