Pemisahan Pileg dan Pilpres Bisa Hilangkan Dominasi Parpol Besar

    Whisnu Mardiansyah - 11 Desember 2019 15:30 WIB
    Pemisahan Pileg dan Pilpres Bisa Hilangkan Dominasi Parpol Besar
    Ilustrasi. Foto: Dok/Medcom
    Jakarta: Pengamat Politik Universitas Islam Negeri (UIN) Syarief Hidayatullah Jakarta Adi Prayitno mengatakan, pemisahan pemilu legislatif (Pileg) dan pemilu presiden (Pilpres) membuka peluang masuknya capres-capres potensial. Pilpres tidak lagi didominasi dua partai besar pemenang pemilu.

    "Calon-calon potensial di luar (parpol) terbuka. Justru kalau Pileg dan Pilpres ini pisah maka tidak akan ada partai-partai yang secara dominan dan mayoritas mendapatkan keuntungan elektoral," kata Adi kepada Medcom.id, Rabu, 11 Desember 2019.

    Pemilu serentak kemarin dinilai hanya menguntungkan partai-partai yang memiliki kader di Pilpres 2019. Wajar apabila PDIP dan Partai Gerindra yang paling diuntungkan dengan menempati urutan pertama dan kedua perolehan suara di Pileg 2019 kemarin.

    Dengan dipisahkan, partai-partai menengah secara perolehan suara bisa memiliki daya tawar lebih mengusung capres di luar kader. Pasalnya, penentuan pasangan capres/cawapres baru bisa diketahui dari hasil perolehan suara di Pileg.

    "Dukungan partai juga akan tidak akan bermuara pada satu partai politik tertentu hal itu cukup terbuka," terang Adi.

    Polarisasi yang cukup tajam di Pemilu serentak 2019 kemarin cukup menjadi pelajaran. Segregasi dan polarisasi terpecah jika kandidat pasangan capres dan cawapres lebih beragam.

    "Makanya digodoknya kembali Pileg dan Pilpres terpisah karena di situ karena dia diharapkan juga akan muncul calon-calon alternatif. Itu jauh lebih bagus menurut saya sehingga menu politik tentang kandidasi Pilpres semakin dinamis," jelasnya.

    Sebelumnya, DPR disebut akan merevisi Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2017 Tentang Pemilihan Umum (Pemilu). Wakil Ketua Badan Legislasi (Baleg) DPR Willy Aditya menyebut revisi menyasar wacana pemisahan pemilihan legislatif dengan pemilihan presiden.

    "(Pemisahan pileg dan pilpres) hampir sepakat semua (fraksi)," kata Willy kepada Medcom.id, Selasa, 10 Desember 2019.

    Anggota Parlemen menilai pemisahan pileg dan pilpres mendesak dibahas setelah melihat Pemilu 2019. Ia mengatakan penyelenggara memiliki beban berat saat menyelenggarakan pemilu serentak pertama di Indonesia itu.

    "Walaupun itu (pemilu serentak) baru pertama, tapi kita harus belajar lah ya untuk kemudian melakukan koreksi, melakukan evaluasi," tegas Willy.



    (MBM)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id