comscore

Jokowi Tak Ingin Pandemi Hentikan Transformasi Besar Bangsa

Andhika Prasetyo - 17 Januari 2022 12:56 WIB
Jokowi Tak Ingin Pandemi Hentikan Transformasi Besar Bangsa
Presiden Joko Widodo/Biro Pers Sekretariat Presiden.
Jakarta: Pandemi covid-19 tidak boleh menghentikan transformasi besar Indonesia. Presiden Joko Widodo (Jokowi) ingin tantangan dihadapi dengan baik, bahkan dijadikan batu loncatan menggapai target pokok yang ditetapkan.

"Tetap harus terus berjalan transformasi besar yang kita lakukan," kata Jokowi dalam pidatonya pada Dies Natalies ke-67 Universitas Katolik Parahyangan, di Bandung, Jawa Barat, Senin, 17 Januari 2022.

 



Jokowi mengatakan ada tiga transformasi, yakni di industri hilir, ekonomi hijau, dan ekonomi digital. Terobosan dilakukan di transformasi industri hilir dengan tidak mengekspor bahan mentah sejak 2020.

"Sudah berapa ratus tahun kita hanya mengirim bahan mentah? Sejak zaman VOC. Oleh karena itu, sekarang tidak bisa lagi seperti itu. Kita ingin nilai tambah ada di Tanah Air," kata dia.

Baca: Jokowi: Pancasila Kunci Tangani Pandemi Covid-19

Jokowi mengungkapkan ekspor bahan tambang separuh jadi memberikan nilai tambah sangat besar. Dia mencontohkan Indonesia yang mengantongi USD1 miliar atau Rp14 triliun saat ekspor nikel mentah tujuh tahun lalu.

Pada 2020, Indonesia mengantongi USD20,8 miliar atau Rp300 triliun ketika mengekspor olahan nikel. "Dari Rp15 triliun ke Rp300 triliun itu sangat besar. Kita juga membuka lapangan kerja yang banyak sekali," kata Jokowi.

Dia mengakui banyak tantangan terkait transformasi ini, termasuk pertentangan dari negara yang membeli nikel dari Indonesia. Namun Jokowi menyatakan tidak takut, bahkan dia siap menghadapi negara-negara yang mengadukan Indonesia ke organisasi perdagangan dunia (WTO). 

Di sisi lain, Jokowi juga memaparkan transformasi ekonomi hijau yang terus dikebut. Indonesia tengah membangun sebuah kawasan industri di Kalimantan Utara yang didesain ramah lingkungan.

"Ini budaya baru yang didukung ekosistem hijau di dunia. Di Eropa, kalau dihasilkan dari produksi energi hijau, itu akan dihargai lebih tinggi. Kita punya kekuatan di sini, modal besar untuk menghasilkan produk-produk hijau," terang Jokowi.

Modal besar yang ia maksud adalah sumber energi baru terbarukan (EBT) yang begitu melimpah. Jokowi menyebut Indonesia memiliki potensi EBT 418 ribu megawatt yang berasal dari sungai, arus bawah laut, geotermal dan angin yang bisa dikembangkan secara maksimal.

Sementara itu, transformasi besar yang terakhir ada di sektor ekonomi digital. Indonesia, sambung Jokowi, memiliki potensi dan pasar yang sangat besar di industri tersebut. Perkembangan sektor digital di Tanah Air juga jauh lebih pesat dibandingkan negara-negara lain.

"Di 2025, nilai pasar digital kita akan mencapai USD146 miliar. Ada potensi Rp2.100 triliun yang bisa kita raih," ucap presiden.

Pemerintah berkomitmen terus membangun infrastruktur pendukung transformasi digital. Di 2021, pemerintah telah memulai konstruksi satelit multifungsi Satria-1. Sebanyak 12.500 base transceiver station (BTS) juga tengah didirikan di belasan ribu desa dan kelurahan yang belum memiliki akses 4G.

"Yang terpenting juga adalah pengembangan sumber daya manusia (SDM). Tanpa ada SDM yang baik, saya ragu urusan ini akan bisa melompat. Saya minta institusi pendidikan tinggi membantu para mahasiswa mengembangkan talenta mereka. Jangan dipagari terlalu banyak program studi yang sudah usang," kata Jokowi.

(ADN)

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

 

 

Komentar

LOADING
Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

  1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
  2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
  3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
  4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

Anda Selesai.

Powered by Medcom.id